Salam belas kasih,
Saudari dan saudara yang budiman, umat se-keuskupan Padang dan para pembaca GEMA yang dikasihi Tuhan. Pada tanggal 3 Juli 2021, setahun yang lalu, di Gereja Katedral Padang diumumkan secara resmi nama saya sebagai uskup terpilih untuk Keuskupan Padang. Setahun kemudian, pada tanggal 3 Juli 2022, umat Paroki St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus, Katedral Padang menyelenggarakan perayaan pesta perak imamat saya. Tahbisan imamat saya tepatnya jatuh pada tanggal 7 Juli, namun persis pada tanggal itu saya diundang ke Klaten, Jawa Tengah, untuk perayaan bersama dua rekan imam projo Keuskupan Agung Semarang yang dahulu ditahbiskan bersama saya.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kasih sayang umat paroki Katedral Padang khususnya, serta dukungan dan doa umat Keuskupan Padang seluruhnya sejak pemberitaan resmi dari Paus Fransiskus itu. Sungguh, saya percaya akan kekuatan doa dari Anda sekalian yang sangat saya butuhkan untuk dapat menggembalakan umat di wilayah seluas ini. Maka pada kesempatan ini juga saya memohon maaf karena masih banyak umat paroki di wilayah Sumatera Barat dan Riau Daratan ini, belum sempat saya kunjungi selama setahun ini. Terima kasih sebesar-besarnya kepada para tamu dan sahabat yang sudah datang berkunjung ke Wisma Keuskupan, tetapi mohon maaf juga pada banyak yang masih belum dapat saya temui karena kesibukan saya. Semoga semua doa yang merupakan kerinduan dan harapan umat ini kiranya dapat terwujud dalam waktu dekat.

Bukan Kamu yang Memilih Aku… (Yoh 15:16)

Mengenang seluruh perjalanan imamat ini, sesudah duapuluh lima tahun, saya merasa rahmat Tuhan terlalu besar bagi saya yang tidak pantas ini. Sesungguhnya, Dialah yang tetap setia dengan kenyataan jatuh bangun yang saya alami. Empat tahun pertama langsung sesudah tahbisan imam, saya jalani di negeri orang, dalam ketekunan dalam tugas studi menggeluti sabda Tuhan, sambil menghayati kesendirian di Roma, London, Paris dan Yerusalem. Sesudah pengalaman imam balita yang sangat internasional itu saya masih menemukan diri saya di lingkungan akademik, menjadi dosen selama lima tahun di Jakarta sambil membantu di rumah pembinaan para frater Xaverian, sampai Serikat Misionaris Xaverian mengutus saya kembali ke Roma untuk mengambil program Doktoral di bidang Teologi. Sesudah perjuangan yang cukup lama, enam tahun kemudian saya berhasil menyelesaikan dan menerbitkan disertasi saya. Kembali dari Roma, saya mendapat kesempatan untuk menikmati pelayanan pastoral langsung di satu paroki di Jakarta, tetapi tetap dalam kapasitas sebagai dosen juga. Hanya dua setengah tahun saja pengalaman pastoral di paroki itu saya jalani, namun kesannya sangat mendalam. Saya kembali ditugaskan di rumah pembinaan., sambil terus menjadi dosen. Enam tahun hampir berlalu, ketika saya sudah mempersiapkan diri untuk satu tahun “sabatikal,” beristirahat sambil mengusahakan penyegaran rohani, datanglah panggilan dari Roma itu untuk menjadi uskup Padang.

Saya memang tidak pernah menolak tugas-tugas yang diberikan pada saya, dan tidak pernah menyesal juga mengungkapkan kesediaan pada setiap penugasan itu. Karena saya percaya saja pada sabda-Nya, seperti motto yang saya pilih dalam upacara tahbisan imam duapuluh lima tahun yang lalu itu: “Bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap…” (Yoh. 15:16). Jelas, banyak kesalahan dan kekurangan dari buah-buah pengabdian imamat saya ini, masih banyak hal yang jauh dari sempurna, bahkan beberapa masih tinggal sebagai “hutang” tanggung jawab yang harus saya selesaikan. Namun sekali lagi, pengalaman demi pengalaman itu tidak mengalir begitu saja, melainkan pelan-pelan membentuk satu benang merah yang membantu saya untuk merenungkan karya Tuhan dalam kehidupan saya, bagaikan menyusun satu lukisan yang terdiri dari puzzle yang kecil-kecil saling berkaitan.

Allah Turut Bekerja dalam Segala Sesuatu… (Rom. 8:28)

Sesungguhnya, tidak ada satu pun yang kebetulan bagi orang beriman. Bahkan pengalaman pahit yang paling buruk sekali pun, memiliki maknanya tersendiri, tempatnya yang sudah serasi demikian dalam sejarah hidup kita yang sudah tertulis di tangan-Nya. Mengenang kembali kata-kata doa yang terungkap dalam setiap upacara “pentakdisan” atau upacara pentahbisan: “Semoga Tuhan yang telah memulai yang baik dalam dirimu, menyempurnakannya sampai akhir” (bandingkan Fil. 1:6 “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus”), rasanya tidak salah kalau dalam kesempatan pesta perak imamat ini saya mengutip kembali keyakinan Rasul Paulus itu dengan kata-katanya yang lain: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Rom. 8:28). Saya kira justru dalam kegagalan dan kelemahanlah, dalam pengalaman dan perjuangan yang paling sulit itu, lebih terasakan kekuatan Allah yang “turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.” “Smua baik, sungguh smua baik…” itu tidak sekedar lagu rohani yang indah, bagi orang yang sudah mengalami sendiri pengalaman berjumpa dengan Tuhan di dalam kekeringan rohaninya, di dasar jurang kehampaan batinnya. Merayakan duapuluh lima tahun imamat ini membuat saya semakin yakin, bahwa ini memang satu momen perayaan kesetiaan, tetapi pertama-tama, Tuhanlah yang terus menerus setia pada saya yang tidak selalu setia. Akhirnya saya hanya bisa “bersyukur pada Dia yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku” (1Tim.1:12).

† Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.