SIKABALUAN – Bapa Uskup Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX mengadakan kunjungan pastoral ke dua paroki, yaitu: Paroki Stella Maris Betaet, Kep. Mentawai (9 -14 April) dan Paroki St. Maria Auxi­lium Christianorum Sikabaluan, (14 – 20 April) 2022. Dalam kunjungan ini Bapa Uskup didampingi imam misionaris asal Italia P. Pio Frama­rin.
Di setiap stasi yang dikun­jungi dirayakan Pesta Imamat Bapa Us­kup dan Pesta Emas Imamat Pastor Pio. Ikut serta bersama Bapa Us­kup dua anggota Pecinta Alam Fransis­kus Assisi (PAFA) dari Padang un­tuk memberikan bantuan kepada umat dan melihat proses pem-­bangu­n­an gereja stasi yang dibantunya.

Di hadapan umat Stasi Santa Maria Limau (12/4), dalam Misa Bapa menceritakan pengalaman dan kenangannya di stasi ini. “Ke­ti­ka men­jadi misdinar, badan saya kecil. sehingga tidak pernah men­dapatkan tugas memegang tempat dupa (wirug), yang meme­gang wirug mesti berbadan besar (tinggi). Tetapi 25 tahun yang lalu, di tempat ini, saya pertama kali berke­sem­patan memegang wirug dalam Perayaan Ekaristi. Saya benar-benar terharu,” kata Bapa Uskup.

Dalam perayaan Ekaristi ini Bapa Uskup didampingi parokus P. Abel De Deus Maia, Pr. dan P. Pio Fra­marin – yang seperempat abad lalu Pastor Paroki St. Maria Auxi­lium Christianorum Sikabaluan. Lebih lanjut, Mgr. Vitus menyatakan bahwa dirinya tidak pernah me­nyangka saat itu memegang tongkat uskup Mgr. Martinus D. Situmo­rang, OFMCap. (Alm). “Saat Mgr. Martinus menye­rahkan tongkatnya, saya merasa seperti uskup. Dulu ketika pember­kat­an gereja ini, ada umat yang berseloroh mengatakan bahwa saya Uskup Simatalu. Ter­nya­ta kini menjadi kenya­taan. Gere­ja Stasi Simalibeg adalah gereja pertama yang saya kunjungi dan resmikan waktu itu,” katanya.

Bapa Uskup pun mengenang kebersamaannya dengan Pastor Pio yang hobi menyelam dan menem­bak ikan. Pastor Pio memasukannya ke air dan tidak boleh keluar dari air berlama-lama. Setelah merayakan Minggu Palma (10/4), bersama umat di Stasi St. Petrus, Simalibeg, rom­bongan Bapa Uskup menuju Stasi St. Yohanes XXIII, Bai’ Simatalu meng­gunakan perahu pompong. Perjalanan menyusuri sungai di­tem­puh selama tiga jam. Sesekali perahu pompong mesti didorong karena air sungai dangkal. Mende­kati Dusun Lubaga rombongan mesti berjalan kaki tiga puluh menit melewati hutan. Di Dusun Bai’ umat menyam­but dengan pengalungan dilanjutkan Turuk Laggai. Dalam pertemuan dengan umat, anggota DPRD Kabu­paten Kep. Mentawai, Bruno Guimek bersama Bapa Us­kup men­dengar­kan aspirasi umat. Umat menyampaikan perkembang­an pem­bangunan gereja stasi yang belum selesai dikerjakan, yaitu: langit-langit, jendela, dan menara lonceng gereja. Panitia pem­bangun­an me­nyampaikan kekurangan dana untuk menyelesai­kannya.

Menanggapi hal itu, Bruno ber­ha­­rap panitia meng­awal proses pencairan dana dari Pemda Men­ta­wai. Semen­tara Bapa Uskup me­nyam­paikan agar panitia membuat perincian kebutuhan biaya sehingga bisa diupayakan bantuan dari berbagai pihak. Senin, (11/4) Bapa Uskup mera­yakan Ekaristi dan me­ne­rimakan Krisma kepada 17 orang. Bapa Us­kup didampingi P. Pio dan P. Abel. Dalam homilinya, Mgr. Vitus menga­takan bahwa ada Roh Kudus hadir seperti angin dan datang seperti lidah api. “Penerima Krisma diberi karunia untuk ber­bicara. Diperlukan kebera­nian untuk berbicara tentang keha­diran Roh Kudus. Berani meng­akui iman tan­tangan ke depan lebih sulit,” kata Bapa Uskup.

Di hari yang sama, Bapa Uskup dan rombongan melanjutkan kun­jungan ke Stasi St. Maria, Limau, Simatalu. Di stasi ini Bapa Uskup bernostalgia karena stasi ini pernah disinggahinya sebelum menjadi imam. Bapa Uskup menerimakan Krisma kepada 19 orang. Dalam pertemuan dengan umat, sama seperti di stasi lain kebutuhan bangunan gereja yang lebih luas pun muncul. Kepada umat Bapa Uskup menyatakan bukan semata-mata bangunan yang besar (luas), tetapi juga hati umat mesti besar dan ter­buka uuntuk bermurah hati. Contoh­nya memberikan hati untuk menjaga keberadaan sekolah, meskipun sekolah filial. “Kasihan para guru yang disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Sudah tidak diberi tanda jasa, kadang-kadang namanya pun tidak disebut dan tidak diingat lagi,” katanya.

Kesejahteraan guru dan kelaya­kan gedung sekolah menjadi perha­tian Bapa Uskup. Bapa Uskup ber­pesan agar umat jangan takut meng­hadapi masa depan. Oleh sebab se­ko­lah ini mesti dipertahankan. Umat mesti mencari cara untuk mem­per­ta­hankan sebagai tempat bagi anak-anak untuk belajar sehingga memi­liki keyakinan untuk menghadapi per­saingan di masa depan. “Tidak ada orang yang mau terbelakang dan menjadi miskin. Maka umat mau berjuang supaya bisa ikut mem­beri sumbangan kepada masya­rakat dan bangsa,” imbuhnya.
Rabu (13/4), dalam perjalanan menuju Gereja Paroki Stella Maris, Betaet rombongan Bapa Uskup me­le­wati Muara Simatalu yang terke­nal keganasan ombaknya. Di tempat ini banyak perahu yang terbalik saat melewatinya. Setelah operator (sopir) speedboat memantau om­bak, ke­pu­tusannya perjalanan ter­tunda. Setelah lebih kurang satu jam me­nunggu air laut pasang naik, per­ja­lanan dilanjut­kan dengan sangat mendebarkan.
Tibalah rombongan di Gereja Paroki Stella Maris Betaet. Rom­bongan Bapa Uskup disambut mar­ching band SMA Negeri 1 Siberut Barat. Malamnya Bapa Uskup mera­yakan Ekaristi dilanjutkan malam hiburan.

Umat Berusaha Mandiri

Kamis (14/4) sore, rombongan Bapa Uskup dan rombongan Wakil Bupati Kep. Mentawai Kortanius Sabeleake, S.Pt tiba di Muara Sikabaluan dari Betaet. Rom­bong­an disambut umat dengan pengalungan dan Turuk Laggai dilanjutkan perte­muan di aula gereja paroki.
Dalam pertemuan ini, Bapa Us­kup mengatakan bahwa paroki ini berkembang pesat, tidak seperti 25 tahun lalu. Kini jalan-jalan dibeton sehingga transportasi dan komuni­kasi mudah dan lancar. Ketika ada kecamatan baru, Gereja pun berpikir untuk membentuk paroki baru. ‘Awalnya wilayah kecamatan Siberut Utara, terbentuk kecamatan Siberut Barat, terbentuk Paroki Betaet, peme­karan dari Paroki Sikabaluan. Di Siberut Selatan pun demikian, berdiri kecamatan baru, terbentuk paroki baru seperti di Saibi. Perkem­bangan segi pemerin­tahan diikuti pemekaran Gereja,” ucap Mgr Vitus.
Di depan Wakil Bupati dan jajarannya, Bapa Uskup pun ber­wa­cana seandainya di Kepulauan Men­tawai ada dua kabupaten, adalah sesuatu yang positif karena akan mempercepat perkembangan dan pembangunan. Oleh karena itu perkembangan mesti juga diikuti oleh Gereja,” tambah Bapa Uskup.

Sementara itu, Kortanius Sabeleake sebagai perwakilan pimpinan daerah mengatakan bahwa pihaknya mendukung semua aktivitas pelayanan tokoh agama seperti uskup, pastor, pendeta, dan ustadz dalam rangka membimbing dan mendidik umat. Keberadaan dan kehadiran para tokoh dan pimpinan itu untuk mendidik moral sehingga masyarakat bisa terarah hidupnya, berbuat baik dan mengikuti aturan pemerintah. Korta menambahkan komitmen dalam membangun tidak hanya sekedar bangunan fisik, seperti jalan, listrik, gedung, tetapi juga pembangunan mental dan moral warga masyarakat. Karena tanpa moralitas dan mental yang baik serta spirit iman maka pembangunan itu akan kosong. Korta berharap, hubungan pemerintah dan Gereja terus terjalin erat.

Dibutuhkan sinergi antara Gereja dan pemerintah untuk bersama-sama mewajudkan pembangunan tersebut. Terkait keberadaan dan kunjungan Uskup, ada kebanggaan tersendiri dan menjadi spirit untuk kebangkitan iman masyarakat sehingga mempercepat pembangunan di segala bidang kehidupan. Bruno Guimek menambahkan kolaborasi antara pemerintah dan Gereja pengembangan iman Katolik atau Kristen membutuhkan bahwa kedua pihak saling membutuhkan. Pemerintah harus mampu melindungi semua umat beragama menjamin hak-haknya terpenuhi. Selama di paroki ini, diagendakan Bapa Uskup merayakan Tri Hari Suci di Sikabaluan, meresmikan Gereja Stasi Kristus Rimata Bojakan (17/4) dan meresmikan bangunan baru Gereja Stasi St. Maria Assumpta, Pokai (18/4). Dalam pertemuan khusus dengan umat, Bapa Uskup menyampaikan harapannya agar umat semakin mandiri dan berbuah. Salah satu kemandirian tampak dalam cara umat menunjukkan kreativitas untuk tetap berjuang termasuk dalam bidang politik dan pemerintahan. Umat juga harus mandiri dalam menghadapi tan­tang­an adanya invasi (serangan) dari agama lain bahkan ada yang mem­bujuk umat dengan daya tarik mem­berikan bermacam-macam hadiah.
Terkait masalah kurangnya tenaga pastoral, Bapa Uskup mengatakan bahwa tidak mudah mencari tambahan atau memindah­kan pastor karena harus membagi daerah pelayanan yang cukup jauh. Penarikan Pastor Prian Malau misalnya karena banyak pertimbangan terutama pertimbangan untuk kepentingan keuskupan yang lebih besar. Selama ini dikeluhkan keuskupan kekurangan imam, maka harus ada orang yang memikirkan tentang seminari. Kalau tidak dipikirkan adanya seminari, tidak akan ada pastor. “Menarik Pastor Prian dari Sikabaluan, karena akan mengikuti kursus untuk mempersiapkan pembukaan Seminari Nirmala pada bulan Agustus di Padang,” katanya.

Mengharapkan Pelayanan Maksimal

Salah satu umat, Samuel meng­harapkan pelayanan maksimal dari para pastor dan suster. Tidak muluk-muluk, Samuel berharap para imam dan suster meluangkan waktu untuk mengunjungi umat, terutama men­jenguk yang sakit atau kema­langan. Samuel juga mengakui kehadiran umat di gereja hari Minggu meng­alami pasang surut. “Namun saya yakin, iman umat di Nangnang itu tidak akan lapuk terkena hujan, tidak akan runtuh karena badai,” ucap Samuel.
Keesokan harinya Minggu (17/4), Bapa Uskup melanjutkan kunjungannya ke Stasi Bojakan meresmikan Gereja Stasi Kristus Rimata, Bojakan dan menerimakan Sakramen Krisma kepada 33 orang. Dalam homilinya Bapa uskup terkesan dengan gereja stasi yang dibangun di atas tepian sungai. Posisi atau tempat gereja sangat indah. Ketika orang lelah menyusuri sungai, mengangkat kepala dan melihat Gereja Stasi Bojakan, seperti seolah-olah tujuan sudah sampai.

Hari Senin (18/4), Bapa Uskup Bersama Pastor Otto P Hasugian, Pr. kembali ke pastoran Paroki Sika­ba­luan kemudian melanjutkan kun­jungan ke Stasi Pokai. Bapa Uskup meresmikan bangunan baru Gereja Stasi St. Maria Assumpta Pokai. Menurut Bapa Uskup gereja stasi ini unik. Gereja ini indah, meskipun kecil tetapi cantik. Dari altar ini, pastor bisa langsung melihat laut. Kalau difoto dari sini ada sampan dan pepohonan. Betul-betul suatu pemandangan indah yang pantas disyukur. “Perjuangan untuk mem­bangun gereja ini pun unik. Perlu waktu bertahun-tahun, jatuh bangun. Mesti mengalami perombakan karena tertimpa pohon.” ucapnya.

Bapa Uskup berharap meskipun umat di stasi Pokai ini jumlahnya sedikit (17 KK) memiliki panggilan kuat untuk menggereja. Keluarga-keluarga yang berkumpul, membuat gereja ini tetap semarak. Bersyu­kur adalah cara yang tepat untuk membuat Gereja ini tetap hidup, menjadi batu-batu yang hidup karena gedung gereja tidak ada artinya kalaunumatnya pasif. “Gedung gereja baru punya arti ketika di dalamnya ada suara umat berdoa dan bernyanyi untuk memuliakan Allah,” katanya.
Kepulangan Bapa Uskup dalam kunjungan pastoral ini tertunda sehari karena kapal rusak. Kondisi ini menjadi berkat tersendiri bagi umat umat Stasi St. Bartolomeus Mongan Poula. Bapa Uskup berjalan kaki sejauh kurang lebih 7 km untuk ke stasi ini. Umat pun kaget atas kehadiran Bapa Uskup yang mendadak ini. Di Muara Sikabaluan, Bapa Uskup mengun­jungi SD Fransiskus dan TK Katolik Margaretha di Nangnang. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.