MARILAH BELAJAR BERDOA

Hari Minggu Biasa XVII (24 Juli 2022)
Kej 18:20-23; Mzm. 138:1-2a, 2bc-3, 6-7ab, 7c-8;
Kol. 2:12-14; Luk 11:1-13

DALAM pertemuan umat di rayon, sebelum pertemuan dimulai, peng­urus meminta salah satu warga untuk menyam­paikan doa umat dengan rumusan kata-kata sendiri. Pengurus pun memberikan ujud doanya. Permintaan itu dilakukan sebelum pertemuan dimulai, dengan maksud supaya warga yang diminta itu memiliki persiapan cukup. Tetapi warga itu menjawab: “Ndak pandai do, Pak! Yang lain saja!”
Peristiwa di atas bukan sesuatu yang asing di komunitas Katolik. Bahkan terkesan, di dalam komunitas Katolik sebelum pertemuan berjalan – seolah-olah umat berlomba-lomba untuk berbicara. Adu keras! Tetapi perhatian, setelah pertemuan dimulai. Kebanyakan umat sebaliknya. Justru berlomba-lomba untuk diam. Fasilitator atau pemandu pertemuan mesti menemukan seribu satu kiat untuk memancing bahkan menyuruh agar umat dengan rela menyampaikan pendapatnya atau mensharingkan pengalamannya. Pertanyaannya, “Apakah warga yang menjawab ndak pandai (berdoa), tidak pernah berdoa?” Berdoa apalagi di depan umum (banyak orang) bukan perkara mudah bagi sebagian orang. Pengalaman seperti ini tidak hanya dialami oleh mereka yang berpendidikan rendah. Warga yang berpendidikan tinggi pun tidak serta merta mudah untuk memimpin doa.

Berdoa adalah berbicara kepada Allah dengan segala kerendahan hati, menyampaikan isi hati, bahkan pikiran. Kalau dalam pertemuan umat, tentu disesuaikan dengan ujud atau maksudnya. Berdoa mesti datang dari dalam diri, bukan meniru dan tidak perlu meniru gaya berdoa orang lain. Doa dan berdoa bukanlah ilmu yang dapat dipelajari, tetapi bisa dilatih cukup dengan membiasakan diri berdoa.
Ketika seorang dari murid-murid-Nya memohon supaya diajarkan berdoa seperti murid-murid Yohanes, Tuhan Yesus mengajarkan doa yang lahir dari dalam diri. Tidak muluk-muluk dan tidak mencari-cari. Doa itu datang dari kedekatan hubungan dengan Allah Bapa yang memahami dan menjawab doa. Berdoa menjadi karena merupakan kebutuhan mendasar yang lahir dari hubungan yang akrab dengan Allah Bapa. Doa muncul dari iman dan bukti relasi hangat dengan Allah. Nilai yang terutama dari doa yang diajarkan Tuhan Yesus adalah relasi Allah dan manusia. Mengakui Allah dan Kerajaan-Nya yang kudus akan melahirkan kesadaran untuk memohon pengampunan-Nya, berharap kecukupan, dan melakukan penyerahan diri secara total.

Tuhan Yesus mengajarkan sebuah prinsip sikap doa yang benar yaitu seperti seorang sahabat yang karena dekat dan akrab tidak canggung menyampaikan kebutuhannya kepada sahabatnya. Lalu si sahabat rela menolong. Demikianlah Allah, pasti akan menjawab setiap doa yang dipanjatkan. Allah mendengarkan doa-doa karena Allah adalah Bapa dan pendoa adalah anak-Nya. Setiap ayah akan mencukupi dan memberi yang terbaik untuk keperluan anaknya.
Tuhan Yesus merespon permintaan para murid agar diajarkan berdoa dengan memberikan doa yang dikenal sebagai Doa Bapa Kami. Melalui doa ini, kita belajar unsur-unsur mendasar dari doa yang benar. Pertama, doa berisikan pujian kepada Allah. Hal yang sering diabaikan atau mungkin tidak diketahui umat beriman. Sering doa hanya dipahami sebagai ungkapan keluh kesah semata atau untuk memohon saja. Ungkapan pujian dan syukur dalam doa menunjukkan kesadaran akan siapa Tuhan, siapa kita.

Kedua, doa juga berisi permohonan. “Berikanlah kami…yang secukupnya.” Tuhan mengajar agar meminta kepada-Nya sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan. Tuhan menjamin akan memberikan sesuai dengan kehendak-Nya. Ketiga, doa juga berisikan ungkapan pertobatan. Dalam doa bisa mengakui pelanggaran dan dosa, tanpa perantara dan langsung kepada Allah. Bagian ini menuntut kejujuran dan keterbukaan kepada-Nya. Keempat, berdoalah seperti sedang berbicara pada seorang sahabat . Tanpa mengurangi penghormatan kepada Allah, Tuhan mengajarkan untuk berdoa seperti sedang berdialog dengan sahabat; ada kedekatan, keakraban, dan tanpa kecanggungan. Berdoa seperti seorang anak kepada bapaknya.
Umat Katolik tentu saja mengenal dan hafal luar kepala dengan Doa Bapa Kami. Yang mesti menjadi refleksi bersama adalah sejauh mana doa itu didoakan keluar dari hati. Bukan sekedar mengucapkannya tanpa penghayatan. Karena hafal, jangan sampai terjebak pada rutinitas tanpa penghayatan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.