MENJADI HAMBA YANG SETIA

Hari Minggu Biasa XIX (7 Agustus 2022)
Keb. 18:6-9; Mzm. 33:1, 12, 18-19, 20, 22;
Ibr. 11:1-2, 8-19 (Panjang) atau Ibr. 11:1-2, 8-12 (Singkat);
Luk. 12:32-48 (Panjang) atau Luk 12:32-40 (Singkat)

MUSIBAH HAMPIR Seperti tidak berhenti menimpa wilayah di negeri ini. Bencana silih berganti; gempa bumi, banjir bandang, tanah longsor, kecela­kaan lalu lintas, gunung meletus dan lain-lain. Belum lagi bencana sosial seperti tawuran, perampokan yang mengakibat­kan korban jiwa.
Bencana tidak pernah diinginkan oleh siapa pun. Bencana alam berada di luar kekuasaan manusia. Bencana ibarat maut, bisa menghabiskan segalanya, termasuk nyawa. Setuju atau tidak, semua fenomena dan kejadian alam itu adalah panggilan bagi manusia untuk berjaga-jaga. Tidak ada satupun manusia yang tahu kehidupannya di dunia ini berakhir. Semua orang akan mati, tetapi tak satupun yang tahu waktunya. Setiap harus mempertanggungjawabkan dirinya di hadapan tahta Tuhan. Kehidupan manusia, ibarat buah kelapa. Ada yang gugur di kala masih bakal buah, tetapi ada pula yang gugur ketika buahnya tua dan kering. Itulah hidup dan kematian manusia. Bila Tuhan berkehendak, manusia bisa meninggal tidak peduli berapa pun umur; bisa ketika bayi, kanak-anak, remaja, pemuda, hingga lansia.
Terkait datangnya bencana alam membutuhkan mitigasi untuk meminimalisir resiko. Itu pun sebatas upaya, semuanya bergantung juga pada kehendak-Nya.

Tuhan Yesus menasihatkan agar kita selalu siap siaga, berjaga-jaga, bersemangat melayani dan menjaga agar lampu tetap menyala. Pekerjaan menanti itu memang sangat menjemukan, apalagi kalau yang dinanti-nanti tidak kunjung datang. Banyak orang menjadi tidak sabar, bosan menanti sehingga mereka pun tidak lagi tahan dan akhirnya berubah sikap. Tuhan menghendaki agar kita selalu dalam kondisi siap sedia dan berjaga-jaga. “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.” (Lukas 12:35).
Kita belajar banyak dari kehidupan Nabi Nuh, yang tekun bekerja dan memper­siapkan bahtera, padahal tidak tahu waktunya air bah itu datang. Nabi Nuh taat melakukan segala yang diperintahkan Tuhan kepadanya, sementara orang-orang sezamannya tidak peduli. Karena sikapnya itu, Nabi Nuh pun banyak dicibir dan diejek banyak orang. Akhirnya, ketika air bah itu datang, Nabi Nuh dan seisi rumahnya diselamatkan. Orang-orang yang mencibirnya pun binasa.

Mari kita gunakan waktu-waktu yang singkat ini untuk bekerja dan berkarya bagi Tuhan dan melayani sesama. Apa pun tugas dan panggilan dikerjakan dengan setia. Selagi ada waktu untuk hidup, alangkah indahnya jika bertobat dan terus membarui hidup sehingga layak menyambut kedatangan Tuhan. Kita terus menyalakan pelita pertobatan, selalu membarui diri dan kehidupan, meski kadang membosankan. Alangkah bahagianya, kalau kita bisa meninggal dalam keadaan suci sehingga layak hidup kekal bersama Allah. “Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.” (Lukas 12:43) ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.