Setiap kali membicarakan Bapa Uskup Vitus Rubianto Solichin, saya selalu teringat kenangan masa lalu, ketika berjumpa pertama kali di Paroki St. Maria Auxilium Christianorum Sikabaluan, Siberut Utara, Mentawai (1997). Kala itu, Bapa Uskup ‘berstatus’ Diakon. Saya menilai ‘Diakon Vitus’ tampak berusaha melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebaik-baiknya, punya hubungan dekat dengan umat.
Saat Diakonat tersebut, Beliau tekun dan bersemangat memberikan pembelajaran, berkatekese, pendalaman iman kepada para penghuni asrama. Diakon Vitus memberi perhatian pada Tim Kompas (Komunikasi Pastoral) Paroki Sikabaluan. Beliau kerap memberikan arahan kepada anggota tim ini, terutama terkait pendampingan iman, Kitab Suci, Sipugagalai (pemuka umat). Tidak pernah luput adalah pembahasan kondisi umat pada waktu itu. Setelah lama tidak ada kabar, datang berita bahwa ‘Diakon Vitus’ dipilih Bapa Suci menjadi uskup baru Keuskupan Padang. Sejak tahbisan uskup (2021), semakin tampak saja karakter kesederhanaan dan kebapaannya.

Bapa Uskup juga berupaya lebih mengenali daerah/wilayah pelayanannya, terutama di Mentawai. Secara pribadi, saya menangkap kesan ‘Diakon Vitus’ sangat mencintai Mentawai. Buktinya lewat kunjungannya, mau berdiskusi untuk perkembangan umat masa kini. Dalam konteks iman Katolik, umat di Mentawai masih perlu pembinaan. Makin banyak saja kasus umat yang ‘menyeberang’ dan meninggalkan Gereja. Sejak menjadi uskup, ‘Diakon Vitus’ mulai paham situasi dengan terjun langsung ke lapangan – termasuk kunjugan ke stasi pelosok jauh. Dari sejumlah publikasi Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Padang terlihat Bapa Uskup sangat dekat dengan umat.

Saya ingin melihat sisi lain ‘Diakon Vitus’, yakni pernah sebagai dosen kitab suci. Sebagai doktor Kitab Suci, tentu sangat mengerti pendekatan pada iman. Juga, beliau bisa dan mesti memberikan peneguhan kepada para imamnya. Beliau sangat bersemangat dalam karya dan pelayanan, sebagaimana juga almarhum Uskup Martinus D. Situmorang. ‘Diakon’ Vitus melanjutkan karya-karya dan pelayanan pendahulunya, dekat dengan anak muda, mau mendengarkan keluh-kesah umat, mengenal dan memahami situasi umat, dengan beragam persoalan di paroki. Saya yakin, semakin lama, ‘Diakon’ Vitus juga semakin memahami persoalan sosial ekonomi dan politik yang berkembang di keuskupan.

Maka, pada perayaan istimewa ini, sebagai imam, saya menaruh sejumlah harapan agar Uskup Vitus menjadi gembala yang baik, sehat selalu, bijaksana, cepat memahami dan bertindak bila ada persoalan terkait situasi umat maupun pastor yang bermasalah. Mgr. Vitus mampu mengambil langkah tepat dengan sejumlah pertimbangan dalam tugas penggembala­annya. Proficiat, Mgr. Vitus

Matius Samalinggai
Umat Paroki St. Petrus Tuapeijat, Kepulauan Mentawai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.