Sumber tulisan ini postingan saya di dinding (wall) pada akun Facebook tanggal 17-22 Juni 2022. Kala itu, saya membantu menyebarkan informasi lowongan ker­ja perusahaan kertas dan bubur kertas (pulp and paper) bagi dua puluh pemuda Mentawai untuk bekerja sebagai tenaga semprot tanaman di Hutan Tanaman Industri (HTI) yang berlo­kasi di Taluk Kuantan, Provinsi Riau. Tercan­tum jelas nara sumbernya. Diinformasikan bahwa perusahaan menye­diakan pengganti­an biaya transportasi kapal Mentawai ke Padang (dibuktikan dengan tiket) dan pemeriksaan kesehatan (medical check up/MCU) sebelum ke lokasi pekerjaan

Para facebookers dapat membaca secara rinci pada tujuh belas gambar/foto dalam tema “Sosialisasi Paket Own Labor”. Dijabarkan jelas pengertian, jenis pekerjaan, contoh ke­giatan (mulai dari planting/penanaman, blank­ing/penyisipan titik tanam yang mati atau kosong, weeding spraying/penyemprotan, manuring/pemupukan tanaman eucalyptus, dan singling (pemotongan cabang yang menyiangi batang utama pada tanaman acacia. Dicantumkan juga status karyawan, hari dan jam kerja, kompensasi dan benefit (bagian paling panjang dan lengkap): upah, insentif beras, insentif nutrisi mingguan, Tunjangan Hari Raya (THR), BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan, Transportasi Kerja, Seragam Kerja dan Alat Pengaman Diri (APD), akomo­dasi/tempat tinggal, lembur, hak istirahat, tunjungan khusus, dan izin-izin. Saya tampil­kan juga contoh foto pekerja bagian semprot dan fasilitas perumahannya (di Kototuo, Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singi­ngi, Riau).

Ragam Komentar dan Reaksi

Aneka komentar atas postingan itu sontak ramai. Ada yang komentarnya mendukung. Namun, lebih banyak yang berkeluh kesah, karena pengalaman buruk yang pernah dialami kerabatnya. Postingan itu seolah-olah menjadi tempat tumpahan dan curahan isi hati (curhat) mereka.
Seorang facebookers menilai lowongan kerja ini kesempatan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang memadai, karena tidak luput dari nama besar perusahaannya. Namun, lima hari pasca postingan itu beredar, Cornelius, warga Tuapeijat menulis: “Hingga sekarang (21/6), tidak ada yang mau! Banyak alasannya. Dika­ta­kan, sudah pernah bekerja tetapi akhir­nya kecewa. Walau sudah diberi penjelasan, mere­ka tetap tidak tertarik. Kalau saya dalam posisi menganggur, pastilah akan tertarik dengan lowongan pekerjaan ini.”
Seorang kepala SMA ternama di Padang, menilai positif info lowongan kerja perusahaan ini. Bahkan, sekolah yang dipimpinnya telah bekerja sama sepuluh tahun terakhir, untuk penyaluran beasiswa dan akhirnya bekerja di perusahaan itu. Bahkan, bila ada yang ber­pres­tasi mendapat kesempatan belajar Strata Dua (S2), bahkan Strata Tiga (S3) – Doktoral.

Seorang kepala desa di Kecamatan Siberut Barat, Kepulauan Mentawai, melihat jernih informasi di postingan itu. “Info lowongan kerja ditujukan kepada siapa saja yang ber­minat. Gajinya jelas tidak sama dengan jenis pekerjaan dengan kualifikasi tertentu yang lebih tinggi. Kiranya info ini berguna bagi pemuda pengangguran dan tidak jelas pekerjaannya,” tukasnya. Facebookers lain menimpali. “Tidak sembarang orang bisa bekerja di perusahaan ternama ini!”
Facebookers lain menyampaikan keluh kesahnya. “Banyak orang Mentawai yang bekerja di Riau, punya pengalaman buruk. Harga kebutuhan pokok tinggi dan punya banyak utang. Kerja hanya untuk membayar utang. Tidak bisa pulang kampung, karena tidak punya ongkos. Seingat saya, proses perekrutan, mereka dijemput dan semuanya dibayar hingga ke perusahaan. Kalau dapat mandor yang baik, akan baik nasibnya. Kemarin, keponakan saya terlindas mobil truk yang tiba-tiba mundur, akibat rem blong. Sopirnya disembunyikan oleh perusahaan. Keponakan saya hanya diberi santunan lima belas juta. Karena karyawan tidak semua terdaftar ke pusat,” ungkapnya.

Sementara itu, Jegus Sageilepak, dari Kaleak – Siberut Tengah, Kepulauan Menta­wai menuliskan peristiwa pahit yang dialami kerabatnya. “Ipar saya, adik, dan keponakan saya naas. Tidak hanya orang Kaleak, juga orang Salappak, Sali­guma, Gotab, dan Siguluk-guluk!” ucapnya sembari memperli­hat­kan foto sejumlah orang dalam rombongan (mantan) pekerja di atas kapal yang kembali lagi ke Mentawai.
Diakui Jegus, perekrutan saat itu tidak jelas dan terjadi di antara sesama mereka yang dipertemukan dengan seseorang dari perusa­haan MIGB. Ia berharap perusahaan yang membuka lowongan kerja ini konsisten menerapkan aturan perusaha­an; misalnya soal penggajian. Jegus menyebut MIGB adalah perusahaan pengambil tender, seperti kontrak­tor di lapangan. Hal ini diduga jadi penyebab ‘terlantarnya’ sejumlah orang Mentawai yang bekerja di Riau, karena tidak langsung ‘ber­kaitan’ dengan pihak perusahaan.

Hingga satu hari dari batas waktu yang ditetapkan, Cornelius – yang ikut menye­barluaskan informasi ini – mengakui tidak mudah mengajak pemuda Mentawai mengisi lowongan tersebut, karena ‘terpengaruh’ kisah dan pengalaman pahit dari mereka yang gagal bekerja di tempat lain. Corne­lius memberi penjelasan, namun mereka tetap tidak tertarik. Cornelius juga tidak memung­kiri mentalitas cepat puas diri, cepat mundur, mudah menye­rah di kalangan orang Mentawai. “Hanya saja, setelah seseorang sukses, muncul aneka pemikiran jahat terhadap yang berhasil. Susah mengejar kemajuan. Apalagi bila mendarah d
ging mentalitas minta-minta/mengemis, semakin parah,” tukasnya. Ada pula facebookers yang terheran-heran dan merasa aneh dengan aneka komentar yang bernada ‘curhatan’ atas informasi lowongan kerja ini. “Lawak saja kesannya. Sabar saja ya, Pak! Kadang niat baik kita belum tentu diterima baik oleh orang lain,” tulis seorang facebookers. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.