PRIBADI SALING MELENGKAPI

Hari Minggu Biasa XVI (17 Juli 2022)
Kej. 18: 1-10a; Mzm. 15:2-3ab, 3cd-4ab, 5; Kol 1:24-28;
Luk 10:38-42

BAGI ORANG Kristen nama Maria dan Marta cukup popular. Berapa banyak kaum perempuan di muka bumi ini yang menggunakan dua nama ini. Karena kedua orang perempuan ini menggambarkan tipe wanita kebanyakan orang di dunia ini. Nama kedua perempuan ini mengingatkan manusia di dunia ini tentang karakter yang perlu ditiru, yaitu: perempuan rumahan dan perempuan karir. Cerita Maria dan Marta ini cukup menarik, pada satu sisi apa yang dikerjakan Marta adalah gambaran sebagai wanita rumahan, suka sibuk dengan urusan makanan, minuman, kebutuhan fisik, urusan rumah tangga. Sedangkan sedangkan pada sisi lain gambaran tipe seperti si Maria adalah menggambarkan seorang wanita karir yang gemar mendengar petuah, ceramah, ilmu pengetahuan, dan memiliki visi masa depan.
Kedua tipe pribadi yang tergambar dalam bacaan Injil hari ini masing-masing mempunyai plus – minus. Dua tipe pribadi manusia yang diungkapkan dalam cerita ini merupakan dua kebutuhan yang juga perlu dimiliki manusia selama hidup di dunia ini. Apa yang salah, apa yang baik, dan berguna tentang Maria dan Marta?

Marta sibuk sekali melayani. (ayat 40). Sebaliknya Maria duduk dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan perkataan-Nya (ayat 39). Yang dilakukan oleh Marta tentu suatu hal baik dan penting sebagai tuan rumah. Tetapi sebenarnya bukan sesuatu yang mendesak. Apalagi jika dilakukan dengan sungut-sungut, protes, khawatir, dan menyalahkan orang lain dan juga Tuhan. (ayat 40). Itu sebabnya Tuhan Yesus menegur Marta: “Marta, Marta, engkau khawatir, dan menyusahkan diri dengan banyak perkara.” (ayat 41).

Dengan semua kesibukan selama ini, baik dalam urusan keluarga pekerjaan maupun pelayanan, mungkin kita merasa sudah menyenangkan hati Tuhan. Tetapi, jangan-jangan dalam pandangan Tuhan, kita hanyalah seperti Marta yang khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara. Perkara yang boleh dilakukan yang Tuhan rindukan untuk didahulukan, adalah meluangkan waktu untuk menyapa dan mendengarkan Dia dalam kehadiran-Nya. Sebab semua prestasi, kesibukan, kekayaan, pelayanan sesungguhnya tanpa Tuhan hanya kekosongan dan kehampaan seperti Marta yang hanya merasa cemas.

Tuhan Yesus menginginkan duduk tenang seperti Maria, menyingkirkan semua kepentingan lain, untuk menemukan-Nya dalam keseharian hidup. Dengan cara apa pun, membaca Kitab Suci dan bacaan rohani, berdoa, mererenung, bermediatasi, dan aneka jenis ulah kesalehan. Dari sanalah akan menemukan kekuatan dan arah hidup yang benar dalam menghadapi hiruk-pikuk dan pergulatan dunia ini. Jika tidak demikian, yakinlah bahwa semua yang kita miliki dan lakukan seringkali diwarnai dengan kegelisahan. Maria menjadi contoh untuk mengutamakan Tuhan lebih dari yang lain.

Maria telah memilih bagian yang terbaik. Duduk di kaki Tuhan dan mendengarkan perkataan-Nya. Mendengarkan Tuhan dalam aneka cara harus menjadi prioritas hidup orang beriman, karena Tuhan sumber kehidupan. Justru dari duduk mendengarkan Tuhan, kita dapat memiliki pelayanan yang diperbarui sesuai dengan kehendak Tuhan, dan bukan untuk motivasi lainnya. Mari kita meneladani Maria yang memprioritaskan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan. Baik dalam waktu teduh pribadi ataupun dalam persekutuan dengan saudara seiman. Tetapi itu tidak cukup, mesti juga “bergerak” seperti Marta sehingga menjadi lengkap. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.