KANDIS – “Pace e bene! Horas! Kita bergembira, karena sudah lama ditunggu-tunggu kesempatan ini,” ucap Bapa Uskup dalam sambutannya di hari terakhir kunjungan pastoral di Paroki Santa Teresia Kanak-kanak Yesus Kandis (23-26 Juni 2022). Sukacita bersama itu terlihat jelas ketika Bapa Uskup berbaur manortor bersama Parokus P. Nikolaus Manurung, OFM.Cap., P. Poliaman Purba, OFMCap., Fr. Firdaus Depari, Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan umat saat ramah tamah. Hingga acara diakhiri dengan doa dan berkat, umat pun tidak pulang duluan.

Kamis (23/6) Sore, Mgr. Vitus Rubianto Solichin tiba di paroki ini. Upacara penyambutan ditandai dengan penyerahan buket bunga oleh perwakilan DPP kepada Bapa Uskup. Banyak agenda kegiatan pastoral Bapa Uskup di paroki ini. Kamis (24/6) pagi, Mgr. Vitus memberikan rekoleksi kepada pengurus stasi dan Dewan Pastoral Paroki (DPP). Keesokan harinya, Bapa Uskup meresmikan Gereja Stasi St. Mikhael Libo Baru dan menerima Sakramen Krisma kepada 32 orang.

Kunjungan pastoral ini diakhiri Minggu (26/6) dengan perayaan Ekaristi sekaligus Pembukaan Tahun Keluarga Keuskupan Padang 2022-2023. Dalam misa ini, Bapa Uskup juga melantik anggota DPP dan menerimakan Sakramen Krisma kepada 105 orang.
Sebagai tanda pembukaan Tahun Keluarga Keuskupan Padang, Bapa Uskup membacakan Surat Gembala Uskup (SGU) dan memukul gong didampingi dua imam selebran. Sebelumnya (23/6), Ketua Komisi Keluarga Rm. Benedictus P. Manullang, Pr. mengadakan pertemuan dengan para Narahubung dari Paroki se-Keuskupan Padang melalui zoom meeting. Selain itu pada Jumat (24/6), Imam Diosesan Padang ini memandu talk show: “Bincang Hangat Keluarga Lintas “3G”, dan Rosario Keluarga secara live melalui zoom dan channel youtube dari Pekanbaru.

Perayaan Ekaristi berbeda dari biasanya dan lebih meriah, karena diiringi alat musik khas tradisional taganing (gondang) dan tiupan saxophone oleh Roni. Apresiasi khusus disampaikan Bapa Uskup kepada Pastor Poli yang mengaran­semen lagu-lagu dalam Perayaan Ekaristi ini terutama lagu yang bertema keluarga sebagai lagu yang resmi pada perayaan ekaristi ini. “Kehadiran seorang pastor yang bertalenta pada musik, diharapkan umat menjadi lebih bersemangat dalam mengisi Tahun Keluarga ini. Semoga dengan lomba-lomba dan berbagai macam acara yang dilaksanakan dapat membangun keluarga kristiani yang sejati,” ucap Bapa Uskup.

Usai membaca SGU, Bapa Uskup menyatakan bahwa melalui Seruan Apostolik Amoris Laetitia No. 88, Paus Fransiskus menegaskan bahwa pengalaman cinta dalam keluarga-keluarga adalah sumber kekuatan abadi bagi kehidupan Gereja. “Tujuan perkawinan yang sifatnya mempersatu-kan adalah panggilan terus-menerus untuk membuat kasih bertumbuh dan menjadi lebih mendalam. Melalui kesatuan cinta, pasangan suami istri mengalami keindahan menjadi ayah dan ibu. Mereka berbagi rencana dan kesulitan, harapan dan keprihatinan. Mereka juga belajar saling menjaga dan saling memaafkan,” ucap Mgr. Vitus.
Masa pandemi mesti diambil sisi positifnya, karena waktu untuk bersama dalam keluarga menjadi lebih banyak sehingga bisa memperkuat komunikasi di dalam keluarga. Situasi lockdown menyebabkan banyak waktu untuk tinggal bersama. Sri Paus mengakui bagi beberapa pasutri kondisi keterpaksaan hidup selama karantina ini menjadi sangat sulit dan dapat memperparah permasalahan yang sudah ada sebelumnya. “Banyak keluarga yang pecah juga dalam masa pandemi ini karena berbagai persoalan. Maka mari memberi perhatian kepada mereka,” kata Bapa Uskup.

Dalam homili ini, Bapa Uskup juga memberikan perhatian kepada kaum muda dan kaum lansia (lanjut usia). Situasi Pandemi menyebabkan kaum muda sulit mendapatkan pekerjaan. Di sisi lain, kaum muda mesti berpacu memanfaatkan teknologi yang berkembang lebih cepat akibat pandemi. Dunia kaum muda di masa depan adalah dunia teknologi yang semakin dipacu perkembangannya akibat situasi pandemi. Semua orang harus memanfaatkan teknologi yang berkembang ini.

Kondisi saat ini, lanjut Bapa Uskup kaum lansia seperti oppung, kakek dan nenek akan semakin merasa sendirian dan kesepian. Poin penting dikatakan Sri Paus, menurut Bapa Uskup tidak ada masa depan bagi generasi saat ini jika tanpa kehadiran kakek-nenek dan kaum lansia ini. Oleh karena itu ajaknya, agar para pasutri Katolik semakin aktif dalam Gereja terutama dalam pelayanan pastoral keluarga. “Saya mengajak semua gembala, para pelayan, dan pengurus Gereja untuk mengembangkan pastoral kehadiran di tengah-tengah keluarga keluarga, di tengah kaum muda, di tengah orang-orang yang ditinggalkan, dan orang-orang lansia. Ini tanggung jawab bersama untuk perutusan Gereja. Para pasutri dan para pelayan tertahbis bekerjasama merawat dan memelihara Gereja rumah tangga, Gereja keluarga.” tambah Mgr. Vitus.
Usai Perayaan Ekaristi dilanjutkan ramah tamah di tenda yang didirikan di halaman gereja. Dalam kesempatan ini diadakan lelang, dana yang terkumpul untuk pembangunan aula paroki. Pada kesempatan ini, perwakilan penerima Krisma, M. Simanjuntak menyatakan mengatakan rasa sangat gembiranya atas perayaan ini. “Semoga dengan menerima Krisma ini, kami bukan hanya dewasa secara jasmani dan pikiran, tetapi juga dewasa dalam iman”, katanya.

Sementara itu, Bapa Uskup dalam sambutannya mengatakan bahwa Sakramen Krisma seperti Sakramen Baptis menunjukkan kedewasaan Gereja yang berkembang. Umat telah menerima tanda karunia Roh Kudus, sehingga tidak hanya menjadikannya resmi dilantik dan menerima surat atau sertifikat, namun telah menjadikannya orang Katolik yang penuh dan dewasa. Pada kesempatan ini, Mgr. Vitus kembali menyinggung tentang Tahun Keluarga. Bapa Uskup menyatakan terkesan dengan kehadiran banyak anak-anak dalam momen ini. “Ini momen bagi Gereja untuk berkumpul, satu keluarga yang menyuarakan seruan bersama dalam satu komitmen, yaitu menjadikan tahun ini sebagai tahun yang membuat Gereja lebih memperhatikan keluarga-keluarga dengan bukti nyata para gembala (pastor), para pengurus, keluarga yang saling mengunjungi dan mendukung satu sama lain.” katanya. (Bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.