Ada banyak perdebatan tentang arti “Cancel Culture” (CC). Apakah CC merupakan cara meminta pertang­gungjawaban orang, taktik menghukum orang lain secara tidak adil atau kombinasi keduanya? CC mengacu pada tindakan yang tidak lagi menganggap kehadiran seseorang, penolakan individu yang berakibat pengucilan dan mempermalukan orang.

Saya mendapat informasi, CC adalah bahasa slang anak muda Jakarta Selatan. Sebenarnya, bila ditelusuri lagi, CC merupakan bagian mem-bully untuk mengucilkan satu orang atau satu pihak yang ada dalam suatu kelompok. Ada berbagai macam bentuk bullying atau perudungan, antara lain secara verbal/kata-kata, fisik, mental, dan emosional. CC merupakan bentuk perudungan secara mental dan emosional. Kini, bentuk CC kerap disalahartikan, misalnya mengacu pada pihak yang suka membatalkan janji.

CC muncul karena adanya anggapan pada seseorang maupun sekelompok orang yang dianggap tidak sesuai dengan pandangan maupun penilaian kelompok lebih besar. Akibat CC, seseorang atau kelompok mengalami pengucilan. Misalnya, seseorang diajak pergi bersama-sama ke suatu tempat, namun tidak pernah diajak bincang/obrol. Atau, diajak dengan harapan ditraktir, ternyata disuruh bayar. Intinya, orang lain bertindak/bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Bisa juga, saat di depan seseorang, muncul cerita baik dan positif, namun muncul cerita negatif/miring saat yang bersangkutan tidak berada di tempat. Bahkan, bisa berupa penyebaran aib seseorang bersangkutan ke mana-mana. Dampak/efeknya bisa terasa dan terjadi di mana saja, mulai dari murid sekolah dasar (SD), orang dewasa, bahkan di antara sesama warga Rukun Tetangga (RT).

Selain pengucilan, seseorang yang ‘terkena’ CC juga mengalami penurunan rasa percaya diri, mengalami trauma – karena merasa dirinya dipermalukan. Harga dirinya seakan diinjak-injak. Tentu saja, hal ini bisa berujung pada pemikiran untuk bunuh diri (suicidal thought). Mengapa ada CC? Bisa jadi karena disebabkan individu bersangkutan tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sektiarnya. Akibatnya, lingkungan sekitar membuat dirinya jadi terkucil.

Apa yang dapat dilakukan saat menghadapi CC? Pertama, introspeksi diri terlebih dulu: apakah diri kita yang terlalu menyimpang dari orang-orang sekitar? Mengapa ditolak dan dikucilkan? Orang sekitar misalnya, memberi hormat pada atasan, sementara kita berlawanan dengan atasan. Dengan introspeksi, kita mengetahui ‘posisi diri’ sendiri. Kalau kita mengetahui lingkungan sekitar sudah sedemikian tercemar (toxic) dan terkena CC; maka kita bisa pindah pergaulan ke pihak lain. CC bersifat kolektif. Bila salah satu atau lebih sudah sadar serta tidak melakukan CC, tetapi karena yang lainnya masih lakukan CC, kita pun tetap terkena CC. Sebab itu, kita bisa pindah ke lingkungan yang lebih sehat dan memberikan dukungan positif.

Kedua, Selain itu, punya kesadaran diri sendiri (self awareness) yang tinggi, kita bisa menyesuaikan diri di suatu lingkungan. Ketiga, berpikir positif dari dalam diri sendiri. Kalau masuk dalam suatu kelompok, kita harus bisa membedakan: yang bisa dan tidak bisa dikontrol. Berpikir positif mengenai apa pun yang kita perbuat, asalkan tidak menyalahi nilai dan norma yang ada, serta sesuai dengan ajaran agama (kelemah­lembutan, cinta kasih, saling menghormati, dan sebagainya.

Ada saja orang yang tidak peduli dengan (perkataan/anggapan) orang lain, bahkan tidak merasa perlu bersosialisasi dan membutuhkan orang lain, serta bisa menata hidupnya sendiri. Pengucilan pun dianggap tidak menjadi suatu masalah bagi dirinya. Namun, mungkin pula, yang bersangkutan dikucilkan karena perilaku antisosialnya demikian. Cenderung menyendiri di mana pun berada. Untuk ‘pulih’ dari CC, butuh waktu cukup lama dan juga tergantung tiap individu untuk bisa memperbaiki hubungan, dan selanjutnya bisa masuk dalam pergaulan sosial setempat/suatu kelompok. Kadang, tatkala mengalami CC, kita merasa sudah introspeksi diri dan telah berupaya menjalankan hal-hal baik – sesuai dengan nilai – tetapi orang lain punya pendapat tersendiri. Belum tentu sama. Terpulang kembali pada dalam diri sendiri. Kalau tidak bsia lagi, merasa diri sudah benar dan lingkungan yang ‘beracun’ (toxic), memang harus ditinggalkan, karena berpotensi memunculkan keinginan bunuh diri atau trauma. Begitupun dengan pekerjaan dan pembelajaran yang dijalani bakal tidak efektif. CC berasal dari komunitas, bukan hal dari dalam diri sendiri yang bisa kita perbaiki sendiri. CC adalah fenomena dari orang lain yang ditimpakan pada seseorang. ***

Diasuh oleh: Theresia Indriani Santoso, S.Psi., M.Si
(Psikolog, Pendiri SMART PSY Consulting Padang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.