MELAWAN KESOMBONGAN ROHANI

HARI MINGGU BIASA XXIV (11 September 2022)
Kel. 32:7-11, 13-14; Mzm. 51:3-4, 12-13, 17, 19;
1Tim. 1:12-17;
Luk 15:1-32 (panjang) atau Luk 15:1-10 (singkat)

ALLAH TELAH mengikat perjanjian dengan Israel. Di atas gunung Sinai, Allah telah memberikan berbagai peraturan dan petunjuk kepada Musa untuk membuat Kemah Suci dan berbagai perkakasnya. Bahkan Allah menuliskan sendiri, sepuluh hukum Allah pada dua loh batu (Kel. 31:18). Kita tahu bahwa dua hukum yang pertama mengharuskan umat Israel untuk mengutamakan Allah dan mela­rang untuk menyembah ilah lain.

Namun ironis, di kaki gunung saat menan­tikan Musa, ternyata membuat orang Israel tidak sabar. Mereka mengira bahwa Musa sudah binasa dalam api yang terlihat meng­hanguskan di puncak gunung Sinai. Maka bagai anak ayam kehilangan induk, bangsa Israel terlihat kacau. Lalu mereka mendesak Harun untuk membuat allah lain, yang akan memimpin mereka (1). Sayangnya, Harun mengikuti kemauan orang Israel dengan membuat patung lembu emas (2-4). Padahal itu dosa di mata Tuhan. Dengan berbuat demikian, mereka menyamakan Allah dengan patung yang tidak memiliki kuasa apa pun. Mereka lebih ingin percaya kepada allah palsu, buatan tangan mereka sendiri. Tidak heran, Allah murka sehingga ingin membinasakan Israel. Namun Musa, sebagai pemimpin yang mengasihi umat, memohon agar Tuhan mengampuni umat-Nya demi nama baik-Nya agar tidak diolok-olok oleh orang Mesir, juga demi perjanjian dengan leluhur Israel. Doa Musa didengar Tuhan, Ia tidak jadi melenyapkan umat-Nya.

Kisah dalam bacaan Injil hari ini sangat populer. Orang Farisi dan ahli Taurat serta para pendengar Yesus lainnya bisa belajar dari pengalaman putra bungsu itu. Namun, sikap sang ayah dan putra pertamanya juga penting untuk diperhatikan. Kisah ini menceritakan anak bungsu yang meminta warisan orangtuanya, kemudian pergi berfoya-foya, akhirnya membuat hidupnya pun terpuruk.

Gambaran itu menegaskan betapa pengaruh dosa membuat hidup seseorang terlunta-lunta dan jauh dari orangtua. Di tengah penderitaan akibat dosanya, si Bungsu sadar dan bukan hanya berfikir untuk bertobat, melainkan sungguh-sungguh bertobat, berba­lik kepada Bapanya. Perumpa­ma­an ini disampaikan ketika para pemungut cukai dan orang-orang berdosa datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Sementara orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut, tidak setuju karena Yesus bergaul dan makan bersama orang-orang yang dianggap sebagai orang berdosa. Perum­pamaan ini mau mengkritik sikap para ahli Taurat dan Farisi. Mereka mengamati dosa orang lain dan menganggap orang lain berdosa serta merasa diri lebih baik. Sikap ini dosa besar yang kerap tidak disadari.

Ketika jatuh dalam gelapnya dosa, jauh dari bapa dengan segala kelimpahannya; kita pun harus berani bersikap seperti si Bungsu itu. Menyadari kesalahan, berani bertobat dan merubah diri adalah sikap yang akan memperbaiki hubungan kasih dengan Bapa. Kemauan dan keberanian untuk bangkit dan pergi kepada bapa adalah suatu sikap tobat yang luar biasa. Sikap ini harus menjadi sikap setiap orang beriman, sikap kita. Semua itu butuh kerendahan hati dan merasa diri lemah untuk meminta pengampunan. Tuhan Yesus melawan segala bentuk kesombongan rohani karena sungguh berbahaya bila dibiarkan menguasai hidup kita. Kesombongan rohani bisa membuat kita: meremehkan atau bahkan mengucilkan orang lain, merasa iri dan marah melihat orang lain menerima anugerah, tidak mampu melihat dan mensyukuri anugerah yang diterima, tidak merasa perlu untuk bertobat. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.