BAGAN BATU – “Mengikuti pelatihan memim­pin ibadah tanpa imam ini bagi saya pengalaman baru. Man­faat dari pelatihan menambah kepercayaan diri saya, sehingga lebih pede tampil di depan umat. Kegiatan ini juga sangat mem­bantu kami yang tinggal di pelosok agar Perayaan Sabda Hari Minggu di stasi semakin semarak dan sesuai dengan aturan Gereja”, kata Lesmina Br. Sembiring.

Warga Stasi Mahato Km. 25 Paroki Santa Maria Ratu Rosario Bagan Batu, Riau ini adalah utusan dari stasinya dalam Pelatihan Peningkatan Kete­rampil­an Memimpin Ibadat Sabda Tanpa Imam, di paroki­nya, Sabtu (9/7). Lesmina menambahkan pelatihan ini juga menambah banyak pengetahuan dan kete­ram­pilan terkait materi yang disam­paikan. “Harapan saya ke depan, dibuat pelatihan lagi melibatkan semakin banyak utusan wilayah dan stasi, terutama orang-orang muda”. tambahnya.

Peserta lain, Renti Br. Manurung utusan stasi Batang Kumu menambahkan bahwa dirinya sangat terbantu dalam memahami aturan ibadah dan melaksanakannya di stasi. “Hasilnya sangat memuaskan karena pemaparan materinya jelas. Selama ini pelaksanaan ibadah di stasi terkesan berbeda-beda karena kami kurang memahami aturannya. Dengan pelatihan ini sekarang ibadat menjadi seragam dan sesuai dengan aturan liturginya”. katanya.

Pelatihan peningkatan keteram­­pilan dalam memimpin ibadah tanpa imam ini diikuti utusan dari 18 stasi separoki Bagan Batu. Pelatihan ini dipan­du Wakil Ketua I DPP, Alexsander Wasek, Koordinator Seksi Liturgi (Marudur Ganda Tua Barasa), dan Pratolo sebagai pembawa acara. Hadir juga dalam pelatihan ini Pastor Paroki P. Il Da Go­mez,Pr., para Suster dari Kongregasi KYM, dan anggota DPP.

Di hadapan peserta, Karolus mengatakan bahwa pelatihan ini bertujuan agar umat, terutama pengurus Gereja (stasi) mengerti, memahami, memiliki pengetahuan dan keterampilan memimpin ibadat atau perayaan liturgi tanpa imam sesuai pedoman liturgi. Dengan pengetahuan dan pema­haman yang cukup diharap­kan umat lebih menghayati nilai agung perayaan Sabda. “Perayaan Sabda Hari Minggu adalah perayaan liturgi, kesempatan bagi umat berkumpul untuk merayakan imannya dalam nama Tuhan.” katanya.

Koordinator Seksi Liturgi DPP, Marudur Ganda Tua Barasa menambahkan selama ini perayaan Sabda Hari Minggu di stasi terkesan berbeda-beda. Dengan pelatihan ini, peserta diajak bersama-sama mendalami tata aturan sesuai pedoman resmi Gereja. “Selain itu, pelatihan ini menjadi kesempatan untuk latihan bersama serta saling meneguhkan melalui sharing-sharing peng­alaman dari stasi masing-masing.” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.