Perkembangan teknologi yang begitu pesat memiliki pengaruh positif bagi keluar masuknya arus informasi. Dampak ini bisa berupa perubahan pola aktivitas seseorang seperti penggunaan gadget sebagai penunjang aktivitas. Perlu kebijaksanaan bagi penggunanya agar tidak terjatuh pada efek negatif tersebut.

Situasi pandemi yang lalu juga menjadi salah satu faktor meningkatnya ketergantungan seseorang pada gadget seperti ponsel pintar (smartphone). Di masa pandemi Covid-19, kebijakan School From Home (SFH) dan Work From Home (WFH) yang bertujuan untuk menghambat penyebaran virus. Syarat utama agar kegiatan itu berjalan adalah jaringan internet dan telepon berbasis internet.
Saniyyah dalam jurnal penelitiannya menyatakan bahwa penggunaan gadget dapat menyebabkan kecanduan dan berpengaruh pada perilaku anak. Intensitas penggunaan gadget yang tinggi mencapai 3 – 6 jam perhari dan menggunakan aplikasi youtube, tiktok, dan game berportensi memunculkan kecanduan. Diakuinya, penggunaan sarana komunikasi ini berdampak positif seperti mendapatkan pengetahuan luas, mempermudah komunikasi, dan melatih kreativitas anak.

Berbicara dampak negatif yang ditimbulkan dapat mengakibatkan mata mudah lelah, jam tidur, dan jam belajar berkurang serta gangguan emosional pada anak. Perilaku sosial anak masih menunjukkan baik, menghormati orang lain, tolong menolong, sopan santun, namun anak-anak kurang peka dan peduli terhadap orang di sekelilingnya.

Perlu Mensiasati

Sudianto Sidauruk (44) mengakui kehidupan zaman ini memang tidak lepas dari sarana komunikasi berbasis internet. Wilayah di republik sebagian besar telah dijangkau oleh jaringan internet sehingga memungkinkan masyarakat saling berkomunikasi menggunakan smartphone.
Sebagai orangtua, umat Paroki St. Theresia Kanak-Kanak Yesus Kandis ini menandang hal itu sebagai tantangan dalam mendampingi perkembangan anak-anaknya. Sebagai ayah yang memiliki putri kembar (kelas V SD) dan anak Batita (Bawah Tiga Tahun), Sudianto merasa internet sudah menjadi kebutuhan dan juga menjadi salah satu bentuk pola hidup generasi sekarang ini, terlebih di masa Pola hidup yang terbentuk lanjutnya berpotensi menimbulkan residu (sesuatu yang tertinggal) bagi dalam anak itu sendiri.

Residu yang dimaksud adalah pada aspek kejiwaan dan sikap sosial anak-anak. Menurut pengamatannya dan kisah-kisah yang didengarnya dari sesama orangtua, penggunaan gadget membuat waktu anak untuk belajar tersita, konsentrasi berkurang, kesehatan terganggu (khususnya mata). Pada psikososial, sikap humanisme anak berkurang, bersikap asosial (individualisme), kurang peka dalam solidaritas, daya juang berkurang dan kondisi mental anak “terninabobokkan”. Artinya, anak menjadi kurang peka dengan keadaan dan terbuai dengan permainan sehingga otak anak menjadi kurang aktif berpikir.

Terkait dampak negatif yang bisa timbul itu, Sudianto menyikapinya dengan membatasi waktu pemakaian gadget pada anak-anak, kecuali pemakaian hal yang wajib terkait pelajaran sekolah. Itu pun akan sesering mungkin mengontrol konten yang digunakan. Sebagai keluarga muda, Sudianto akan banyak belajar dari para seniornya sembari tetap berserah diri dan mengandalkan Tuhan dalam setiap proses perjalanan hidup ini terutama dalam membimbing anak-anak.

Sekretaris Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Theresia Kanak-Kanak Yesus Kandis ini menambahkan bahwa sebelum pandemi pun sesungguhnya tantangan ini sudah mulai dirasakan. Situasi pandemi hanya memacu kecepatan penggunaan sarana komunikasi berbasis teknologi modern dan canggih ini. Sebagai sarana pendidikan dan proses pembelajaran yang tidak bisa tatap muka sarana komunikasi canggih wajib ada. Kini perlahan situasi berubah. Meski pandemi belum dinyatakan berakhir, namun protokol kesehatan lenbih longgar dibandingkan sebelumnya.

Kegiatan masyarakat berangsur-angur normal. Sekolah pun tidak lagi online. Bekerja pun demikina, tidak lagi dari rumah, tetapi karyawan (pegawai) sudah mesti masuk kantor. Kegiatan Gereja pun demikian.
Di tengah perayaan Tahun Keluarga yang sedang dijalani umat di seluruh Keuskupan Padang ini fenomena ketergantungan gadget adalah tantangan tersendiri. Di Tahun Keluarga ini tentunya semua pihak berharap menjadikan keluarga menjadi tumpuan atau pusat dari buah hidup iman. Kehidupan keluarga Katolik senantiasa berorientasi pada cara hidup keluarga di Nazaret. Semua itu untuk satu hal yaitu hanya demi untuk memuliakan Tuhan Yesus Kristus itu sendiri.

Suami dari Tiurma Elisabeth (39) ini menyadari kehidupan keluarga pasti selalu ada tantangannya. Keluarga itu terbentuk dari dua jiwa yang berbeda latar belakangnya dan menjadi satu jiwa di dalam keluarga menkjadi suami isteri. Dari dua jiwa ini tentunya ada karakter, tipikal, pengetahuan, pendidikan, aneka latar belakang yang berbeda. Masing-masing pribadi punya kekuatan dan kelemahan, kelebihan dan kekurangan. Masing-masing pribadi harus bisa dan mu menerima segalanya. Sulit memang! Tetapi suami isteri mesti belajar. Proses belajar menerima keadaan pasangan ini proses yang tiada henti. Dari situlah, suami isteri saling melengkapi dan menyempurnakan dirinya. Untuk semuanya itu dibutuhkan kehadiran kasih dan karunia Tuhan sehingga suami isteri mampu mengarungi bahtera kehidupan, keluarga tetap utuh meskipun banyak tantangan. (Bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.