Salam belas kasih,
Saudari dan saudara yang budiman, umat se-keuskupan Padang dan para pembaca GEMA yang dikasihi Tuhan. Salah satu dari kesepuluh pertanyaan yang menjadi bahan pembicaraan Sinode di tingkat lokal menyongsong Sinode Para Uskup tahun 2023 menyoroti satu model Gereja yang ideal, tetapi sering tidak sesuai demikian dalam prakteknya. Gereja yang cenderung pastosentris itu bertentangan dengan semangat Gereja yang partisipatoris. Gereja yang pastorsentris sering tidak sadar memupuk sikap sikap yang diingatkan oleh Bapa Suci Paus Fransiskus sebagai ketiga bahaya yang dapat menghambat sinodalitas Gereja ini: elitisme dan klerikalisme, komplasensi atau rasa puas diri, serta abstraksi intelektual, kecenderungan tinggal dalam rumusan teoretis saja atau hanya omong tanpa aksi nyata.

Gereja yang partisipatoris membutuh­kan sikap dan keutamaan baru yang tampak dalam kerendahan hati dan kesediaan untuk mendengar, bukan hanya dari sekelompok orang yang dianggap terpilih, tetapi mendengar semua, juga yang dari bawah yang biasanya tidak terdengar. Itulah sebab­nya Gereja partisipatoris itu melibatkan semua, lebih terbuka, meskipun mungkin sering menuntut kebesaran hati karena nampaknya membuang-buang waktu. Proses yang partisipatif memang membutuh­kan waktu dan kesabaran.

Humilitas dan Sinodalitas

Paus Fransiskus kepada Kuria Kepausan dalam kesempatan pera­yaan Natal tahun 2021 yang lalu berpesan agar mereka memberikan kesaksian akan kerendahan hati (humilitas) dan kesediaan untuk berjalan bersama (sinodalitas). “Kuria bukan hanya satu badan logistik dan birokratis demi kepen­tingan Gereja universal, melainkan pertama-tama adalah kelompok orang-orang yang dipanggil untuk memberikan kesaksian hidup, dan justru karena itu Kuria akan senan­tiasa makin berwibawa dan efektif ketika berani lebih dahulu menyam­but tantangan pertobatan ke arah sinodalitas yang merupakan panggilan pribadinya juga. Organisasi yang harus kita aktualisasikan ini bukan mengikuti model perusahaan, tetapi mengembangkan tipe injili.”

Paus menuntut perhatian terutama atas hal ini: pertobatan dan kesaksian akan kerendahan hati. Tiga cara ditunjukkannya untuk menjadikan nyata jalan kerendahan hati sebagai jalan konkret yang harus dipraktek­kan: partisipasi, paguyuban, dan perutusan, yang merupakan dasar gaya hidup sinodal yang harus diambil sebagai arah pertobatan Kuria dan seluruh Gereja. Karena, tegas Bapa Suci: “Sinodalitas adalah cara hidup yang harus kita pilih dalam pertobatan kita, terutama kita yang ada di sini, kita yang menghayati pengalaman pengabdian kepada Gereja universal melalui karya kita di Kuria Romana.”

Bapa Suci memfokuskan seluruh pengarahannya untuk menjelaskan pertama-tama kepentingan dasariah akan kesaksian dan kerendahan hati yang harus diberikan oleh Kuria: “Apabila Sabda Allah mengingatkan dunia seluruhnya akan nilai kemiskinan, kita, anggota Kuria, pertama-tama harus berusaha keras untuk bertobat ke arah kesahajaan atau keugaharian. Jika Injil mewartakan keadilan, kita pertama-tama harus berusaha menghidupinya secara transparan, tanpa favoritisme dan ikatan-ikatan kepentingan yang lain. Apabila Gereja menempuh jalan sinodalitas, kita pertama-tama harus bertobat ke arah satu gaya baru alternatif dalam karya, dalam kerjasama, dalam persekutuan. Hal ini mungkin hanya melalui jalan kerendahan hati.”

Paus Fransiskus mengingatkan bahwa kerendahan hati itu syarat penting dalam iman dan bahwa Natal merupakan saat di mana orang harus berani untuk melepaskan kelengkapan senjatanya sendiri, menanggalkan rancangan-rancangannya sendiri berkat jabatannya, atau demi pengakuan sosialnya dan mengambil sikap rendah hati secara pribadi yang adalah juga sikap dari Putra Allah, yang rela untuk merendahkan diri dalam sejarah dengan menjadi sama dengan manusia. Bapa Suci sekali lagi meminta kepada Kuria supaya menjauhkan diri dari godaan berbahaya keduniawian spiritual yang yang berbeda dari godaan-godaan lainnya, adalah yang paling sulit dibongkar, karena tertutup oleh semua yang biasanya menjadi jaminan kenyamanan kita (jabatan, fungsi liturgis, doktrin dan keyakinan agama).”

Gaya Hidup yang Harus Menjadi Buah Pertobatan

Menurut Paus Fransiskus klerikalisme adalah tantangan yang senantiasa muncul di tengah kita dalam lika-liku sehari-hari dan membuat kita selalu berpikir bahwa Allah berbicara hanya pada beberapa orang tertentu, sementara yang lain hanya diharuskan mendengar dan menaati. Sebaliknya, sinode merupakan pengalaman untuk mendengar semua anggota umat yang lebih besar: Umat Beriman Allah yang Kudus. Murid-muridlah yang pertama-tama harus mendengar, dan justru berkat sikap mendengar ini, mereka mampu memahami kehendak Allah yang selalu termanifestasikan dengan cara yang tak disangka-sangka: “Sinodalitas adalah satu gaya yang harus merupakan buah pertobatan kita. Kita harus berubah menjadi lebih mampu berjalan bersama, terutama kita di Kuria ini yang menjalankan pelayanan bagi Gereja universal melalui karya dalam Kuria ini.”

Selama pembukaan sidang sinodal Paus menggunakan tiga kata kunci: partisipasi, persekutuan, dan perutus­an (partecipazione, comunione e missione). Sekarang kata-kata yang sama ini ditawarkan kembali kepada para anggota Kolese kardinalis dan Kuria Kepausan: “Tiga hal yang mendesak mau saya tunjukkan sebagai satu gaya kerendahan hati yang kiranya harus dimiliki Kuria. Tiga cara untuk menjadikan jalan kerendahan hati sebagai jalan konkret yang harus dipraktekkan.”

Partisipasi, Paguyuban dan Perutusan

Pertama-tama, partisipasi: “Pen­tinglah setiap orang merasa terlibat, menjadi bertanggung jawab atas karyanya tanpa harus merasa bekerja sendiri untuk melaksanakan satu program yang telah ditentukan oleh yang lain. Saya selalu tersentuh ketika dalam Kuria ada kreativitas, dan tidak jarang itu tampak khusus­nya di tempat di mana ada ruang untuk semua, juga bagi mereka yang secara hirarkis tampaknya ada di pinggiran saja.” Paus Fransiskus menyatakan lagi bahwa: “Otoritas menjadi pelayanan ketika itu dibagi bersama, melibatkan semua dan membantu untuk berkembang.”

Kata yang kedua adalah pagu­yub­an. Beliau mengingatkan bahwa “Persekongkolan itu menciptakan perpecahan, pengkotak-kotakan dan permusuhan” sementara “kerja sama menuntut kebesaran hati untuk menerima keterbatasan sendiri dan keterbukaan untuk bekerja dalam kelompok, juga dengan mereka yang tidak berpikir seperti kita. Dalam persekongkolan orang ada bersama untuk mendapatkan satu hasil luaran. Dalam kerja sama orang berada bersama-sama karena mempunyai maksud baik dalam hati untuk orang lain dan, pertama-tama kehendak baik untuk seluruh umat Allah yang kepada mereka kita dipanggil untuk melayani.” Satu sikap pelayanan yang menuntut kebesaran dan kemurahan hati untuk mengakui dan menghayati dengan gembira kekayaan yang beragam rupa dari umat Allah, dan “tanpa kerendahan hati hal ini tidak mungkin” kata Paus Fransiskus.

Kata yang ketiga adalah perutusan (missione) yang menyelamatkan kita dari kecenderungan untuk mengurus diri kita sendiri. Barangsiapa hanya memikirkan diri sendiri, hanya melihat dari atas dan dari jauh, meno­lak kritik kenabian dari sama saudara, meremehkan mereka yang mempertanyakan, terus menerus mengangkat kesalahan-kesalahan yang lain dan terobsesi akan penampilan. Orang demikian menutup diri dalam cakrawala batin yang sempit dan dalam kepentingan serta minat sendiri. Akibatnya, ia tidak belajar dari kesalahannya sendiri maupun terbuka pada pengampunan. Ini merupakan satu korupsi besar yang bisa tampil dalam hal yang nampaknya saja baik. Sementara seorang pribadi dengan hati misioner merasa bahwa saudaranya membutuhkan dia, dengan sikap seperti peziarah yang miskin, pergi menjumpainya. Perutusan membuat kita menjadi mudah terluka, membantu kita untuk menyadari kondisi kemuridan kita dan membantu kita mampu menyingkapkan kembali sukacita Injil.

Demikianlah menurut Bapa Suci, Partisipasi, Misi, dan Persekutuan adalah ciri-ciri dari Gereja yang rendah hati, yang mendengarkan Roh Kudus dan menaruh pusat perhatiannya di luar kepentingannya sendiri. ***

† Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *