Banyak kisah dan pengalaman yang bisa diceritakan Antonius Tri Wiratno, S.Pd. (54) selama 28 tahun sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Pak Tri adalah Guru Katolik Aparatur Sipil Negara (ASN) – dulu Pegawai Negeri Sipil (PNS) SDN 16 Batang Anai, Kab. Padangpariaman.

Warga Stasi Santo Ambrosius Tabing Paroki Santo Fransiskus Assisi Padangbaru ini mengawali karir sebagai guru tahun 1990, di Siberut Utara, Kepulauan Mentawai. Tamat dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Sanjaya Maguwoharjo Yogtakarta, Tri merantau ke Mentawai. Selama tiga tahun, Pak Tri sebagai guru – katekis.

Tahun 1993, mencoba peruntungannya dengan mengikuti ujian masuk seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), ternyata lulus. Mulai 11 November 1993, hingga lima tahun kemudian (1998), Pak Tri sebagai guru di Betumonga, Sipora, lalu dipindahkan ke sekolah negeri di wilayah Kabupaten Padangpariaman.

Ada perubahan yang mencolok tempatnya mengajar dari sisi sosial religious. Di Mentawai lingkungannya Kristiani, di tempat baru lingkungannya Muslim. Meskipun demikian, suami Maria Sri Hariyati (50) tidak merasa was-was. Pede (percaya diri) saja! Menurutnya untuk memasuki lingkungan baru bergantung pada cara seseorang melakukan pendekatan terhadap lingkungan. Pak Tri tidak menampik persoalan agama sering menjadi perbincangan, tetapi sejauh ini tidak menimbulkan persoalan. Ketika diajak berbicara soal agama, menurutnya mau tidak mau harus siap. “Jangan tampakkan kita lemah! Jangan ingah-ingih – kata orang Jawa!” katanya.

Menurut mantan Ketua Stasi Tabing ini, topik yang sering menjadi perbincangan adalah seputar urusan perut, haram dan halal makanan. Topik ini menurut bisa menjadi duri, bisa pemicu dan pemancing pembicaraan yang lebih luas tentang ajaran iman. Pak Tri berkisah, kalangan Muslim sering tidak segan-segan menanyakan tentang makanan haram dan halal. Di balik pertanyaan itu, kadang ada kecurigaan dari mereka, kalau-kalau kita memberinya makanan, ada yang tidak halal, misalnya mengandung babi. “Untuk menjawab pertanyaan soal halal haram makanan, tidak perlu harus menimbulkan perdebatan. Jawab saja: Segala yang diciptakan Tuhan itu baik untuk manusia,” ujarnya.

Selain soal halal haram makanan, lanjutnya halal haram Ucapan Natal juga menjadi topik. Dulu, katanya, rekan sejawatnya banyak yang mengucapkan Selamat Natal kepadanya. Namun, lambat laun berkurang, terutama sejak viral isu tentang haram mengucapkan Selamat Natal. Meski demikian, masih ada satu dua rekan sejawatnya yang tidak mempersoalkan perbedaan agama. “Seorang buya (ustad) – guru agama masih mau datang ke rumah,” imbuh Pak Tri.

Di Sumatera Barat (juga tempat lain?), umat Kristiani (Katolik) berada dan hidup di lingkungan mayoritas Muslim adalah fakta. Umat Katolik harus siap! Caranya belajar, sebagai umat beriman mendalami ajaran iman, berpedoman pada nilai injili dan memiliki integritas diri yang kuat sehingga citranya tetap baik. Ketidaktahuan dan ketidakmampuan umat Katolik dalam menjelaskan itulah yang kadang menyebabkan dialog mandeg.

Agar dipandang dan tidak diremehkan, lanjut Pak Tri bisa saja menampilkan diri melalui talenta atau keterampilan tertentu. Pak Tri mencontohkan dibutuhkan orang yang bisa melatih kelompok paduan suara, kesempat itu dimanfaatkanya. Berkat talentanya itu, Pak Tri dipercaya sebagai pelatih kelompok paduan suara pada momen Hari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGR)) 2021. Saat ayah tiga anak ini menjadi anggota delegasi kelompok Paduan Suara Dewasa Campuran (PSDC) di Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) 2022, mewakili Provinsi Sumatera Barat dan meminta izin, kepala sekolah merasa bangga dan memberinya izin. “Kalau kita tidak memiliki sesuatu yang bernilai dan berbeda dengan mereka, bisa membuat tertekan. Tetapi kalau kita memiliki kelebihan, orang tidak akan memandang sebelah mata,” tutupnya. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.