Usai merayakan Ekaristi, Romo Kebet mendekati ruang kegiatan Bina Iman Anak (BIA). Ruangan itu ramai dengan anak-anak dan para pendampingnya.
Melihat kedatangan Romo Kebet, pendamping BIA mempersilakannya masuk untuk berbicara kepada anak-anak.
“Adik-adik, kita kedatangan Romo! Romo ini punya cerita lho. Maukan….kalian mendengarkan Romo bercerita?’ tanya Erlina – pendamping BIA.
“Mauuu……” jawab anak-anak itu serempak.

Selanjutnya, Romo Kebet menyapa ramah anak-anak parokinya. Kemudian, Romo Kebet memberikan cerita ringan tentang surga.
Usai bercerita, Romo Kebet bertanya jawab dengan anak-anak itu.
“Nah……jawab pertanyaan Romo yaa! Siapa yang mau masuk surga?” katanya.
“Saya, Romooo…..” teriak anak-anak itu spontan. Mereka terlihat antusias menjawab ingin masuk surga.
Pandangan Romo Kebet tertuju pada satu anak yang duduk di sebelah kiri depan. Ferli namanya. Ketika teman-temannya serentak menjawab, Ferli tampak santai.

Momen itu membuat Romo Kebet kembali bertanya. “Ayooo……yang mau masuk surga angkat tangan!” kata Romo lagi.
“Saya! Saya, Romo! Sayaaaa….!” teriak anak-anak berebut sambal mengangkat tangannya.
Lagi-lagi Ferli diam saja tak bergeming, tidak menjawab dan tidak mengangkat tanggannya.
Romo Kebet semakin penasaran dengan sikap Ferli.

Sekali lagi, demi memacu semangat anak-anak tersebut, Romo kembali bertanya. “Ayooo…….yang mau masuk surga berdiri.”
Semua anak berdiri kecuali Ferli. Ia tetap tenang dan duduk di bangkunya sambal memperhatikan teman-teman yang antusias berdiri. Merasa kejanggalan itu, Romo Kebet meminta semua anak kembali duduk dan tenang.
Romo Kebet menghampiri Ferli. “Romo melihat kamu tidak antusias menjawab pertanyaan. Ada apa? Ferli tidak mau masuk surga?” tanya Romo Kebet. Ferli mengangguk.

“Terus, mengapa kamu tidak menjawab dan tidak berdiri?” lanjut Romo Kebet makin penasaran.
“Romo, bukankah kalau mau masuk surga harus mati dulu.
Ferli belum mau mati, Romo” jawab Ferli polos.
Romo Kebet tersenyum mendengar jawaban itu. Sebuah jawaban polos khas anak-anak.
Tiba-tiba suasana berubah, karena pembina BIA segera menyela dan mengajak anak-anak itu bernyanyi dan berdoa bersama sebelum pulang.
Sambil berjalan pulang ke pastoran, Romo Kebet mengingat-ingat jawaban Ferli tadi.
“Tidak ada yang salah dengan jawaban itu!” kata Romo Kebet dalam hatinya. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.