menjadi makhluk bebas & merdeka

Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia
(17 Agustus 2022)
Sir. 10:1-8; Mzm. 101:1a, 2ac, 3a, 6,7;
1Ptr. 2:15-17; Mat 22:15-21

MAKHLUK HIDUP di muka bumi ingin kebebasan. Semua orang ingin bebas dan merdeka. Tak terkecuali, binatang dan tumbuhan. Filsuf Lord Acton membedakan kebebasan itu atas dua macam, yaitu: “bebas dari” dan “bebas untuk”. Yang pertama, yakni bebas dari, cenderung bernuansa negatif, karena diandaikan adanya situasi yang membelenggu, baik dari dalam maupun dari luar diri sehingga membuat makhluk hidup tidak bebas.

Berhadapan dengan belenggu-belenggu ini, selalu ada ikhtiar dari manusia untuk membe­bas­kan diri darinya. Contoh sangat jelas, berhadapan dengan wabah pandemi Covid-19, semua pihak berjuang membebaskan diri dan masyarakat dari bahaya pandemi itu. Di sini tersirat makna pertama, bebas dari. Jenis kebebasan ini perlu sebagai prasyarat mewujudkan jenis kebebasan kedua ( bebas untuk). Kebebasan ini menunjuk pada usaha untuk wujudkan segala potensi yang berharga dan bernilai demi kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.

Hari ini bangsa kita, Indonesia, merayakan ulang tahun ke-77 kemerdekaannya, hasil perjuangan dengan cucuran keringat dan darah demi membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan. Warga bangsa ini patut bersyukur, berkat perjuangan dan pengorbanan para pahlawan bangsa, boleh meraih jenis pertama kebebasan atau kemerdekaan, “bebas dari” belenggu penjajahan. Inilah prasyarat yang perlu demi terwujudnya “bebas/merdeka untuk…” Dengan ini, terbukalah peluang yang luas bagi segenap anak bangsa untuk mengisi kemerdekaan pertama yang telah diraih dengan cara mengaktualusasikan segala potensi, bakat, dan talenta terpendam yang dimiliki demi terwujudnya kebaikan dan kesejahteraan yang adil merata bagi seluruh rakyat Indonesia.

Demi tercapainya maksud dan tujuan ini, dibutuhkan para pemimpin bangsa dan negara yang bertugas menjalankan amanat rakyatnya. Dengan ini, kehadiran negara dan para pemim­pinnya mewujudkan “bonum commu­ne“, kebaikan dan kesejahteraan yang adil-merata bagi semua, bukannya bagi diri sendiri atau segelintir orang. Dalam hal ini, kehadiran para pemimpin negara sekaligus menjadi contoh dan panutan bagi seluruh masyarakat yang dipimpinnya. Inilah yang dimaksudkan penulis kitab Putra Sirakh, “Pemerintah yang bijak mempertahankan ketertiban pada rakyatnya, dan pemerintahan orang arif adalah teratur. Seperti penguasa bangsa demikianpun para pegawainya, dan seperti pemerintah kota demikian pula semua penduduknya…..” (Sir 10:1-2). Para pemimpin patut mewaspadai dan menghindari semua tendensi negatif seperti kebencian, arogansi, kesewenangan, nafsu kuasa dan keserakahan yang dapat mengham­bat terwujudnya bonum commune itu.

Santo Petrus dalam bacaan kedua mengha­rapkan semua orang percaya taat kepada semua yang memegang tampuk kekuasaan. Petrus juga meminta setiap orang sadar dirinya sebagai orang merdeka. Petrus menegaskan bahwa tidak ada pertentangan antara ketaatan dan kemerdekaan. Ketaatan bukanlah pengudungan ataupun pengingkaran terhadap kebebasan, melainkan justru mengukuhkan kebebasan itu. Ketaatan menunjuk pada kebebasan sebagai bentuk tindakan yang secara sadar melakukan tindakan, karena adanya tanggung jawab.
Selanjutnya, soal ketaatan yang benar ini diperjelas dalam Injil Matius. “Berilah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaiser dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah” (Mat 22:21b). Sabda Yesus ini telak membungkam kaum Farisi dan Herodian ingin menjebak-Nya. Pada hakekatnya, kebebasan manusia adalah kebebasan dianugerahkan Allah. Karena itu, hanya Allah yang dapat menuntut ketaatan total dan mutlak dari manusia. Sedangkan dalam tataran horisontal, ketaatan yang diberikan bersifat relatif dan kondisional, termasuk di dalamnya ketaatan rakyat kepada pemimpin­nya. Hal ini sejalan dengan keyakinan iman bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan citra Allah. Maksud Yesus melalui Injil hari ini bukan membatalkan ketaatan di antara sesama manusia, melainkan untuk menunjukkan hirarki atau tingkatan ketaatan yang benar sebagai perwujudan kebebasan sejati. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.