Benar adanya, bila ada pihak yang mengatakan bahwa Paroki Santo Paulus Pekanbaru terbilang paroki aktif. Paroki kami memang aktif dalam berkegiatan hingga ke stasi-stasi. Seksi-seksi Dewan Pastoral Paroki (DPP)-nya bergerak dinamis.
Sebagai warganya, tentu saya bangga dan ikut serta bantu-bantu kegiatan paroki. Sejauh pengamatan saya, sekarang ini dan semoga ke depan semakin banyak lagi umat yang aktif menggereja. Muncul orang-orang baru dengan pemikiran-pemikiran dan energi yang baru. Mereka juga selalu meningkatkan (upgrade) dan memperbarui (update) dengan aktivitas kekinian.

Memang, kadang ada kegiatan yang terlihat wow di media sosial (medsos) meski esensi kegiatannya biasa saja. Bagi saya, itu juga mantap! Sebab di masa kini, kegiatan apa saja bisa di-posting di medsos sehingga terkesan keren dan wow. Itu pertanda ada kemauan dari umat paroki untuk giat dan aktif berkegiatan. Dinamika umat paroki kami memang tidak terlepas dari adanya sejumlah orang yang selalu menjadi motor penggerak atau motivator umat yang lain. Memang sangat perlu adanya orang-orang atau umat yang menjadi pendorong, penggerak, penyemangat, dan mengajak-ajak. Dalam sebuah komunitas apa pun selalu dibutuhkan sosok seperti itu. Di DPP Santo Paulus Pekanbaru ada beberapa personilnya yang punya karakter sebagai “provokator” – penggerak, motivator, pendorong, dan penye­mangat. Memang ada juga seksi-seksi DPP yang kurang aktif. Seksi-seksi DPP yang aktif membuat paroki kami aktif, hidup, dan dinamis.

Hal demikian juga tidak luput dari dukungan dari para pastor. Sebagai umat paroki ini, saya merasakan sedari dulu para pastor (parokus dan pastor rekan) selalu memberikan dukungan bagi keterlibatan umat. Maka tidak heran bila kalangan awam tampak lebih berperan dalam berbagai kegiatan parokial. Partisipasi umat dalam kegiatan pastoral parokial semakin tinggi. Lantas di mana atau bagaimana peran pastor? Lebih banyak pada kontrol dan pengawasan sehingga kegiatan apa tidak melenceng dari visi dan misi Gereja. Setiap kegiatan yang diusulkan mesti dikomunikasi­kan kepada pastor. Ada juga kegiatan yang tidak disetujui pastor. Dalam peng­ambilan keputus­an pun, pastor bu­kan satu-satunya, tidak sendirian teta­pi melibatkan awam dalam rapat DPP. Memang semua kegiatan Gereja tetap atas sepengetahuan dan persetujuan pastor agar tidak kebablasan. Dinamika paroki kami dalam hal tertentu masih ada dan harus bersifat pastorsentris, tetapi tetap terbuka untuk partisipasi umat.

Pastorsentris saya memahaminya bukan berarti semuanya berasal dan harus pastor, diputuskan sendiri oleh pastor. Tetapi, peran pastor sebagai pedoman, pemberi pertimbangan baik dari sisi manfaat dan unsur spiritualitasnya. Bila menyangkut ajaran moralitas dan iman pastorsentris itu mutlak.
Ada juga beberapa gagasan pastor yang direspon/ditanggapi umat lewat DPP. Begitupun sebaliknya, dari umat yang diketahui dan diputuskan oleh pastor melalui mekanisme rapat DPP. Jarang sekali saya mendengar pastor langsung memutuskan sesuatu sendirian terkait pelayanan paroki. Pastor selalu meminta pendapat atau masukan umatnya. ***

Martinus Anwar Novianto
Umat Paroki St. Paulus Pekanbaru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.