“Gereja: Pastorsentris Vs Partisipatoris” – topik edisi Agustus 2022 Tabloid GEMA – punya ‘hubungan khusus’ dengan butir 8, halaman 23-24 Buku Pegangan Pertemuan Imam Keuskupan Padang 2022. Buku tersebut diterbitkan Panitia Inti Sinode Keuskupan Padang 2022. Inti sarinya dirumuskan pada awal Mei 2022, saat sintesis keuskupan (10 halaman) mulai dikerjakan dan berakhir pada 15 Mei 2022. Hasil sintesis ini dipaparkan oleh Tim Perumus kepada Bapa Uskup dan para narahubung dari seluruh paroki Keuskupan Padang pada 18 Mei 2022 di Padang. Berikut naskah butir 8 (Sinodalitas-Partisipasi versus Klerikalisme-Pastorcentris).

Dalam skala umum, Gereja tidak lagi pastorsentris-klerikalisme. Beberapa fakta yang tampak, banyak tugas dan wewenang didelegasikan kepada awam. Para klerus banyak mendengarkan, berdiskusi, menerima masukan dan saran, bahkan ada kecenderungan pastor paroki terlalu demokratis. Sudah ada partisipasi umat dalam pelayanan karya pastoral Gereja dan pengambilan keputusan penting, dalam DPP, pembangunan gereja, kepanitiaan perayaan-perayaan besar, kepengurusan stasi, stasi, atau lingkungan. Umat berperan besar dalam mewujudkan dan merealisasikan program-program yang disepakati bersama, terlibat dalam tugas liturgi, ibadat-ibadat tertentu dipimpin awam.

Dalam skala kecil, Gereja memang cenderung pastorsentris. Hal itu tampak dalam pembangunan gereja, ada pastor yang cenderung “bermain tunggal”, tidak menerima usulan umat, umat sulit mendapatkan dana untuk kegiatan paroki. Ada kesan, ganti pastor – ganti aturan. Di sisi lain, umat masih tergantung pada pastor, masih menjadikan pastor sebagai solusi dari kendala dalam kegiatan Gereja.
Kaum awam sudah berpartisipasi dalam kepemimpinan Gereja; menjadi anggota Dewan Pastoral Paroki (DPP), pengurus stasi/wilayah, rayon/lingkungan/kring, kelompok kategorial-teritorial, menjadi fasilitator dalam pendalaman iman/katekese, terlibat dalam kegiatan dan perayaan hari besar. Menjadi petugas pembagi Komuni yang seharusnya menjadi tugas dan tanggung jawab imam.
Para imam dan biarawan-biarawati juga sudah melibatkan awam (tidak selibat) dalam pelayanan dan melakukan disermen komunal (mencari bimbingan Roh Kudus). Pelibatan umat itu nyata dalam: rekoleksi, retret, pembekalan rohani, berdiskusi dengan DPP tentang karya pastoral Gereja. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.