Kerasulan Kitab Suci dapat dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya tatkala kutipan Kitab Suci dibacakan di dalam Perayaan Sabda maupun Perayaan Ekaristi. Bila dibawakan dengan cara yang tepat, baik oleh imam maupun petugas awam pesan atau nats Kitab Suci akan ditangkap umat. Di paroki kami, sebelum diangkat sebagai lektor di pusat paroki, 38 orang terpilih mengikuti rekoleksi bersama pastor. Kami belum pernah melakukan kegiatan khusus sebagai lektor. Kami lebih banyak belajar bersama. Sebagai pendamping, saya pun ikut belajar bersama dengan para lektor. Sebagai pendamping lektor, saya bertugas membuat jadwal tugas lektor tiap tiga bulan dan menyerahkannya kepada Seksi Liturgi Dewan Pastoral Paroki (DPP). Setiap Sabtu sore, kami belajar Bersama sambil memastikan para petugas bisa bertugas sesuai jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya. Saat tertentu, saya mesti stand by menggantikan lektor yang mendadak berhalangan untuk bertugas.

Apa syarat menjadi lektor? Syarat pertama tentu beragama Katolik – telah dibaptis – telah menerima Komuni Pertama. Terkait domisili, tentunya bertempat tinggal di pusat paroki (Pangkalan Kerinci) dan bisa bertugas di gereja paroki. Selain itu, yang bersangkutan/individu tersebut telah mengikuti rekoleksi dan dilantik oleh pastor paroki. Tentang belajar bersama tiap Sabtu sore, biasanya kami belajar membaca kutipan bacaan Kitab Suci yang akan dibawakan esuk harinya. Di kesempatan ini, di antara kami memberikan masukan apabila terdapat kekurangan atau kekeliruan saat membacakan kutipan Kitab Suci; misalnya perhatian pada tanda baca, pemenggalan kalimat, dan mimik wajah.Lewat lektor, umat diharapkan dapat lebih memahami inti bacaan Kitab Suci.

Saat kutipan dibacakan, lektor memenggal kalimat, jeda sejenak, memberikan penekanan, dan intonasi pada kalimat tertentu. Melalui lektor pula, umat yang mendengarkan kutipan Kitab Suci dapat lebih mudah memahami inti bacaan tersebut. Boleh dikatakan, lektor berperan membantu umat lebih mudah memahami inti bacaan Kitab Suci. Suatu hal yang menggembirakan dan suka cita bila para lektor bisa bertugas dengan baik, menyampaikan Firman Tuhan, dimengerti dan diresapkan umat. Namun, adakalanya, sebagai pendamping lektor, saya mengalami kedukaan. Ketika orang yang telah ditugaskan – sesuai jadwal –tiba-tiba berhalangan. Saya harus cepat mencari penggantinya. Begitupun ketika latihan berlangsung ternyata pesertanya datang terlambat, bahkan tidak bisa hadir. Ada pula ‘permintaan khusus’, terutama saat perayaan hari-hari besar Gereja, di antara umat yang tiba-tiba “menyodorkan” dirinya atau anaknya sebagai lektor. Tanpa ada pembekalan atau latihan bersama sebelumnya. Karena sudah ada aturannya, tentu saja permintaan itu tidak bisa dilayani. ***

 Togi Manullang
Pendamping Lektor Paroki Hati Kudus Yesus Pangkalankerinci, Riau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.