Gagasan untuk Perayaan BKSN 2022

Setiap Bulan September didedikasikan oleh Gereja Katolik Indonesia sebagai Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Selama bulan tersebut, umat Katolik dalam berbagai komunitas dan kategori diarahkan untuk mengakrabi Kitab Suci dengan berbagai kegiatan seperti katekese dan kegiatan-kegiatan pendalaman Kitab Suci lainnya. Setiap BKSN mengambil tema tertentu dan tema BKSN tahun 2022 ini adalah Allah Sumber Harapan Hidup Baru, dengan ayat emas: “Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup” (Amos 5:6).

Dalam Kata Pengantar dari Buku Panduan BKSN Tahun 2022, Ketua Lembaga Biblika Indinesia (LBI), R.P. Albertus Purnomo, OFM menjelaskan bahwa tema ini diangkat dengan mempertimbangkan tren situasi aktual sekarang. Lebih lanjut diuraikan; Di tengah wabah Covid-19 yang masih muncul di sejumlah tempat di belahan dunia dan secara khusus di Indonesia, ketakutan dan kekhawatiran yang sebelumnya melanda masyarakat kita perlahan-lahan mulai mereda. Gencarnya vaksinasi yang digalakkan pemerintah tampaknya telah mampu menciptakan kekebalan kelompok terhadap penyakit ini. Aktivitas sosial dan perekonomian pun mulai bergerak normal kembali. Ini menandakan harapan masyarakat untuk kembali bangkit dari problem dan kekecewaan karena pandemi sudah mulai merekah.

Namun, penting juga dicatat bahwa persoalan di dunia ini tidak pernah berhenti. Ketika pandemi Covid-19 sudah mulai teratasi, dunia tiba-tiba dikejutkan dengan perang yang terjadi di Ukraina, yang pasti akan berdampak pada aktivitas manusia di tingkat internasional, baik secara ekonomi, politik, maupun sosial. Entah secara langsung atau tidak langsung, kita sebagai bagian dari warga dunia pasti akan terkena dampak dari perang ini. Kita tentu saja berharap agar perang di Ukrania segera selesai, sehingga tercipta tatanan kehidupan dunia yang penuh kedamaian dan keadilan.

BKSN 2022 mengajak kita sebagai umat Gereja Katolik di Indonesia untuk merenungkan kembali sosok Allah sebagai sumber harapan hidup baru bagi orang beriman. Secara khusus, kita akan merenungkan dan merefleksikan tentang harapan ini berdasarkan perikop-perikop yang diambil dari kitab Nabi Amos dan Hosea. Bersama dengan Nabi Amos dan Hosea, kita akan merefleksikan dan mempelajari tentang bagaimana menumbuhkan harapan untuk menangkis mentalitas keagamaan palsu, untuk melawan ketidakadilan, untuk mengenal kasih setia Allah, dan untuk mengenal Allah yang penuh kerahiman.

Berikut ini adalah gagasan pendukung empat subtema pertemuan katekese BKSN 2022 yang diambil dari Buku Panduan BKSN 2022 Lembaga Biblika Indonesia, ditulis oleh R.P. Petrus Cristologus Dhogo, SVD

Mendalami Teks

Selama Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2022 ini kita akan mendalami empat subtema yang semuanya berhubungan dengan hidup baru yang diharapkan. Keempat subtema tersebut adalah hidup keagamaan yang sejati, hidup yang adil, hidup yang berdasarkan kasih setia Allah, dan hidup yang penuh dengan kerahiman Allah. Kita akan mengambil teks-teks inspiratif dari kitab Amos dan Hosea. Kedua nabi ini, Hosea dan Amos, aktif berkarya pada pertengahan abad VIII SM.

Nabi Amos

Amos merupakan seorang peternak domba dari Tekoa, dekat Betlehem (Am. 1:1), di bagian selatan Israel. Profesi lain dari Amos adalah pemetik buah ara (Am. 7:14). Meskipun demikian, ia dipanggil Tuhan menjadi nabi dan bernubuat di wilayah utara Israel. Ia diperkirakan berkarya pada masa pemerintahan Raja Yerobeam II di Kerajaan Utara (760-750 SM) dan Raja Uzia di Kerajaan Selatan (783-743 SM). Pada periode ini, bangsa Israel mengalami kemajuan dan kemakmuran. Wilayah kerajaan makin diperluas dan perdagangan makin berkembang.
Sayangnya, kemajuan dan kemakmuran ini mendatangkan mentalitas konsumerisme, ketidakadilan sosial, kemerosotan moral, dan hidup keagamaan yang palsu. Mereka yang berkuasa dan kaya memakai keunggulan mereka demi kemapanan hidup mereka sendiri. Terjadi penindasan dan ketidakpedulian terhadap masyarakat kecil. Ibadah mereka yang kelihatannya dipenuhi dengan kurban bakaran tidak sesuai dengan praktik hidup harian yang amat jauh dari kebenaran dan keadilan. Amos tampil untuk membela hak orang-orang kecil. Ia mengecam terjadinya ketidakadilan sosial, kemerosotan moral, materialisme, dan hidup keagamaan yang palsu. Ia sendiri dianggap gila dan aneh karena mewartakan keruntuhan dan kehancuran Israel di tengah keadaan yang makmur dan kuat.

Nabi Hosea

Nabi Hosea, yang namanya berarti “Tuhan adalah keselamatan”, berasal dari wilayah utara dan berkarya di Kerajaan Utara, sezaman dengan Amos. Pelayanannya tampaknya berakhir beberapa tahun sebelum kehancuran ibu kota Israel, Samaria, pada tahun 722 SM. Karena sezaman dengan Nabi Amos, situasi yang dihadapinya pun sama.

Hosea berkonsentrasi pada kehidupan religius orang Israel yang mengalami penurunan drastis. Tema utama dari pewartaannya adalah cinta kasih Allah dan pengkhianatan manusia atas cinta Allah tersebut. Ia memakai term “zina” (misalnya Hos. 2:1) untuk mengungkap­kan ketidak-setiaan Israel terhadap Tuhan. Perkawinannya sendiri dengan seorang pelacur yang bernama Gomer merupakan simbol dari upaya Tuhan untuk memang­gil kembali Israel yang tidak setia. Nama anak-anaknya juga menegaskan hal yang sama. Secara berturut-turut nama anak-anaknya adalah Yizreel yang berarti “Tuhan mena­bur” (Hos. 1:4), Lo-Ruhama yang berarti “tidak disayangi” (Hos. 1:6), dan Lo-Ami yang berarti “bukan umat-Ku” (Hos. 1:9).

Meskipun memberikan banyak kecaman dan kritik terhadap praktik hidup keagamaan yang tidak benar yang berujung pada hukuman, Hosea juga berupaya memberikan jalan keluar. Ia menubuatkan bahwa Israel akan dipulihkan, dan antara Tuhan dan Israel akan terjalin kembali relasi seperti seorang bapak dan anak, atau suami dan istri (Hos. 1:10; 2:15). Semuanya itu bergantung pada kesediaan orang Israel untuk kembali kepada Tuhan atau tidak.

Subtema

Kedua nabi tersebut memainkan peranan khas dalam sejarah Kerajaan Utara atau Israel. Nabi Amos hadir sebagai seorang pengkritik dalam kehidupan sosial. Ia melihat ketidakadilan dan hal-hal yang dangkal dari kehidupan iman. Dua perikop dari kitab Amos, yaitu Am. 5:4-6 dan Am. 5:14-17, menjadi perikop yang didalami dalam pertemuan pertama dan kedua.

Sementara itu, Hosea berkonsentrasi membenahi relasi antara umat Israel dan Tuhan, yang kelihatannya sudah tidak baik. Orang Israel tidak lagi mengandal­kan Tuhan. Mereka malah berpaling kepada dewa-dewi lain, padahal Tuhan sudah menunjukkan kerahiman dan belas kasihan-Nya kepada mereka, juga berkenan menerima mereka lagi jika mereka berbalik kepada-Nya. Dari kitab Hosea, kita akan mendalami subtema ketiga dan keempat, yang berbicara tentang Allah yang setia dan yang penuh dengan kerahiman. Dua teks yang dipilih adalah Hos. 6:1-6 dan Hos. 11:1-11.

Pertemuan-pertemuan:
1. Allah Sumber Harapan untuk Menangkis Mentalitas Keagamaan Palsu (Am. 5:4-6).
2. Allah Sumber Harapan untuk Melawan Ketidakadilan (Am. 5:14-17).
3. Allah Sumber Harapan karena Kasih Setia-Nya (Hos. 6:1-6).
4. Allah Sumber Harapan karena Kerahiman-Nya (Hos. 11:1-11).

Pada pertemuan pertama, kita akan mendalami subtema: “Allah Sumber Harapan untuk Menangkis Mentalitas Keagamaan Palsu.” Tidak dapat disangkal bahwa selama masa pandemi ini, kehidupan iman kita sungguh diguncang. Menanggapi hal itu, berbagai cara dibuat untuk meningkatkan relasi dengan Allah. Meskipun demikian, ada yang secara salah memahami dan menjalankan hidup keagamaannya, bahkan ada pula yang memilih cara-cara lain yang bertentangan dengan iman yang dianutnya. Seruan Amos di Am. 5:4-6, membantu kita semua untuk melihat dan mengevaluasi kembali mentalitas hidup keagamaan kita yang bisa saja jauh dari yang diharapkan. Pada zamannya, orang Israel berupaya membina relasi dengan Tuhan, tetapi mereka tidak menemui-Nya. Itulah sebabnya, melalui Amos, Tuhan dua kali meminta orang Israel untuk mencari-Nya. Kita pun diajak untuk mencari dan mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh.

Pada pertemuan kedua, kita diajak untuk mendalami subtema: Allah Sumber Harapan untuk Melawan Ketidakadilan. Wabah Covid-19 mengakibatkan terciptanya kesenjangan sosial. Yang miskin menjadi kian miskin, sementara ada segelintir orang yang menikmati keuntung-an dari wabah ini. Selain itu, terdapat pula ketidakadilan sosial lainnya yang menimbulkan kerentanan dalam relasi sosial. Seruan Tuhan melalui Amos agar umat mencari keadilan dan meninggalkan kejahatan merupakan seruan yang sangat relevan bagi situasi kita sekarang ini. Ketidakadilan akan memisahkan relasi satu sama lain dan dengan Tuhan sendiri. Hidup baru adalah hidup yang ditandai dengan merajanya keadilan dan bertumbuhnya kebaikan.

Pada pertemuan ketiga, kita akan mendalami subtema: Allah Sumber Harapan karena Kasih Setia-Nya. Selama pandemi, Allah kelihatan diam dan tidak menunjukkan kuasa-Nya, tetapi sesungguhnya Ia tetap bekerja dan menuntun umat manusia kepada jalan keselamatan. Melalui Nabi Hosea, Allah meminta agar umat Israel setia kepada-Nya. Ia sendiri setia kepada umat-Nya dan terus berupaya agar relasi kasih setia itu tidak putus. Bagi Allah, yang terpenting adalah kasih setia, bukannya kurban persembahan. Hidup yang baru adalah hidup yang dipenuhi dengan kasih satu sama lain karena menyadari bahwa setiap pribadi dikasihi Tuhan

Pada pertemuan keempat, kita akan mendalami subtema: Allah Sumber Harapan karena Kerahiman-Nya. Di tengah perjuang­an dan keputusasaan akibat wabah Covid-19, kerahiman Allah sepertinya hilang dan tidak dirasakan oleh umat. Kematian dan kehilangan yang tragis membuat orang merasa tidak lagi menemukan sosok Allah yang berbelaskasihan. Melalui Nabi Hosea, Allah menyatakan bahwa Ia menarik kita dengan tali kesetiaan. Sama seperti Ia tidak menyerahkan bangsa Israel ke dalam penderitaan akibat musuh, Ia juga tidak akan membiarkan kita, umat-Nya, terus menderita dalam hidup. Allah yang Maharahim terus berjalan bersama dan menuntun kita dengan tali kesetiaan menuju kebebasan sejati. (ist)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.