Seiring perkembangan zaman, pewartaan Firman Tuhan bukan hanya melalui tatap muka dalam pertemuan di ke­lompok basis dan kelompok kategorial Gereja saja. Kini banyak media pewartaan Firman Tuhan lewat jejaring sosial, semacam Face­book (FB), WhatsApp (WA), Instagram (IG), Zoom, dan sebagainya.

Di berbagai kelompok kategorial Gereja banyak kegiatan yang membahas Firman Tuhan. Ada yang menyampaikannya dalam bentuk renungan. Ada banyak kaum tertahbis, biarawan-biarawati, katekis, awam yang memberi perhatian khusus pewartaan melalui media sosial ini. Pertanyaannya: Efektifkah? Yang mesti dipahami, diyakini, dan imani bahwa Injil (Kabar Gembira) bukanlah ilmu pengetahuan yang bisa dimengerti dengan cara menghafal atau mempelajarinya seturut pikiran manusia saja. Kecerdasan terkadang bisa menyatakan hal-hal yang tersembunyi dari berbagai ilmu pengetahuan, namun kandungan ilmu pengetahuan tetaplah terbatas. Ilmu pengetahuan diciptakan oleh kemampuan daya pikir manusia maka terbatas.

Injil (Kabar Gembira) adalah karya Allah Bapa yang diwujudkan oleh Allah Putera, dicatat atau dijadikan dalam bentuk tulisan oleh Para Rasul seturut arahan, tuntunan, ilham Allah Roh Kudus. Maka, segala hal yang dimaksud atau tersembunyi di dalam Injil (Kabar Gembira) tidaklah statis, tetapi dinamis! Semuanya sejalan, searah, seirama dengan pola pikir manusia yang telah dipenuhi dalam kehidupan Para Rasul, Jemaat Perdana, para Martir, Santo dan Santa yang terus berlanjut hingga saat ini.

Oleh sebab itu, pewartaan Firman Tuhan harus dimulai dari setiap pribadi, kehidupan berkeluarga, dalam hidup menggereja, dan berpuncak pada kehidupan sesama tanpa batasan apapun juga. Inilah bukti, Firman Tuhan itu hidup dan menghidupkan kehidupan manusia sampai selama adanya kehidupan itu. Kebutuhan pewartaan Firman Tuhan sangat dibutuhkan. Bukan hanya melalui media sosial saja, karena semuanya itu hanyalah tuntunan, pedoman setiap pengikut Kristus dalam menghayati, mengimani dan menyatakan Injil (Kabar Gembira) – sebagai landasan hidup sejati. Kitab Suci bukanlah sekedar buku yang dipajang sebagai identitas diri belaka. Saat pemberkatan pernikahan pasutri baru mendapatkan benda-benda suci (rohani), di antaranya Alkitab (Kitab Suci), dari orangtuanya dengan maksud pasutri baru menjadikan Kitab Scui sebagai dasar kehidupan berkeluarga.

Caranya, menggali nilai-nilai keimanan yang terkandung di dalamnya. Melalui cara inilah kedekatan dengan Tuhan Yesus semakin mewarnai kehidupan yang dijalani. Melalui Kitab Suci, kita dimampukan hidup seturut kehendak-Nya. Pada saatnya diutus mewartakan FirmanNya – dimulai dari lingkup keluarga, hidup menggereja, dan masyarakat luas tanpa memandang batasan apa pun. Mewartakan Firman Tuhan itu sama halnya bersedekah atau tindakan amal bakti; seseorang harus punya dalam dirinya untuk dibagikan kepada sesama. Oleh karena itu, kita harus selalu belajar untuk mengerti, mema­hami, dan meyakini segala hal yang dikandung atau dinyatakan dalam Kitab Suci. Apa pun bentuk dan cara kerasulan Kitab Suci hanyalah tuntunan, cara, dan sarana yang menghantarkan setiap pengikut Kristus lebih mencintai Kitab Suci. Mencintai Firman Tuhan sama seperti mencintai Tuhan Yesus sendiri, karena Tuhan Yesus adalah Firman itu sendiri, Allah yang hidup. *** 

Ramli Jafar
Umat Paroki Katedral St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus Padang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.