jangan hilang Harapan

HARI MINGGU BIASA XXVIII (9 Oktober 2022)
2Raj. 5:14-17; Mzm. 98:1, 2 – 3ab, 3cd – 4;
2Ti. 2:8 – 15; Luk. 17:11 – 19 

MASIH INGATKAH Anda masa-masa awal pandemi Covid-19? Saat itu, orang yang terkena Covid seolah-olah seperti sampah masyarakat. Dijauhi dan dikucilkan orang; te­tangga bahkan sanak saudara. Itulah gambaran penderita kusta seperti dalam Injil hari ini.

Penyembuhan sepuluh orang kusta dalam terjadi ketika Tuhan Yesus sedang dalam perjalanan menuju ke Yerusalem, Di kota ini Tuhan Yesus ditolak, menderita, wafat disalibkan, dan di tempat itu juga bangkit. Hukum adat dan agama di Israel dulu meng­garis­kan, orang kusta yang sembuh baru akan diterima kembali ke dalam masyarakat setelah dinyatakan sembuh dalam upacara yang hanya dilakukan para imam.

Hanya imamlah yang berhak menyatakan “najis” (kotor karena kusta) atau “tahir” (bersih, sembuh dari kusta). Tujuannya sebenarnya menjamin agar kurban dan upacara kurban hanya dilakukan dan diikuti mereka yang bersih. Tentunya semua ini pada awalnya berkaitan dengan upaya pencegahan penularan. Tetapi dalam praktiknya justru membuat orang yang sudah sakit, semakin sakit dan menderita lahir dan batin. Maka, sudah jatuh tertimpa tangga.

Dalam kondisi seperti itu, Yesus adalah harapan mereka. Mereka ingin mendapatkan belas kasihan, bukan kesembuhan saja. Dengan menyuruh kesepuluh orang kusta itu menghadap imam-imam, Yesus menghormati hukum agama yang dikeramatkan. Tetapi sungguh tidak mudah bagi para penderita kusta. Yesus sebetulnya hanya mau menghimbau imam-imam agar keluar dari rambu-rambu yang menyesakkan itu. Para penderita kusta itu tentu sulit atau bahkan tak ada kemungkinan menghadap imam.

Tetapi justru ketika mereka menjauh dari Yesus mendapati dirinya dibersihkan. Mereka sembuh dari penyakit kusta. Tentu saja mereka senang. Tetapi apakah mereka mudah mendapatkan pengakuan resmi telah sembuh dari imam-imam? Lukas hanya mengisahkan bahwa salah satu dari kesepuluh orang yang sembuh tadi kembali menghadap Yesus. Orang itu memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Ia orang Samaria, orang asing, bukan orang Yahudi, bukan dari kaum sendiri. Dari orang kusta ini, kita belajar tidak kehilangan harapan yang sesungguhnya. Ia satu-satunya orang yang berhasil menembus keputusasaan. Ia yakin, Yesus akan menyembuhkannya dari kusta. Karena imannya, semua itu terjadi. Maka pantaslah ia memuliakan Allah.

Kita jangan seperti imam-imam yang menambahkan penderitaan sesama yang sedang sakit. Berikanlah penghiburan, sehingga sakitnya terasa ringan. Jangan ucapkan kalimat yang membuatnya bertambah sakit dan menjadi beban pikiran. Bangkitkan semangatnya untuk senantiasa ingat Tuhan yang akan membuatnya tahir dan lepas dari penderitaan. Tolonglah supaya tidak putus dan hilang harapan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.