Saya bersuka cita diberi Tuhan seorang suami yang sungguh-sungguh mendampingi dengan penuh kesabaran. Saya kini berusia 49 tahun, menikah dengan Teali Bawamenewi (57 tahun) di Gereja Katedral Padang pada 20 November 1994. Kami dan dikaruniai tiga anak, yaitu: Antonius (24), Katarina Cecilia (21), Marselinus Randi (18). Mereka sungguh luar biasa bagi kami. Merekalah ‘kado terindah’ Tuhan berikan dalam kehidupan saya.

Kami orang biasa. Sejak tahun 1994, saya berjualan kecil-kecilan di pinggir jalan menggunakan gerobak. Pagi hari saya berjualan rokok dan aneka jajanan. Sorenya saya menjual pisang goreng. Malam harinya, secara bergantian, saya dan suami mencari kara-kara atau barang bekas. Saat itu, suami jadi pemborong pemasangan plafon gipsum.

Seiring berjalannya waktu, anak-anak makin besar, kebutuhan hidup bertambah pula. Saat anak-anak mulai bersekolah biaya makin banyak dan terasa semakin berat. Penghasilan dari gerobak kedai tidak menentu. Ada kalanya ramai, namun di lain waktu sepi. Tahun 2000, saya dan suami berusaha mencari tambahan penghasilan dengan menjadi driver ojol (ojek online) hingga kini.

Saat masa pandemi semakin berat lagi. Suami saya tidak mendapatkan orderan pemasangan gipsum lagi, karena tidak ada proyek lagi. Begitupun dengan berjualan di gerobak juga sepi. Kami sempat menunggu waktu untuk ‘menggerobak’ lagi, namun setelah sekian lama tak kunjung situasi normal, akhirnya terjuallah semua barang tersebut. Bila semula sebagai driver ojol hanya penambah penghasilan keluarga agar asap dapur tetap mengepul, dua tahun terakhir profesi ini menjadi sumber penghidupan kami.

Sebagai driver ojol , saya merasakan tidak seberat dan sekeras saat menggerobak (1994 – 2005). Kala itu, kami berjualan dua puluh empat jam sehari. Boleh dibilang, saat itu, saya, suami, dan anak tidur di tepi jalan dalam gerobak. Kami bergantian waktu untuk layani pembeli di kedai gerobak. Tiga anak kami pun merasakan semuanya itu. Kami membawa mereka tinggal di kedai gerobak tersebut. Saat itulah kehidupan paling berat bagi kami. Menjalani semuanya itu, kami berprinsip pekerjaan seberat apa pun jika dilakukan dengan hati ikhlas akan terasa ringan.

Sebagai driver ojol, sehari saya bisa mendapatkan penghasilan seratus lima puluh ribu hingga dua ratus ribu sehari. Begitu juga dengan suami. Namun, ini bagai ‘rezeki harimau’ tergantung pada banyak-sedikit orderan yang masuk. Walau begitu, ada hal yang patut kami syukuri, dua anak saya telah bekerja. Si bungsu sedang kuliah semester tiga. Saya kagum dengan si sulung yang siap membantu adik-adik dan orangtuanya. Anak kedua pun demikian. Mereka membantu uang kuliah si bungsu, kontrakan rumah, dan listrik.

Banyak suka dan duka, jatuh bangun kehidupan keluarga kami, terutama dalam mencukupi kebutuhan pendidikan anak. Boleh dikatakan, kami menyekolahkan tiga anak hingga SMA dengan cara ‘gali lobang tutup lobang’. Tunggakan pembayaran uang sekolahnya bisa mencapai lima hingga enam bulan. Ada kepala sekolah yang mengerti dan memahami keadaan ekonomi kami yang kerap terlambat membayar uang sekolah, terutama saat anak pertama dan kedua bersekolah. Tidak demikian halnya saat anak ketiga, beda situasi karena beda kepala sekolahnya.

Kesan saya, kepala sekolah ini kurang belas kasihannya. Tidak ada keringanan atau toleransi dalam pembayaran uang sekolah. Saat itu, hidup keluarga kami serba pas-pasan. Kalau dibilang kurang, seakan saya tidak bersyukur. Bila dibilang berlebih, kenyataannya masih banyak kekurangan­nya. Atas semuanya itu, kami bersyukur pada Tuhan diberi kesehatan dan anak-anak yang mau mengerti dengan keadaan keluarganya, tidak banyak tuntutan ini itu. Sedari kecil mereka sudah merasakan sulitnya kehidupan. Mereka mau menger­ti keadaan keluarganya, meneri­manya tanpa mengeluh. Mereka pun tetap bersemangat.

Tutup Kedai, Tidak Makan

Pernah suatu ketika, tatkala si nsulung masih bocah berkata, “Ma, mengapa kita tidak pernah tutup jualan? Gerobak orang lain ada saatnya tutup.” Saya katakan padanya, “Kalau kita tutup jualan gerobak ini, maka tutup pula makan kita sehari-hari. Kalian makin besar dan butuh biaya. Itulah yang papa dan mama carikan untuk kalian.”

Apa pun kami lakukan untuk dapatkan penghasilan. Saya pun menyertakan anak-anak, termasuk saat mencari kara-kara, barang bekas di tempat sampah. Tidak ada kata malu bagi kami. Saya nasihatkan kepada mereka bertiga untuk tidak punya sifat dan sikap pemalu. Mengapa mesti malu kalau kita tidak mencuri, pekerjaan sesuatu yang halal?! Saya katakan kepada mereka, “Kita makan dengan rezeki kita. Kalau kita hidup karena malu atau gengsi, bisa kelaparan!” Di kesempatan lain, ketika anak-anak masih kecil, ada ujaran dari saudara suami saya yang sungguh membekas dan tidak bisa dilupakan. Kala itu, suami saya bekerja menggali septic tank untuk water-closet (WC). Seorang anak saudara suami saya berkata kepada si sulung, “Kalau bapakmu tidak menggali WC, kalian tidak makan kan!” Perkataan itu saya ketahui saat si sulung curhat dan mengulangi ucapan senada yang pernah diterimanya dari sepupunya, “Kalau papa tidak menggali WC, maka tidak mungkin saya bisa kuliah!”

Anak kedua kami pun pernah mendapatkan perundungan verbal dari saudara suami. Anak kami dikatakannya mengalami kelainan mental sehingga diusulkannya untuk dimasukkan ke sekolah luar biasa (SLB). Kata-kata tersebut sungguh menusuk hati saya. Saya sulit melupakannya. Kenyataannya, anak kedua saya tidak mengalami kelainan mental, normal-normal saja. Kepada anak-anak, saya pesankan dan berikan nasihat untuk bersabar kalau menghadapi perundungan (bully)-an tersebut. Saya pesankan juga, “Apa pun kata maupun hinaan pada kita, tidak usah ditanggapi. Yang penting, kita selalu bersyukur kepada Tuhan. Lebih baik diam saja. Diam, juga bukan berarti takut atau kalah. Diam agar kita tidak membesarkan omongan orang. Kalau kelak kehidupan keluarga kita sudah berubah dan lebih baik, janganlah bersikap sombong pada orang lain. Bantulah orang lain yang membutuhkan pertolongan, karena kita sudah pernah mengalaminya.” ***
(Disarikan dari wawancara dengan Maria Veronika Leoanti)/hrd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.