SANTA MARIA PADANG – Kapel sederhana Stasi Santo Stefanus Sungaipisang, Paroki Santa Maria Bunda Yesus Tirtonadi Padang porak-poranda. Hujan lebat selama dua hari, 1-2 September 2022, membuat tanah sekitar bangunan kapel bergerak. Sebagian tanah, longsor menembus dinding kapel. Lumpur masuk dan meng­genangi lantai kapel. Lumpur sete­bal lima senti meteran itu memenuhi lantai kapel. Di beberapa tempat gundukan tanah perbukitan sam­ping kiri kapel tampak rawan, sewaktu-waktu bisa longsor.

Pengamatan GEMA, pada Senin (5/9), kapel yang biasa digunakan untuk peribadatan umat Katolik ini masih centang perenang. Lumpur basah masih berserakan di bagian dalam dan luar bangunan. Tidak hanya genangan lumpur, angin kencang pun menyebabkan beberapa lembar atap seng kapel ini terlepas.

Kapel sederhana yang terdapat di pinggang bukit ini tidak bisa lagi digunakan untuk beribadat, apalagi bila hujan deras meng­guyur. Akses jalan setapak menuju kapel dari jalan raya dari Padang menuju kawasan wisata Puncak Mandeh juga berbahaya. Erosi akibat hujan deras menggerus tepian sungai. Lebar jalan yang biasanya dilalui kini mengecil. Kini, jalan setapak ini semakin mendekati bibir sungai. Umat yang berniat ke kapel mesti ekstra hati-hati melewati jalan setapak ini.

Pastor Paroki St. Maria Bunda Yesus Tirtonadi Padang, P. Bernard Lie, Pr mengakui situasi serba tidak nyaman dan membahayakan untuk menggunakan kapel tersebut. “Belum lama ini, kami mengganti atap tengahnya yang rusak setelah tertimpa pohon kayu. Setelah atap diperbaiki, sekarang longsoran tanah liat dan lumpur menimpa kapel ini. Tidak hanya ancaman longsor, saat hujan deras, jalan setapak menuju kapel sangat tidak aman, sewaktu-waktu bisa terban. Dalam situasi se­perti ini, mau tidak mau, harus men­cari lokasi baru, tempat yang lebih nyaman untuk beribadah umat Kato­lik. Tetapi yaaa, di mana?” katanya. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.