Saat frater Tahun Orientasi Pastoral (TOP) yang sangat minim pengalaman berpastoral, saya bertanya pada seorang pastor tua tentang Pedoman Dewan Pastoral Paroki (DPP) sebagai rujukan praktek pastoral. Pastor tersebut spontan menjawab, “Semuanya ada dalam Kitab Suci! Apakah Frater tidak yakin dengan isi Kitab Suci?”

Jawaban basa-basi pastor itu ternyata bukan sekadar basa-basi. Jangankan Pedoman Pastoral, bahkan apa pun yang terkait dan mengatur kehidupan dan aktivitas manusia, harusnya berdasarkan – berpedoman pada Kitab Suci. Idealnya demikian. Namun kenyataannya berbeda. Banyak orang tidak paham, apalagi mendasarkan diri dan kehidupannya pada Kitab Suci. Di dalam Gereja, persoalan ini selanjutnya menjadi tanggung jawab para agen – ternaga pelayanan pastoral untuk mengupayakan agar Kitab Suci atau Firman Allah dikenal, dihayati dan diaktualisa­sikan dalam aktivitas hidup kaum beriman. Kitab Suci menjadi dasar dan pedoman dalam kehidupannya.

Para pemimpin umat termasuk para pastor, idealnya tidak sekadar membacakan Kitab Suci saat ibadat atau misa dan berkhotbah; tetapi juga merancang pelbagai kegiatan pastoral agar Firman Tuhan sungguh dikenal, menjiwai dan menjadi bagian hidup umat beriman. Maka, untuk mencapai suatu kehidupan yang semakin akrab dengan Kitab Suci serta mengantar kaum beriman pada pengertian lebih tepat tentang arti Sabda Allah dalam bahasa manusia, umat beriman hendaknya diantar untuk memandang dan menemoatkan Kitab Suci sebagai Buku Kehidupan. Artinya, Kitab Suci yang menyak­sikan karya dan Sabda Allah dalam kehidupan manusia dan jawaban manusia dalam penghayatan hidupnya sehari-hari. Jika umat beriman menghayati dan menjalani hidupnya secara baik dan benar – sesuai Firman Tuhan – maka mereka pun akhirnya tahu dan menyadari bahwa Kitab Suci sesungguhnya adalah pedoman sikap dan perilaku hidup mereka sendiri, yang baik dan benar di hadapan Allah dan sesamanya.

Kerasulan Kitab Suci

Setiap tahun, di bulan September, Gereja mengkhususkan waktu menjadikannya Bulan Kitab Suci. Empat tahun pengalaman saya sebagai imam muda di suatu paroki di Keuskupan Larantuka (NTT), saya mengguna­kan momen ini untuk menyelenggarakan ber­bagai kegiatan berkaitan Kitab Suci di beberapa kelompok kategorial yang saya dampingi. Hal sama saya lakukan saat bertugas di Paroki Keluarga Kudus Pasaman Barat.

Berdasarkan pengalaman di dua tempat tersebut, meskipun cukup meriah dan mengesankan, tetapi kegiatan (Lomba Baca Kitab Suci, Kuis Kitab Suci, Lomba Mazmur, Dramatisasi Kitab Suci) belum cukup mengantar umat mema­hami, menghayati dan mengaktualisasi­kan Kitab Suci secara memadai dalam hidup. Kitab Suci seharusnya tidak sekadar dihadirkan secara momental (BKSN) tetapi berkelanjutan. Kitab Suci mestinya menjadi bagian hidup dan sahabat kaum beriman setiap hari.

Ada kebiasaan menarik di Paroki Keluarga Kudus Pasaman Barat. Di beberapa stasi, setiap malam Minggu, OMK selalu mengadakan kegiatan Pendalaman Kitab Suci (PKS) bergilir dari rumah ke rumah. Mereka berkumpul untuk membacakan teks Kitab Suci yang ditentukan bersama. Selanjutnya, mereka men-sharing-kan pengalamannya berdasarkan ayat Kitab Suci yang dianggap mengesankan. Mereka saling berbagi dan meneguhkan. Kebiasaan baik ini saya harap tidak hilang begitu saja, tetapi semakin hari semakin ditingkatkan. Meskipun seminggu sekali, OMK Pasaman Barat tetap dekat dan mencintai Kitab Suci dengan cara dan gaya mereka. Para pelayanan pastoral mesti memperhatikan hal ini.

Hal yang sama belum ada di Paroki St. Ignatius Pasir Pengaraian. Kiranya pengalaman pastoral di paroki sebelumnya menginspirasi dan dilanjutkan di Pasir Pengaraian. Bersama pastor rekan dan frater TOP, kami merancang kegiatan BKSN 2022 bagi kelompok kategorial (OMK, BIR, WKRI). Hal mendasar, tentu tidak sebatas pada momen itu. Sekurang-kurangnya, hal baik yang ada di Paroki Keluarga Kudus Pasaman Barat bisa terjadi di paroki ini.

Tantangan dan Solusi

Setiap upaya memang selalu ada tantangan/kesulitan, termasuk hal kerasulan Kitab Suci. Tantangan bisa datang dari luar dan dari dalam (komunitas Gereja Katolik). Itulah kenyataan hidup di tengah situasi dunia yang terus berkembang di berbagai bidang kehidupan. Orang jadi jarang membaca Kitab Suci, apalagi merenungkan dan mengambil hikmah untuk hidupnya. Kitab Suci sekedar menjadi buku penghias di pojok ruang doa, kadang dibaluti debu karena tak pernah disentuh. Sebab lain, kekurangan tenaga pastoral. Beberapa katekis – untuk membantu karya Kerasulan Kitab Suci – sering terbentur dengan kesibukan pribadi.

Di Paroki Pasir Pengaraian – dengan 36 stasi, yang jarak tempuhnya ada yang dua tiga jam, kerasulan Kitab Suci terasa makin menantang. Apa pun kesulitannya, tetap ada optimisme dan terus berupaya mengem­bang­kan karya Kerasulan Kitab Suci meski kadang terasa sangat kecil, bahkan tak nampak hasilnya.

Langkah awal sebagai upaya solutif yang dapat dilakukan di sini adalah pemberdayaan para katekis – pengurus Gereja di stasi-stasi untuk terlibat semakin aktif dalam karya Kerasulan Kiab Suci. Di Pasaman Barat, beberapa orang muda yang dipandang mampu, bisa diberdayakan untuk menolong teman-temannya untuk mendalami dan merenungkan Kitab Suci dalam kegiatan PKS. Di Pasir Pengaraian tentu juga bisa. Di Paroki Pasir Pengaraian, hingga kini memang belum ada kegiatan yang spesifik berkaitan dengan Kerasulan Kitab Suci. Semoga pandemi Covid-19 segera berlalu agar lebih leluasa menyeleng­garakan berbagai kegiatan pastoral di paroki, termasuk Kerasulan Kitab Suci.

Saya berharap umat secara pribadi dan mandiri, sadar diri akan kebutuhannya terkait Kitab Suci. Umat sadar bahwa kehidupannya mesti menda­sar­kan diri pada ajaran Kitab Suci. Kesadaran ini dapat membangkitkan semangat untuk dekat dan bersahabat dengan Kitab Suci. Kelak, Kitab Suci jadi bagian diri dan hidupnya. Kitab Suci yang selama ini terpajang di pojok ruang doa (lemari) dibuka dan dibaca – bukan hanya saat BKSN, tetapi setiap hari. Kitab Suci yang dibaca berkelanjutan dengan penuh penghayatan atas kehadiran Allah bisa mengubah perilaku hidup. Melalui dan di dalam Kitab Suci, Allah hadir dan menyapa. Umat mesti menjawab sapaan itu.

Dengan luasnya wilayah paroki, di sini hanya tiga tenaga pastoral. Dua imam dan seorang frater melayani 36 stasi yang berlokasi jauh, terpencar dan terpencil. Suatu ketika, saya sendirian berpastoral di paroki ini. Akhirnya P. Andreas Salamanang, Pr. pada Juli 2021 menyusul saya ke paroki ini, setelah sebelumnya juga di Pasaman Barat, dan Frater TOP. Seorang Suster ALI yang kami harapkan membantu dipindahtugaskan dari paroki ini.

Sewaktu saya tiba di sini, Dewan Pastoral Paroki (DPP) telah berakhir periode/masa baktinya. Saya bergerak cepat. Beberapa orang saya mintai bantuan. Saya namakan DPP transisi sembari menyiapkan DPP baru, sembari mencari figur yang dianggap cocok. Namun hal itu tidak mudah. Sulit mendapatkan orang yang tepat dan bersedia. Tumpukan aktivitas pelayanan, keterbatasan tenaga pastoral menyebabkan pembentukan DPP tidak kunjung terlaksana hingga kini. Akibat selanjutnya, pelayanan kerasulan Kitab Suci pun tidak ada sama sekali. Beberapa pengurus lama DPP yang bersedia membantu terpaksa rangkap kerja. Jujur, agak kelabakan saya mengurus banyak urusan di paroki ini.

Kalau ditanya aktivitas kerasulan Kitab Suci, jujur saya jawab tidak ada, apalagi kalau secara intensif? Tidak hanya kerasulan Kitab Suci, aktivitas pelayanan lainnya pun ‘bernasib sama’; misalnya kegiatan katekese. Hingga kini, yang bisa dilakukan hanya sebatas pelayanan rutin; misalnya Misa Kudus pada hari Minggu dan pelayanan sakramen lainnya. Memang ada yang berbeda dengan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2022 dibanding tahun sebelumnya. Sudah dirancang aneka kegiatan tahun ini. Dua tahun sebelumnya tidak ada kegiatan apa pun akibat Covid-19. Saya rancangkan, usai BKSN hingga awal tahun 2023, disiapkan pembentukan DPP baru.

Setelah terbentuk DPP baru, bisa dirancang dan direncanakan kegiatan yang lebih spesifik. Karena pastor pasti tidak mengerjakan semuanya sendiri. Belum adanya DPP definitif ini berpengaruh pada aktivitas parokial, termasuk kerasulan Kitab Suci: bahkan terbilang tidak ada aktivitas, terhambat (mandeg). Memang prihatin melihat kondisi umat di sini. Karena tidak ada pelayanan katekese, sehingga banyak di antara umat belum memahami seutuhnya ikhwal ajaran dan seluk-beluk Gereja Katolik; apalagi kebanyakan umat di sini dulunya dari Protestan. Persoalan mendasar di paroki adalah katekese umat. Banyak yang beranggapan seakan ajaran Katolik sama dengan agama yang dianut sebelumnya. Atas situasi ini, saya ingin ada tambahan tenaga pastoral dari biara baru. Dengan demikian, katekese dan kerasulan Kitab Suci bisa terselenggara/terlaksana. (hrd)

Pastor Anselmus Liwun, Pr.
Pastor Paroki Santo Ignatius Pasir Pengaraian, Riau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.