Di paroki kami kegiatan selama Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) menggunakan panduan dari Keuskupan Padang dan dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Untuk menunjang pelayanan itu, Dewan Pastoral Paroki Harian (DPPH) dan seksi terkait mempersiapkan para fasilitator sebagai pendamping di stasi dan lingkungan. Walau setiap tahun BKSN dirayakan, kami berusaha tidak terjebak dalam rutinitas.

Kera­sul­an bidang Kitab Suci menjadi prioritas utama dalam reksa pastoral di paroki, karena tidak semua stasi mendapat pelayanan Ekaristi setiap hari Minggu. Pendalaman Kitab Suci menjadi butir pokok pembicaraan di tingkat paroki, sebagai bekal bagi para peng­urus stasi dan lingkungan. Hal ini diupayakan agar Perayaan Sabda di stasi menjadi ‘lebih agung’. Dalam pembekalan dan pelatihan para pemimpin Ibadat Sabda tingkat paroki (9/7), selain keterampilan memimpin, juga mela­kukan pendalaman makna Kitab Suci. Tidaklah tepat anggapan bahwa September (BKSN) waktu untuk lebih dekat dengan Kitab Suci. Mengapa? Karena banyak umat yang saban hari membaca dan mendengar kutipan Kitab Suci (walau tidak semuanya), di rumah maupun di mana pun berada; baik dengan buku Kitab Suci atau bacaan Kitab Suci melalui internet (e-Kitab Suci).

BKSN adalah moment bagi semakin memaknai peran penting Kitab Suci bagi diri dan keluarga. Kalau ada kesan BKSN jadi ‘ajang’ lomba terkait Kitab Suci, tidak masalah, malah bagus. Itulah ekspresi umat terhadap pentingnya Kitab Suci – yang difasilitasi Gereja. Hal itu menjadi sarana mengumatkan Kitab Suci dan meng-kitabsuci-kan umat. Tapi ingat, aneka perlombaan itu sarana, bukan tujuan. Sejauh ini umat masih menganggap membaca Kitab Suci ‘bagian atau porsinya’ para klerus dan biarawan-biarawati. Bila mau meluangkan waktu satu jam sehari untuk membaca Kitab Suci bakal terbiasa. Kalau sudah terbiasa, sehari saja tidak membaca kutipan Kitab Suci, rasanya ada yang kurang lengkap. Bagi yang sudah ter­biasa, terus tingkatkan lagi! Yang belum, mulailah. Saya pun melakukan itu setiap hari. Saya membaca Kitab Suci tidak untuk ditafsirkan, tetapi sebagai inspirasi yang menguatkan.

Apakah membaca Kitab Suci sudah menjadi kebiasaan umat Paroki Baganbatu hingga di stasi-stasi? Sejauh pemantauan DPP, sudah dilakukan. Hal itu yang selalu di-sharingkan di stasi saat kunjungan. Umat pun mulai terbiasa dengan membaca dan men­dengarkan renungan-renungan harian. Begitu­pun dalam setiap pertemuan lingkungan, fasilitator mengajak warga untuk mengung­kapkan hasil permenungan pribadi dari perikop/nats yang dibaca saat itu. Umat selalu mengungkapkan dengan senang hati. Ada yang menyatakan selalu mengikuti renungan bacaan harian, yang didapat dari internet dan buku renungan harian.

Berkaitan dengan program Kerasulan Kitab Suci oleh DPP Baganbatu, kini dalam proses pematangan, dimulai pada BKSN 2022. Dalam pembicaraan DPP Harian dirancang penyelenggaraan Kursus Kitab Suci tiga bulanan di tiap wilayah dimulai September 2022. Dilanjutkan dengan ‘tukar mimbar’ antarstasi yang sudah dijalani sebelum Pandemi Covid-19. Tahun silam (2021), sempat terputus akibat Pandemi Covid-19. Sebelum pandemi, kerasulan Kitab Suci belum menjadi prioritas dan berlangsung seadanya saja. Lewat BKSN diharapkan umat semakin mencintai Kitab Suci dengan cara rajin mem­baca Kitab Suci dan menjadikannya sebagai inspirasi hidup sehari-hari. “Sabda-Mu adalah Pelita dan Terang bagi hidupku”.

Ada hal yang bisa kita tiru dari umat Gere­ja lain. Kebiasaannya membaca Kitab Suci. Tetapi tidak untuk ditafsirkan sendiri, karena bagi umat Katolik, ajaran iman tidak hanya dari Kitab Suci saja (sola scriptura), namun juga Tradisi Gereja, Kitab Suci dan Kuasa Mengajar (Magis­terium). Inilah pembeda Gereja Katolik dengan Gereja lain. Gereja Katolik adalah Gereja Sejati yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik. Kita mesti bangga dengan ajaran Gereja Katolik.

Agar Kitab Suci semakin mengumat di stasi dan lingkungan, bisa dimulai dari para pengurusnya. Pada 9 Juli silam, terkait Ibadat Sabda dibentuklah Kelompok Kitab Suci (KKS) sebagai tanggapan atas usulan pengurus stasi. Bagi DPP, hal ini membutuhkan perhatian khusus dan sedang ‘dipertajam’ perumusan pelaksanaannya, agar tidak sekedar ada saja. *** 

Karolus Alexander Wasek, ST
Wakil Ketua DPP Santa Maria Ratu Rosario Baganbatu.
Penyuluh Agama Katolik Non PNS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.