Salam belas kasih,
Sau­dari dan saudara yang budiman, umat se-keuskupan Padang dan para pembaca GEMA yang dikasihi Tuhan. St. Hieronimus pernah mengatakan: “tidak mengenal Kitab Suci, berarti tidak mengenal Kristus.” Sesung­guh­nya, rasa ingin tahu dan kecintaan umat Katolik pada Alkitab dewasa ini semakin berkembang subur, seperti nampak pada maraknya kursus-kursus dan pendalaman Kitab Suci yang digelar di paroki-paroki di kota-kota besar. Membaca dan mendalami Kitab Suci bukan hanya merupakan kesi­bukan para pastor dan para ahli Kitab Suci, tetapi kegiatan yang juga dipraktekkan umat biasa, baik secara pribadi maupun dalam kelompok. Karena kenyataan inilah harus semakin diupayakan berbagai cara yang membantu umat untuk dapat membaca dan memahami Kitab Suci, agar Sabda Tuhan semakin efektif, semakin berperan dan berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Kiranya banyak orang Katolik menjadi semakin berani mengeksplorasi teks secara kreatif dan otentik demi satu pembacaan yang bukan untuk mencapai tujuan “informatif” belaka, tetapi terutama “transformatif.”

Pembacaan Kitab Suci yang Transformatif

Pertanyaan bagaimana Kitab Suci dapat lebih transformatif dalam kehidupan itu dimunculkan oleh Walter Wink (1938-2012), seorang pastor gereja methodis, ahli tafsir Kitab Suci dari STT Auburn di New York, yang terkenal juga sebagai aktivis anti-kekerasan dan gerakan progresif pembela hak LGBT. Dengan passion mendalam pada studi Alkitab yang berdampak pada keprihatinan pastoral yang tinggi, Walter Wink menghubungkan metode tradisional dengan satu cara pendekatan psikologis yang kreatif dan inovatif dalam bukunya, Transforming Bible Study (1980, edisi ke-2 2009). Dengan cara demikian, Wink berhasil mengintegrasikan aspek personal dan sosial dalam dinamika studi Kitab Suci, makna teks alkitabiah dalam konteks budaya aslinya dengan relevansinya pada zaman modern. Studi yang diusulkan Walter Wink menyadarkan kita bahwa transformasi metode pembelajaran Alkitab akan membawa kepada transformasi hidup para pelaku pembelajaran itu.

Dinamika kelompok Kitab Suci yang dikembangkan oleh Walter Wink memusatkan perhatian pada pembinaan para fasilitator atau penggerak jemaat yang sering datang ke pusat-pusat pembekalan dan kursus-kursus pendalaman Alkitab. Perlu disadari kursus dan pendalam­an bukan dimaksudkan sebagai pembekalan yang sifatnya informatif semata-mata (untuk kepentingan sendiri), melainkan untuk persiapan yang sifatnya transformatif, bagi para pemandu yang mau mendengar Sabda Tuhan dan berubah. Jadi, per­tama-tama diri sendiri harus ber­ubah, sebelum dapat menjadi pem­ba­wa kabar gembira yang mampu mengubah orang lain.

Pendekatan kita kepada Alkitab sering cenderung terlalu akademik. Cara pembelajarannya lebih mirip “mengisi botol kosong”: Orang datang untuk pembekalan dengan maksud “men-cas batere”, akan tetapi tidak pernah akan mampu mema­hami Alkitab, karena pertama-tama kita sendiri tidak mau berubah, atau tidak mau belajar untuk berubah dari cara berpikir lama. Pertanyaan yang benar: Bukan hanya “apa arti­nya satu teks alkitabiah bagi saya”, melainkan “mengapa pesan teks yang saya pahami itu tidak berarti bagi umat yang hidup dewasa ini”?

Membaca itu Juga Menafsirkan

Bagi orang yang sudah melek huruf sekalipun, “membaca“ itu bukan soal yang sepele saja. Apalagi kalau berbicara tentang Alkitab. Membaca Alkitab itu selalu usaha yang penuh perjuangan, untuk masuk dalam satu dunia budaya dan bahasa yang tidak selalu familiar bagi telinga dan rasa perasaan kita. Tidak jarang ada umat yang selalu merasa “takut “ salah menafsirkan dan kurang percaya diri. Apakah membaca itu juga berarti menafsirkan? Memang benar! Sesung­guhnya, cara kita membaca teks Alkitab ikut menentukan pemahaman kita akan Sabda Tuhan itu. Berkaitan dengan hal ini, satu contoh yang bagus ditemukan dalam teks dari injil Lukas 10:25-28:
25 Kemudian berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 26 Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di dalamnya?” 27 Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” 28 Kata Yesus kepadanya, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”

Sebagai reaksi atas pertanyaan si ahli Taurat, Yesus mengajukan dua pertanyaan balik yang tampaknya sama saja. “Apa yang kaubaca di dalamnya?” itu hampir tidak berbeda dengan pertanyaan pertama: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat?” Pertanyaan yang kedua seharusnya diterjemahkan lebih sesuai dengan bahasa aslinya, bukan dengan kata “apa”, melain­kan kata “bagaimana”: “Bagaimana engkau membaca(nya)?” Kedua pertanyaan Yesus memang meng­angkat soal yang sama, yaitu isi dari kitab Hukum (Taurat), tetapi diung­kapkan dengan cara saling melengkapi: yang pertama dari sudut pandang penulis, sedangkan yang kedua dari sudut pandang pembaca. Buku itu ditulis untuk dibaca. Seorang pengarang tidak cukup hanya menulis buku atau artikel, tetapi juga harus menemukan siapa yang akan memba­canya. Menulis dan membaca itu bukan dua hal yang sama saja. Jadi, jika teks Yunani berbunyi: “Bagaima­na engkau membaca?” yang dimak­sud Yesus sesungguhnya adalah: “Bagaimana engkau memaha­mi­nya?”, “Bagaimana engkau menafsir­kannya?” Membaca itu sendiri bukan satu praktek yang gampang saja, seperti sering kita bayangkan: cukup membaca saja agar dapat memahami. Untuk dapat belajar membaca, kita harus pertama-tama mengakui bahwa kita tidak tahu. Jikalau kita selalu yakin sudah tahu, kita tidak pernah belajar apa-apa.

Dua Cara Membaca atau Dua Cara Mengasihi

Ahli Taurat itu menjawab pertanyaan Yesus dengan mengutip dua ayat sangat singkat dari Taurat. Yang pertama, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu,” adalah kutipan dari kitab Ulangan (6:5). Ayat kedua, “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,” diambil dari kitab Imamat (19:18). Sang ahli hukum itu tahu memilih dua perintah singkat dalam kelima kitab Taurat yang sesuai dengan pertanyaan awalnya sendiri: “apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Pemilihan itu adalah satu aktivitas intelektual, satu penafsiran jitu dari Si Ahli Taurat itu. Maka, Yesus segera berkomentar, memujinya: “Jawabmu itu benar!” Menurut perhitungan tradisional orang Yahudi ada 613 perintah dalam Taurat, sesuai dengan jumlah simpul-simpul tsitsit, keru­dung doa orang Yahudi. Pemilihan hukum yang paling pokok dari antara 613 perintah Taurat itu merupakan jawaban sempurna atas pertanyaan Yesus: “Bagaimana engkau membaca?” Dengan kata lain, si ahli Hukum itu telah membuat rangkuman pribadi seluruh kitab Hukum. Si ahli Taurat bisa juga sebenarnya mengutip kesepuluh Firman (Dekalog) yang sudah merupakan rangkuman seluruh Taurat, tetapi ia masih membuat rangkuman yang lebih singkat, yang lebih merupakan sintesis. Cukup menaati kedua perintah kasih ini, kepada Allah dan kepada sesama, untuk memperoleh hidup kekal.
Akan tetapi, sang ahli Hukum tidak puas berhenti di sana. Ia mengajukan pertanyaan lain: “Dan siapakah sesamaku manusia?” Pada masa itu pertanyaan ini banyak didiskusikan di antara para ahli Taurat dan orang-orang Yahudi. Penafsirannya bisa bermacam-macam. Singkatnya saja, di antara orang-orang Yahudi ada yang berpikir bahwa sesama mereka adalah orang Yahudi lainnya; ada juga yang berpikir: termasuk mereka yang bukan Yahudi yang berimigrasi ke Israel; ada pula yang berpikir bahwa setiap orang adalah sesama. Yesus menjawab pertanyaan ahli Taurat itu dengan perumpamaan terkenal tentang Orang Samaria yang baik hati (Luk 10:30-35).

Dengan perumpamaan itu Yesus mengungkapkan bagaimana Dia sendiri membaca Kitab Suci, bagaimana Yesus memahami dua ayat yang dikutip si ahli Taurat dan menafsirkannya. Si ahli Taurat yang tampaknya begitu konsisten dengan pandangan Yahudinya masih ragu memandang orang Samaria sebagai sesamanya, sehingga ia menjawab pertanyaan Yesus pada akhir perumpamaan itu secara tidak eksplisit: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” (ay.37). Namun, Yesus tetap konsisten dengan cara-Nya menafsirkan Hukum yang tidak cukup hanya ditulis dan dibaca (dipahami) melainkan harus “diperbuat” (bdk. ay. 28).

Bertobat Mulai dari Diri Sendiri

Sering kita dengar bahwa orang banyak takjub mendengar pengajaran Yesus “sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.” (Mat. 7:29). Ungkapan “orang yang berkuasa” berarti “mempunyai sesuatu yang keluar dari kedalaman pribadinya.” Pengalaman kita membuktikan hal yang sama, seperti ketika kita mendengar khotbah yang tidak mengena karena orang tidak berbicara dari kedalamannya sendiri, dari kebenaran yang diyakini secara pribadi. Jika kita belajar untuk mencari tahu saja (informatif), kiranya kita tidak mendapat sesuatu kekayaan pengalaman yang transformatif. Oleh karena itu, supaya Kitab Suci lebih berperan dalam hidup kita, dalam arti lebih terasa pengaruhnya, kita harus berani membiarkan diri “ditelanjangi” dan “ditampar” oleh Sabda Tuhan yang bagaikan “pedang bermata dua” itu. Jika kita sendiri “kena” dan “tersentuh” oleh Sabda Tuhan yang kita baca, kita akan lebih berani dan lebih termotivasi untuk mewartakan-Nya dengan kata dan tindakan kita.

† Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.