Saat ditulis ini, awal Agustus, persiapan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) Tahun 2022 tingkat paroki belum dibahas. Kami masih fokus pada persiapan kunjungan Bapa Uskup. Usai kunjungan pastoral tersebut, kami pasti membicarakan dan membahasnya lebih fokus, apalagi bahannya telah disiapkan dari keuskupan. Selain momen BKSN, Kitab Suci juga digunakan saat kegiatan sermon.

Khusus sermon, ada anggapan seolah hanya tertuju untuk mereka yang mendapat ‘jatah’ tugas atau sebatas pengurus gereja. Sebenarnya, sermon untuk untuk seluruh umat yang ada di stasi setempat. Selama ini, kegiatan sermon masih tetap diselenggarakan di stasi-stasi. Pada pertemuan baja’ gereja, saya dan teman yang terlibat berpastoral telah memberikan materi tentang kegiatan sermon dan metodenya. Hanya saja, saat praktik dan pelaksanaan di stasi masing-masing kurang efektif. Penyebabnya, ketergantungan kemampuan sipugagalai juga di stasi belum semua stasi membentuk rayon/lingkungan/kring – masih istilah baru bagi paroki di sini. Yang agak dikenal adalah istilah ‘rayon’. Mestinya, melalui tingkat rayon/lingkungan/kring, pendalaman Kitab Suci jadi lebih efektif.

Menurut saya, orang Katolik tidak harus menjadi sarjana agama Katolik terlebih dulu atau tamatan sekolah kateketik untuk ‘menggunakan’ Kitab Suci. Yang pasti, setiap umat Katolik dituntut mencari dan menemukan kekatolikannya yang sejati. Di zaman sekarang, now, sumber ajaran iman Katolik mudah diakses di mana pun dan kapan pun. Bahkan ada aplikasi Kitab Suci di telepon pintar (smartphone). Selanjutnya, yang diharapkan adalah niat! Saya perhatikan di lapangan, di tengah umat, Kitab Suci (Alkitab) dipunyai tetapi tidak dibaca! Padahal, umat Katolik di stasi sudah banyak bisa membaca dan menulis. Hanya saja, memang harus diakui, budaya membaca di kalangan umat sangat kurang. Alkitab tersimpan rapi namun tidak dibuka, dibolak-balik, dibaca karena disibukkan aktivitas mencari nafkah. Kalau ada ungkapan, “Kitab Suci tidak dimiliki karena harganya mahal, tidak selalu bisa menjadi pedoman!”

Terkait dengan September yang dikhususkan sebagai BKSN, biasanya saya menyelipkan materi/bahan pendalaman iman yang dipasok dari Komisi Kitab Suci Keuskupan Padang bagi pelajar di sekolah. Saya salah satu guru agama Katolik di SMP Negeri 2 Siberut Selatan. Sementara di tingkat umat, saat berlangsung sermon, bahasan tentang Kitab Suci dikupas. Ada beberapa stasi mengadakan aneka lomba dalam rangka BKSN dan anggap lebih efektif. Hanya saja, terkadang jadinya fokus pada aspek lomba yang berorientasi cari pemenang. Soal penghayatan, hal tersebut berada di urutan ke sekian. Jadinya terperosok pada aspek kompetisi/persaingan antarstasi.

Selain itu, dari paroki juga menyusun program berkaitan peningkatan kemampuan/kapasitas pengurus umat (sipugagalai), mulai dari Stasi Matotonan hingga Stasi Rogdok. Saya berharap terjalin dan dibangun kerja sama dan komunikasi di antara para pengurus gereja setempat. Suatu hal yang terasa masih sulit selama ini, karena masih adanya kesenjangan di antara sipugagalai; misalnya adanya anggapan kurang peduli dan bekerja. Menurut saya, kalau saja di antara pengurus bekerja sama dan berkomunikasi , maka pelayanan pada umat terlaksana sesuai dengan situasi dan kondisi umat setempat. Biasanya, saya mengajak umat berdiskusi mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan bersama untuk pelaksanaan kerasulan Kitab Suci. Pertengahan Agustus 2022, saya berpelayanan di Stasi Rogdok dalam rangka BKSN 2022. (hrd)

Marinus Satoleuru
Guru Agama Katolik dan Katekis
Paroki St. Maria Diangkat ke Sorga Siberut, Kepulauan Mentawai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.