Pilih Allah Atau Mamon?

HARI MINGGU BIASA XXVI (25 September 2022)
Am. 6:1a, 4-7; Mzm. 146:7, 8-9a, 9bc-10;
1Tim 6:11-16; Luk 16:19-31

HARTA, TAHTA & NAFSU adalah godaan terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Orang sukses dalam kekuasaan dan kekayaan bisa hancur karena ketiga hal tersebut. Uang atau harta merupakan salah satu di antara godaan atau tantangan itu. Nafsu terutama seksual yang tidak bisa dikendalikan akan membuat seseorang memilik Wanita Impian Lain (WIL) dan Pria Impian Lain (PIL). Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyatakan sebagai tuntutan atau perintah-Nya yang mutlak dan tak dapat ditawar maupun dihindari. Karena itu pada dasarnya setiap orang, siapa, kapan dan bagaimana pun harus mengambil dan menentukan sikap prinsipiil terhadap dilema atau paradoks hidup itu secara utuh, bukan hanya sekarang ini, tetapi juga untuk hidup kekal kelak.

Dalam hidup kita diselalu dihadapkan pada pilihan, yaitu: memilih Tuhan atau mamon (harta kekayaan). Artinya memilih antara Allah atau berhala, kerinduan akan Allah atau nafsu akan milik harta, sikap hidup dasar beragama kristiani atau memilih mengikuti materialisme. Allah adalah satu dan satu-satunya. Kecuali atau di samping Dia tidak ada nilai tertinggi apapun! Hidup sejati apakah itu memulaikan Allah atau menyembahkan berhala apapun atau siapapun! Manusia itu adalah memiliki Allah Tuhan ataukah dimiliki atau dikuasai oleh harta! Seseorang memilih menomorsatukan atau mengutamakan ekonomi ataukah sungguh hidup beragama secara utuh, yakni hidup baik, dalam sikap, kata, dan perbuatan. Manusia hidup jujur dan takut akan Tuhan.

Hidup seseorang mengabdi Allah ataukah lebih mengabdi pada harta? Dalam hal ini kita jangan tersesat atau salah paham dalam pandangan atau pemikiran. Perintah atau tuntutan Tuhan Yesus mengenai harta bukan hanya ditujukan kepada orang-orang kaya, sebab di kalangan kaum miskin juga banyak orang, yang pikiran dan keinginan juga lebih tertuju kepada harta atau uang, yang pikiran dan keinginannya berkisar sekitar harta daripada kaum kaya.

Dalam hal menempatkan pilihan antara Allah dan mamon, orang-orang Farisi berpendapat berbeda dengan Tuhan Yesus. Ajaran Yesus justru dianggap sebagai pandangan yang naif dan fanatik. Menurut mereka yang dikatakan Tuhan Yesus adalah bukti pandangan orang yang tidak mengenal dunia dan orang-orangnya. Harta atau uang menguasai dan memerintah dunia, sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat. Karena itu kaum Farisi berpendapat, bahwa menjauhkan diri dari mamon (harta) demi Allah adalah tindakan sangat naif atau bodoh. Orang Farisi hidupnya berstandar ganda. Artinya, mereka ingin hidup serba menyenangkan, untuk itu membutuhkan harta atau uang. Namun, di sisi lain, sekaligus mereka ingin dinilai atau dianggap sebagai orang-orang yang saleh dan sungguh beragama. Bahkan mereka minta supaya untuk penghayatan keagamaannya minta diberi gaji, dengan demikian dalam menghayati keagamaan itu dapat menggali uang. Inilah yang namanya menyalahguna­kan Allah untuk pengabdian kepada mamon. Begitulah sikap dan cara hidup kaum Farisi!

Yang dikehendaki Tuhan Yesus sebaliknya. Pada dasarnya Tuhan tidak melarang manusia memiliki harta atau kekayaan. Kekayaan adalah anugerah Allah; Ia menganugerah­kannya kepada manusia sesuai dengan kehendak-Nya. Tuhan memberi kekayaan kepada umat-Nya bukan hanya untuk dipakai mutlak untuk diri sendiri sebagai hak milik secara eksklusif atau secara mutlak. Kekayaan atau harta diberikan oleh Tuhan supaya kita ikut meneruskan dan melaksanakan belaskasih-Nya kepada orang-orang lain. Hidup dan berusaha untuk memperoleh harta bukanlah perbuatan yang jahat atau keliru, melainkan justru untuk ikut melaksanakan perintah Allah menolong sesama yang miskin atau tidak berharta. Hanya dengan demikianlah kita sungguh mencintai dan melaksanakan kehendak Allah dan bukan menyembah mamon atau dikuasai oleh harta. Bila kita sungguh hidup sebagai orang beriman kristiani, harus tahu dan mau hidup dan bertindak seturut yang diajarkan Tuhan. Ajaran dan perintah-Nya mutlak, tidak dapat ditawar-tawar khususnya mengenai harta. Sikap terhadap kehendak Allah ialah mengambil keputusan, ya atau tidak, tidak ada jalan tengah atau kompromi. Kita tidak boleh mengabdi kepada harta atau harta menguasai hidup dan kehidupan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.