Rendah Hati dan Terbuka

Pesta Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus
(1 Oktober 2022)
Yes. 6:10 – 14c atau 1 Kor. 12:31-13:13, Mzm. 131:1,2,3.
Mat. 18:1-5

SEORANG ANAK KECIL bukan berarti tidak pernah berbuat salah. Kalau pun berbuat salah, anak kecil lebih mudah diarahkan tanpa perlawanan atau argumentasi apapun. Anak kecil tidak ngeyel. Berbeda dengan orang dewasa, sudah jelas berbuat salah sekalipun akan berusaha membela dan membenarkan diri, serta mencari peluang untuk untuk lolos dari sanksi atau hukuman. Menjadi seperti anak kecil adalah mencontoh sikap lugunya, bersahajanya dalam berpikir dan bertindak. Seperti anak kecil, berarti dengan mudah mengakui kesalahan dan kemudian tidak melakukan kesalahan kembali. Karena ketaatan anak kecil lebih mudah diharapkan ketimbang mereka yang sudah dewasa. Seperti anak kecil berarti bergantung pada orang lain. Bersikap merasa diri tidak bisa berbuat apa-apa, selain mengharapkan pertolongan dari orang di sekitarnya.

Pertobatan atau perubahan yang dituntut oleh Yesus terdiri atas dua bagian: berbalik sama sekali dari segala sesuatu yang berdosa, dan berpaling kepada Allah serta melakukan perbuatan yang benar yaitu, menghasilkan buah yang sepadan dengan pertobatan. Pertobatan bukan sekedar suatu tindakan yang menunjukkan kesedihan atau penyesalan, tetapi merupakan sikap hidup yang menyeluruh. Pertobatan membawa perubahan dalam hubungan antar sesama, kebiasaan, komitmen, kesenangan, dan seluruh pandangan hidup kita. Pertobatan merupakan bagian dari iman sejati yang menyelamatkan dan syarat mendasar untuk menerima keselamatan dan pengudusan
Perikop Injil hari dimulai dengan pertanyaan yang disampaikan para murid kepada Yesus: “Siapakah yang terbesar dalam kerajaan Sorga?” Pertanyaan ini dijawab oleh Tuhan Yesus dengan cara memangil dan seorang anak kecil dan ditempatkan di tengah mereka. Tuhan Yesus menggunakan anak kecil itu sebagai alat peraga untuk menjawab pertanyaan mereka. Yesus tidak menggunakan anak muda, remaja, maupun orang dewasa sebagai sosok yang berhak masuk dalam kerajan sorga.

Yang terbesar dan layak masuk kerajaan sorga adalah mereka yang bertobat. Berbicara pertobatan, bukan sebatas pengakuan “saya sudah bertobat”, tetapi berbalik sepenuhnya dari “cara hidup yang lama”, membuat hidup sepenuhnya berpedoman kembali kepada Allah.
Yang terbesar harus menjadi sama seperti anak kecil, dalam arti hidup yang bergantung sepenuhnya kepada Allah, dan memiliki kerendahan hati. Yang terbesar bukanlah mereka yang berprestasi secara rohani, yang merasa bangga pada apa yang sudah dibuat dan dikaryakan, tetapi justru sebenarnya yang merasa tidak berprestasi apa-apa dan tidak mempunyai pretensi apa-apa di hadapan Tuhan. Orang yang justru menaati dan mengajarkan perintah paling kecil. Yesus membalikkan semua pendapat tentang “yang terbesar”. Bagi Yesus, orang “yang terbesar” adalah mereka yang mau menjadi pelayan.

Menjadi seorang murid bagi Yesus bukan saja harus seperti anak kecil, tetapi juga harus menerima anak kecil. Artinya harus memper­lakukan “yang paling lemah” sebagai orang yang dihormati, bukan sebagai “benda” yang dipakai untuk kepentingan diri, apalagi dieksploitasi untuk keuntungan diri. Bertobat seperti anak kecil itu, bersikap menggantung­kan diri pada kuasa Allah. Tanpa kuasa-Nya, manusia tidak bisa berbuat apa pun.

Hari ini Gereja merayakan pesta Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus. Theresia Martin dilahirkan di kota Alençon, Prancis, 2 Januari 1873. Dia memiliki empat saudara perempuan yang lebih tua dan orang tuanya adalah Santo Louis Martin dan Santa Zelie Martin. Theresia seorang gadis yang sangat ceria, sangat dicintai ayahnya yang memanggilnya dengan sebutan “ratu kecil.” Ketika Theresia masih kanak-kanak, ibunya meninggal dunia. Ayah Theresia, lalu, memutuskan untuk pindah ke kota Lisieux, tempat kerabat mereka tinggal. Di sana, terdapat sebuah biara Karmel tempat para suster berdoa secara khusus untuk kepentingan seluruh dunia.

Ketika Theresia berumur sepuluh tahun, kakaknya, Pauline, masuk biara Karmel di Lisieux. Hal itu amat berat bagi Theresia. Pauline telah menjadi ibunya yang kedua, yang merawat dan mengajarinya, serta melakukan semua hal seperti layaknya seorang ibu. Theresia sangat kehilangan Pauline sehingga sakit parah. Meskipun sudah sebulan Theresia sakit, tak satu pun dokter dapat menemukan penyakitnya. Ayah dan keempat saudarinya berdoa memohon bantuan Tuhan. Sampai, suatu hari Ia melihat patung Bunda Maria di kamarnya tersenyum padanya dan seketika sembuh dari penyakitnya.

Theresia sangat mencintai Yesus. Ia ingin mempersembahkan seluruh hidupnya bagi-Nya. Ia ingin masuk biara Karmel agar Ia dapat menghabiskan seluruh harinya dengan bekerja dan berdoa bagi orang-orang yang belum mengenal dan mengasihi Tuhan. Namun, saat itu Ia terlalu muda. Maka, Ia berdoa dan menunggu. Ia bahkan berani meminta izin langsung kepada Paus. Hingga akhirnya, ketika umurnya lima belas tahun, atas izin khusus dari Paus Leo XIII, diizinkan masuk biara Karmelit di Lisieux.

Dalam biara, Theresia menjalani kehidupan sebagaimana layaknya seorang Rubiah Karmelit. Tidak ada yang terlalu istimewa. Namun, Ia mempunyai satu rahasia, yaitu cinta. Suatu ketika Theresia mengatakan, “Tuhan tidak menginginkan kita untuk melakukan ini atau pun itu, Ia ingin kita mencintai-Nya”. Maka, Theresia berusaha untuk selalu mencintai. Ia berusaha untuk senantiasa lemah lembut dan sabar, walaupun itu bukan hal yang selalu mudah.

Hanya sembilan tahun lamanya Theresia menjadi biarawati. Ia terserang penyakit TBC yang membuatnya sangat menderita. Kala itu, belum ada obatnya. Ketika ajal menjelang, Theresia memandang salib dan berbisik, “Oh, aku cinta pada-Nya, Tuhanku, aku cinta pada-Mu!”. Pada tanggal 30 September 1897, Theresia meninggal dunia ketika usianya masih 24 tahun. Sebelum wafat, Theresia berjanji untuk tetap mencintai dan menolong sesama dari surga. Sebelum meninggal, Theresia mengatakan, “Dari surga aku akan berbuat kebaikan bagi dunia.” Ia menepati janjinya! Semua orang dari seluruh dunia yang memohon bantuan Theresia untuk mendoakan mereka kepada Tuhan telah memperoleh jawaban atas doa-doa mereka.

Setelah wafat, Theresia menjadi terkenal setelah buku catatan yang ditulisnya diterbitkan menjadi sebuah buku “Kisah Suatu Jiwa” satu tahun setelah kematiannya. Theresia dikanonisasi pada tahun 1925 oleh Paus Pius X. Ia dikenal dengan sebutan Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus atau Santa Theresia si Bunga Kecil. Tanggal 19 Oktober 1997, Theresia menjadi wanita ketiga yang diberi gelar Doktor Gereja.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.