Seimbangkan Iman & Ilmu

HARI MINGGU BIASA XXVII (2 Oktober 2022)
Hab. 1:2-3; 2:2-4; Mzm. 95:1-2, 6-7, 8-9;
2Tim 1:6-8, 13-14. Luk. 17:5-10

“YANG KUAT YAA….!”, “Yang tabah, sabar, dan tawakal!” “Semoga dikuatkan dalam iman, harapan, dan kasih….”. Ketiga pernyataan itu adalah bagian dari sekian banyak nasihat yang kita terima atau berikan manakala menghadapi suasana duka. Dalam banyak perkara, memang seringkali kita merasa tidak mampu menghadapi atau menyelsaikan masalah. Kita sering merasa lemah dan tidak berdaya.

Ketidakberdayaan itu adalah manusiawi. Pernyataan itu mengandung makna dan harapan, agar orang atau kita yang mengalami masalah atau musibah dikuatkan terutama dalam iman untuk menghadapi masalah. Kita memohon pertolongan Tuhan supaya dimampukan, dikuatkan dan diberi keberanian menghadap masalah. Sama dengan Injil hari ini para murid menyatakan, “Tuhan, tambahkanlah iman kami!”
Tuhan Yesus memang tidak menjanjikan pengikut-Nya hidup mudah di dunia.

Ada banyak tuntutan dari Tuhan yang tidak mudah untuk dilaksanakan, misalnya mengampuni. Kita akan menderita dalam mewartakan Injil, segala urusan dipersulit, berdoa dihambat bahkan dilarang, diintimidasi. Kita diminta bersabar menantikan campur tangan Tuhan terhadap penindasan dan kekerasan. Tetapi jawaban Yesus menunjukkan bahwa besar kecilnya iman bukanlah yang menjadi masalah. Cukuplah memiliki iman seukuran biji sesawi, kita sudah mampu menyelesaikan segala perkara yang tampaknya tidak mungkin. Tuhan Yesus menunjukkan kebutuhan yang sebenarnya, yaitu hendaknya lebih taat dan rendah hati.

Kita harus memandang diri sendiri sebagai hamba yang berhutang ketaatan dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Ketika kita telah melakukan yang dikehendaki Tuhan, hendaknya tidak menjadi sombong atas ketaatan itu, tetapi seharusnya mengatakan, “Saya hamba tidak berguna, hanya melakukan yang harus kami lakukan!”

Kita perlu terus mawas diri. Kita bisa juga bangga disebut hamba Tuhan, tetapi merasa diri terhina menjadi hamba sesama. Contoh konkretnya, relakah kita berbicara santun kepada siapa pun, seolah-olah dia adalah tuan kita? Bisakah kita memperlakukan orang lain, termasuk yang lebih rendah, muda dari kita dengan hormat dan santun.

Permenungan lain, para mudi yang dekat dengan Tuhan Yesus tentu sudah mumpuni dalam hal menerima pengajaran Tuhan. Pengetahuan mereka tidak akan kurang dibandingkan yang lain. Tetapi mengapa mereka masuih minta ditambahkan imannya. Hal ini mau mengatakan bahwa penguasaan ajaran iman (agama) setinggi apa pun tidak ada gunanya kalau semuanya itu sebatas pengetahuan. Para murid tahun dan kenal Tuhan Yesus, tetapi mereka kurang beriman. Santo Petrus contohnya. Kurang dekat apa dia dengan Tuhan Yesus. Tetapi mengapa, ia begitu takut tenggelam? Karena Petrus kurang percaya kepada Tuhan Yesus.

Beriman membutuhkan pengetahuan yang benar supaya memahami, menghayati, dan mengamalkan secara benar. Pengetahuan atau mengandalkan otak saja juga tidak cukup. Orang yang hanya mengandalkan otak berkemungklnan besar menjadi sombong. Idealnya, pengetahuan dan iman seimbang, berjalan bersama sehingga saling melengkapi dan menjadikan seseorang sempurna. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.