Salam belas kasih,
Saudari dan saudara yang budiman, umat se-keuskupan Padang dan para pembaca Gema yang dikasihi Tuhan, belum lama berselang ada seorang pastor yang bertanya: “Mengapa kita tidak lagi mendoakan doa sinode, kan sebenarnya sinode para uskup masih sampai tahun 2023?” Umat yang ditanya bingung menjawabnya karena ia diminta untuk memimpin doa tahun Keluarga sesudah penerimaan komuni.

Namun, ada pertanyaan lain tentang sinode yang barangkali lebih sulit lagi dijawab: “Sesungguhnya, mau kita apakan hasil sinode yang sudah dirangkum dan diserahkan itu?” Yang skeptis dan pesimis barangkali akan segera menanggapi: “Ah seperti biasa, tidak ada banyak gunanya!” Meskipun tidak datang dari satu tempat dan sumber yang sama, ungkapan dan pertanyaan tadi tidak sekedar mengada-ada atau direkayasa supaya jadi editorial tabloid Gema kali ini. Daripada mengira-ngira dan membuat prasangka siapakah yang mempertanyakan hasil sinode itu, baiklah kita berhenti sejenak untuk berpikir tentang diri kita, tentang siapa saya sendiri di tengah Gereja yang (mau) berjalan bersama dalam semangat sinodalitas ini.

Tahun Keluarga Keuskupan Padang
Proses Sinode Lokal di tingkat paroki-paroki yang dibuka setahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 17 Oktober 2021 (di beberapa keuskupan disertai juga dengan pembacaan Surat Gembala), akhirnya telah dirangkum hasilnya dan diserahkan untuk jadi bahan pertimbangan di tingkat yang lebih tinggi, di Keuskupan masing-masing dan akhirnya di Konferensi Waligereja Indonesia. Di Padang, penutupan meriah dirayakan bersama pada puncak pertemuan tahunan para imam sekeuskupan Padang dengan pembaruan janji imamat dan pemberkatan minyak suci pada tanggal 19 Mei 2022. Dalam kesempatan temu imam itu dibacakan sintesis hasil sinode yang telah disiapkan oleh team Keuskupan. Dari sana langsung dibahas implementasinya ke dalam pilihan fokus perhatian bersama sebagai arah dan dasar kerasulan di Keuskupan kita untuk tiga tahun mendatang.

Meskipun boleh dikatakan bahwa tahun Keluarga sedunia untuk memperingati lima tahun terbitnya seruan apostolik Amoris Laetitia pada tahun 2021 sudah berlalu, perhatian pada keluarga sebagai Gereja Domestik (Rumah Tangga) tidak akan pernah usang. Pembinaan iman mulai dari dalam keluarga-keluarga sebagai sel dasar masyarakat adalah masalah yang selalu pantas menjadi perhatian bersama kita. Oleh karena itu tidak ada kata terlambat, pada tahun 2022-2023 ini, sesudah kita menyambut baik ajakan Paus Fransiskus untuk “berjalan bersama” merenung dan mendiskusikan bersama tema “Persekutuan, Partisipasi, dan Perutusan” di dalam kelompok-kelompok basis di tempat kita masing-masing, kita mau menyadari bersama sekali lagi, bahwa masih banyak sekali “Pekerjaan Rumah” kita, dan itu harus dimulai dari keluarga-keluarga kita sendiri. 

Kesadaran akan Gereja yang berjalan bersama itu harus dimulai dari lingkup Gereja yang paling kecil, Gereja Rumah Tangga atau keluarga kita masing-masing. Tentu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tidak ada keluarga yang sempurna, tanpa masalah sama sekali: keluarga yang berjuang hidup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, keluarga yang mungkin sempat “terpuruk” karena pandemi, baik dari segi kesehatan maupun ekonomi, keluarga yang nyaris terpecah dan berantakan karena kebencian dan perselisihan, keluarga yang hidup bersama dalam keanekaan keyakinan dan agama, dan seterusnya

Pembicaraan bersama dalam temu para imam yang dihadiri juga oleh para narahubung sinode itu didampingi dan diarahkan oleh team dari Komisi Keluarga Keuskupan Agung Medan. Selanjutnya tugas Panitia Sinode tingkat Keuskupan berakhir dan dilanjutkan oleh panitia dari Komisi Keluarga untuk menindaklanjuti hasil sinode ini. Bulan Juni 2022 sampai perayaan Hari Kakek Nenek sedunia pada bulan Juni 2023 dijadikan tahun di mana keluarga-keluarga menjadi pusat perhatian untuk pencapaian sasaran hasil sinode ini. Itulah sebabnya doa untuk pelaksanaan Sinode yang biasa didoakan umat sesudah komuni diganti dengan doa Tahun Keluarga. Meskipun tidak dilarang orang mendoakan doa untuk sinode para uskup yang masih akan diselenggarakan pada tahun 2023.

Keluar Dari Jebakan Rumusan Kata-kata.

Hasil Sinode yang telah dirangkum dari sintesis yang datang dari paroki-paroki memang menunjukkan kekayaan masalah yang beranekaragam. Kita semua tahu betapa sulitnya menyatukan banyak pandangan, usulan dan harapan yang muncul dari begitu banyak keprihatinan umat dalam 10 halaman saja. Oleh karena itu sudah sejak dari semula dihimbau agar “para notulis” dan narahubung di paroki masing-masing tidak membuang laporan-laporan yang telah masuk, sebagaimana hasil sintesis dari paroki-paroki tetap dibukukan dan disimpan rapi di Keuskupan sesudah Panitia Sinode Keuskupan berhasil merangkum laporan dari paroki-paroki itu ke dalam sintesis tingkat Keuskupan yang berhasil dikirimkan ke KWI pada tanggal 13 Juni 2022. 

Kemudian pada bulan Agustus yang lalu kita juga telah menerima sintesis hasil Sinode yang disiapkan oleh KWI dari rangkuman hasil Sinode yang dikirim oleh Keuskupan-Keuskupan kita. Dengan demikian, bagi mereka yang aktif sebagai narahubung Sinode dan barangkali masih terlibat juga dalam rangka pelaksanaan Tahun Keluarga, setidaknya ada tiga rangkuman di tangan kita: satu dari paroki kita sendiri, satu dari Keuskupan dan satu dari KWI. Oleh karena itu wajarlah muncul pertanyaan: “Mau kita apakan sekarang bahan-bahan ini?”

Sekali lagi, menyadari keterbatasan bahasa dan kemampuan sebuah tulisan untuk menampung seluruh keprihatinan dan harapan yang sudah muncul dalam pelaksanaan proses sinode itu, kita tidak mau mengatakan bahwa rangkuman hasil sinode ini tidak penting. Orang boleh memberikan prioritas penilaian! Sintesis dari KWI tentu bahasanya jauh lebih baik dan alur gagasannya lebih logis, begitu juga mungkin rangkuman Sinode dari panitia Keuskupan, akan tetapi barangkali rangkuman hasil Sinode dari satu Paroki sendiri dirasa lebih kena pada sasarannya karena sesuai dengan kondisi Paroki setempat. Silakan panitia lokal atau bahkan Dewan Pengurus Pastoral Paroki setempat memanfaatkannya sebagai acuan dan bahan pertimbangan membuat arah kebijakan pastoral di parokinya.

Dalam satu semangat sinodalitas Gereja yang berjalan bersama, kita di Keuskupan Padang ini diajak untuk memberi perhatian utama pada keluarga sebagai implementasi hasil sinode pada tahun 2022-2023 ini. Namun, masing-masing paroki tentu saja dapat mengangkat dan menciptakan satu usaha lain yang kreatif di tingkat paroki untuk menindaklanjuti hasil sinode lokal yang sudah dilaksanakan. Kepada narahubung dari komisi dan seksi keluarga diharapkan selalu kesediaannya untuk berbagi berita, foto dan gambar dari acara-acara yang sempat diselenggarakan di paroki masing-masing, entah bagaimana caranya, melalui group WA atau melalui channel youtube Komsos Paroki setempat atau Keuskupan… Inilah kiranya bentuk konkret “jalan bersama” yang telah kita pelajari dari proses sinode lokal yang sudah kita lalui bersama. 

Marilah kita keluar dari sekedar “rasa puas diri” karena rumusan sintesis yang telah dihasilkan. Tulisan dokumen semacam itu rupa-rupanya hanya akan berarti bila yang membaca merasakan kembali “proses berjalan bersama” dengan umat yang sudah dialaminya. Dengan demikian, apa sesungguhnya hasil sinode di tingkat lokal? Tidak lain dan tidak bukan adalah transformasi diri, pertobatan kita sendiri untuk menjadi lebih sabar mendengar, lebih berani berbicara dan lebih semangat untuk berkumpul dan melibatkan diri dalam gerakan. Seluruh proses yang telah dijalani berbulan-bulan di kelompok-kelompok umat itu tentu bukanlah satu kesia-siaan belaka! 

† Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *