DUMAI – Iringan musik kom­pang etnik melayu mengiringi penyambutan Bapa Uskup Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX ke Paro­ki St. Fransiskus Xaverius Du­mai, Riau, Jumat (9/9). Bapa Pastor Paro­ki (P. Martinus Suparjiya, Pr.), P. Yohanes Cahaya, Pr. (Pastor Rekan), Diakon Benny Margono, para suster dan umat menyambut Bapa Uskup. Atraksi pencak silat dan pengalungan bunga oleh peserta didik SMPS St. Tarcisius Dumai bagian dari prosesi ini.

Pertemuan dengan para pastor dan suster agenda pertama kunjung­an pastoral ini. Hari kedua (10/9), Bapa Uskup bersama parokus, pastor rekan, diakon, dan sejumlah awam ke Stasi St. Petrus Bukit Timah. Di tempat ini, Bapa Uskup meresmikan dan memberkati gereja baru. 

Hari Minggu pagi (11/9), Bapa Uskup merayakan Ekaristi di gereja paroki. Pada kesempatan ini, Bapa Uskup menerimakan Sakramen Krisma kepada 159 umat dan melan­tik 20 Prodiakon. Umat memadati bagian dalam dan luar gereja yang dipasang tenda. Dalam homilinya, kepada penerima Krisma, Uskup Vitus menyatakan bahwa dalam pe­ne­rimaan Sakramen Krisma mem­buat penerimanya menjadi Katolik yang sejati dan seutuhnya, dewasa, sanggup memilih tugas dan tanggung jawab sesuai kemampuan masing-masing. “Menerima Sakramen Krisma itu bukan sekedar datang pesta pada perayaan ini, mendapat sertifikat, dan selanjutnya menghi­lang! Penerima Krisma mesti sadar bahwa dirinya sebagai anak Bapa yang diutus untuk mewartakan kasih Bapa.” tegasnya.

Sementara itu, kepada para pro­dia­kon, Bapa Uskup menyampai­kan bahwa Gereja tidak membiarkan sendirian orang lanjut usia, sakit, dan butuh perhatian serta kekuatan dari Sakramen Mahakudus. “Saya berharap prodiakon tergerak hatinya oleh belas kasihan saat membagi Tubuh Kristus dan merasakan ada bagian dari diri yang dipecah-pecah. Maka waktu, tenaga, dan diri Anda tidak lagi seratus persen milik sendiri, tetapi juga milik Tuhan.” sambung Bapa Uskup.

Seorang penerima Krisma menyatakan senang dengan perayaan ini. “Iman saya terasa semakin dewasa dan Roh Kudus pun tercurah. Butuh waktu setahun untuk persiapan. Tidak mudah menjadi Katolik yang seutuhnya seperti yang dikatakan Bapa Uskup, karena banyak tantangan apalagi di tengah perkembangan zaman yang tidak bisa dibendung,” ucap Kristin Sitohang.

Sementara itu, orangtua lima penerima Krisma dalam satu keluarga, Regen Sitohang mengaku sangat bangga dan dimuliakan dalam momen kunjungan Bapa Uskup. “Sudah lama kami rindukan! Semo­ga keluarga kami semakin dewasa dalam iman dan menjalankan misi sebagai murid Yesus. Saya juga mendorong anak-anak kami terlibat kegiatan OMK dan lingkungan Gereja,” ucapnya.

Ketua Panitia, Berlin Nadeak kepada GEMA mengatakan bahwa kun­jungan Bapa Uskup ini adala yang pertama di paroki ini setelah kekosongan takhta uskup dan pandemi. “Umat begitu merindukan kehadiran Bapa Uskup. Untuk kunjungan ini, telah kami persiapkan sejak dua tahun silam.” katanya.

OMK Punya Peran

Minggu petang Bapa Uskup mengikuti pertemuan dengan dengan Orang Muda Katolik (OMK) separoki. Terlihat antusiasme OMK, meski ada beberapa OMK stasi tidak bisa hadir karena jarak yang jauh dan waktu tempuh yang lama. Pada kesempatan ini, Roki Marpaung, Pembina OMK Paroki yang juga penghubung Jaringan Komunikasi Komisi Kepemudaan (Jarkom Komkep) Keuskupan Padang untuk Wilayah Dumai, menyampaikan materi: “Menjadi OMK yang Mudah Dihubungi dan Datang Menawarkan Diri”.

Suasana pertemuan begitu cair. Bapa Uskup, para pastor dan suster membaur bersama OMK untuk manortor. Melihat antusiasme OMK, P. Martinus menyatakan umur boleh tua tetapi semangat tetap muda. “Gigi saya hampir habis, namun melihat melihat semangat orang muda, saya merasa bertambah muda. Meskipun tidak semua OMK hadir, namun pengalaman ini bawa dan bagikan ke tempat masing-masing. Kalau kalian hanya di rumah bukanlah OMK, karena belum berkelompok! Kalau mau bersama sebagai OMK, menambah jumlah OMK, mesti berkumpul seperti ini. OMK maju, paroki maju. Gereja siap membantu” ucap Imam Diosesan ini bersemangat.

Pada kesempatan ini, Bapa Uskup menegaskan tentang keberadaan OMK. “Orang muda punya peran dalam Gereja. Ketika OMK diberi kepercayaan, pasti jalan. Orang mudalah yang memberi semangat kepada para pastor dan suster, serta menjadi kegembiraan Gereja. Maka lanjutkan semangat ini, bangunlah jaringan komunikasi! Semakin banyak OMK mengenal teman sebayanya, akan bisa mem­bangun jaringan dan menanggapi masa depan,” kata Uskup Vitus.

Bapa Uskup juga berpesan agar OMK pusat paroki menjaring dan mencari kader dari stasi-stasi. Tun­tutan pendidikan membuat OMK pergi ke luar Dumai. Kalau kalian memiliki kesan dan kenangan di OMK, saat libur kuliah kembali menjadi OMK untuk membangun Gereja. Bergeraklah, buatlah paroki ini hidup,” tegas Mgr. Vitus.

Agenda terakhir kunjungan pastoral Bapa Uskup ke kompleks persekolahan Santo Tarcisius Dumai – di kawasan Pulau Payung, Senin pagi (12/9) pagi. Di Aula SMA Santo Tarcisius, Bapa Uskup merayakan Ekaristi bersama unsur sekolah dari TK hingga SMA yang beragama Katolik. Dalam homilinya, Uskup Vitus mengatakan sungguh menyenangkan saat Gereja dan sekolah bisa bertemu, karena bisa saling meneguhkan. Bapa Uskup mengakui tidak mudah tantangan di masa depan, karena pemerintah mengembangkan sistem yang semakin rapi dan baik, menuntut profesionalitas dan keteraturan administratif. Kita tidak bisa lagi menggunakan pola pikir zaman dulu.

Sekolah-sekolah ini berawal dari sekolah misi – yang mementingkan semangat pengabdian, kesukarelaan, pelayanan misioner untuk umat dan perkembangan iman. “Problem pendidikan bukan hanya tentang mencari murid melainkan juga mencari guru. Jika etos kerja guru kita tidak bisa bersaing dengan etos kerja guru negeri, kita tidak lagi memiliki nilai plus dan integritas.” tegasnya.

Usai homili, Bapa Uskup menandatangani prasasti peresmian gedung laboratorium SMA Santo Tarcisius disaksikan Ketua dan Wakil Ketua Pengurus Yayasan Prayoga Riau. Acara selanjutnya ramah-tamah yang juga dihadiri Ketua Kejaksaan Negeri Dumai, Dr. Agustinus Herimulyanto, SH., MH.Li. (bud/hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *