BAGANSIAPIAPI – Umat Katolik harus melestarikan tempat ibadah. Umat harus bangga dengan pembangunan dan peres­mian gere­ja baru. Tetapi bukan hanya gedung gerejanya yang ko­koh, tetapi iman juga harus ko­koh, umat semakin berkembang. Pesan itu disampaikan Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX saat mem­berkati dan meresmikan Gereja Stasi St. Fransiskus Xaverius Bagantanjung, Paroki Santo Petrus dan Paulus Bagansiapiapi, Selasa (13/9).

Kegiatan ini merupakan salah satu agenda kunjungan pastoral Bapa Uskup di paroki ini dari 12 – 14 September. Lebih lanjut, Bapa Uskup menegaskan bahwa yang terpenting dalam peresmian dan pemberkatan gereja adalah pem­ber­katan umat yang datang dan berkumpul untuk beribadah. Kar­ya Tuhan tidak berhenti sampai pada pembangunan gedung gereja. “Karya Tuhan akan terus bergerak dan bekerja di tengah keluarga umat stasi ini.” katanya.

Selain berbicara tentang bangunan gereja, Bapa Uskup juga menyatakan untuk menempatkan pastor yang menetap di Bagansia­pi­api. Karena kekurangan imam, untuk sementara Pastor Martinus merangkap sebagai Parokus Du­mai dan Bagansiapiapi. Gereja yang baru dan berkembangnya umat diharapkan juga turut me­num­buhkan benih panggilan imam ini paroki ini. Pastor Ganda (Sekre­taris Keuskupan) dari paroki ini. Sabda Tuhan bisa didengar dan dirasakan oleh umat ketika gembalanya hadir. “Berdoa­lah terus agar paroki ini segera memiliki pastor paroki yang ting­gal di tengah-tengah umat. Pastor seba­gai menjadi gembala yang berbau domba,” kata Bapa Uskup.

Pesta peresmian gereja baru ini tidak hanya milik umat Katolik, tetapi juga masyarakat. Saat ramah tamah dan santap siang banyak hadir tamu dari luar Gereja. Ba­nyak tokoh umat dan pemerin­tahan yaitu: Camat Sinaboi, Kepa­la Dinas PUTR Rokan Hilir, Peng­hulu, Kapolsek Sinaboi, para donator dan perwakilan dari dominasi Gereja lain.

Paroki Pastor Martinus menya­takan bahwa kehadiran begitu banyak tamu yang bermanca ra­gam ini menunjukan bahwa di wilayah ini terjalin kerukunan yang luar biasa. Pastor Martin berkisah bahwa dirinya mendengar umat bercerita ketika proses membangun gereja ini warga sekitar pun membantu. Saat lewat di jalan depan gereja, warga membantu dana untuk beli kon­sumsi dan hal lainnya. “Saya mera­sakan kebaikan dan kemu­rahan Tuhan melalui partisipasi para donator. Umat bergotong-royong untuk membangun gere­janya. Meskipun dana cukup, kalau kerjasama tidak tercipta, gedung gereja ini tidak akan selesai,” katanya.

Imam Diosesan Padang kini berpesan kepada umat jangan sampai timbul perselisihan antar­umat gara-gara pembangunan ini. Jika itu yang terjadi, menurutnya lebih baik gereja itu tidak di­bangun. Gereja bukan melulu Gedung, tetapi juga ada nilai kebersamaan pada jemaatnya. “Paroki tidak memiliki sumber pendanaan. Sebagaia gembala umat, saya mencari donatur. Perlengkapan untuk peribadatan, seperti: jalan salib, patung Bunda Maria, patung Hati Kudus Yesus, salib besar di altar, mimbar adalah kemurahan Tuhan melalui donatur. Ini tanda begitu besar kemurahan hati Tuhan untuk umat stasi ini.” tambahnya.

Kisah dan pernyataan Pastor Martin ini diperkuat dengan cerita dua pejabat setempat, Kapolsek Sinaboi, H. Tinambunan dan Camat Sinaboi, Tengku Edison, SE. H. Tambunan mengawali kisahnya dengan pernyataan: “Saya 100 Katolik dan 100 Persen Indonesia. Sekitar setengah tahun lalu kalau melintasi jalan di depan gereja ini, air meng­genang, apalagi kalau hujan. Dirinya menjumpai tokoh umat stasi (Pak Sinaga) untuk menawarkan bantuan. Ga­yung bersambut. Saat Hari Bayang­kara (1 Juli). Tambunan mengajak anggota kepolisian bergotong-royong membersihkan tempat rumah ibadah. Tak terke­cuali gereja ini. Saat masuk ke dalam gereja, saya melihat bang­ku-bangkunya tidak sebanding dengan gedungnya yang bagus dan megah. “Untuk menimbun tempat yang tergenang, diminta 20 dam truk tanam timbunan, atas kemurahan hati banyak pihak bisa diberikan 50 dam truk. Untuk mengganti bangku, baru bisa diberikan 6 buah. Semoga bulan-bulan ke depan segera dicukupkan.” katanya.

Tengku Edison, SE. dalam sambutannya menilai masyarakat Bagantanjung sangat toleran, hubungan antarumat beragama sangat kondusif. Edison berharap ke depan umat terus bersama-sama menjaga ketentraman, kedamaian, dan keamanan daerah ini. “Hubungan yang berjalan baik ini, menegaskan bahwa kita bersaudara dalam bernegara sebagai satu bangsa dan tanah air. Kita terus bangun kekompakan. Harapan ini bukan hanya untuk umat Katolik, tetapi juga untuk umat agama lain,” kata Edison.

Atas segala realitas itu, Bapa Uskup mengajak umat bersyukur, karena Tuhan sangat bermurah hati pada stasi ini. Gereja patut bersyukur dan berterima kasih pada saudara-saudari dari masya­rakat sekitar yang mendukung dan membantu pembangunan. “Umat Katolik telah menerima banyak dari orang lain. Kalian telah menerima dengan cuma-cuma, maka berikan pula dengan cuma-cuma. Kalau kita bermurah hati akan memengaruhi masyarakat. Semakin banyak memberi, semakin banyak kita menerima.” katanya.

Gereja Stasi Santo Fransiskus Xaverius Bagantanjung berdiri tahun 2000. Bangunan sederhana beratap nipah dijadikan gereja. Ada tujuh (7) kepala keluarga Katolik. Awalnya umat beribadat dari rumah-rumah umat. Berja­lannya waktu, umat merencanakan membangun gereja seadanya. Pastor pertama yang mendampingi umat adalah P. Toto Pujiwahyu­listyo, Pr., tokoh awam JB. Sianipar dan DPP Bagansiapiapi.

Pembangunan gereja ini meng­habiskan biaya Rp 800 jutaan, di luar jasa tukang yang dikerjakan secara swadaya oleh umat. Hampir 70% biaya pembangunan gedung gereja ini atas kemurahan hati Johnny Mok. tokoh masyarakat setempat. Tahun 2018, saat hari lebaran Johnny Mok bersepeda dari Bagansiapiapi ke Sinaboi. Saat melintas di depan gereja ini, dilihatnya menara gereja hampir roboh. Tahun 2019, proses pembangunan gereja ini dimulai.

Penghargaan untuk Guru

Selain meresmikan gereja stasi ini, selama di Bagansiapiapi, Bapa Uskup mengadakan sejumlah kegiatan bersama umat. Keda­tangan Mgr. Vitus, pada Senin sore (12/9) disambut dengan marching band dari gabungan peserta didik SD-SMA Bintang Laut Bagan­siapiapi. Pastor Paroki (P. Martinus Suparjiwa, Pr.) menyambutnya bersama, P. Yohanes Cahaya, Pr. (Pastor Rekan), Diakon Benny Margono, para suster dan umat.

Hari Rabu pagi (14/9), Bapa Uskup mengunjungi Klinik Fatima. Kehadiran Bapa Uskup menjadi sukacita karyawan-karyawati. Para karyawan merasa seperti terperhatikan. Setelah itu, Bapa Uskup mengunjungi Kampung Kusta. Di dua tempat ini, tidak ada pembicaraan khusus. Kedatangan Bapa Uskup lebih banyak melihat-lihat situasi dan bersilaturahmi.

Menjelang siang, Bapa Uskup mengadakan pertemuan dengan seluruh guru dan karyawan Yayasam Prayoga Riau Koordina­torat Bagansiapiapi, yang menge­lola TK hingga SMA Bintang Laut. Tarian bernuanda budaya Tionghoa menyambut kedatangan rombongan. Dalam kesempatan ini, Bapa Uskup menyatakan bahwa Gereja bangga dengan sekolah-sekolah Katolik di Bagansiapiapi yang berkualitas, karena itu sebagai tanda kehadiran Gereja juga. “Penghargaan setinggi-tingginya, guru-guru terus menunjukkan dedikasi yang hebat dengan buah-buah berupa akreditasi sekolah itu,” katanya.

Mgr. Vitus juga mengomentari sisi positif sistem koordinatorat yang digunakan Yayasan Prayoga Riau. Menurutnya, sistem ini cukup bagus dan tepat sasaran karena pusat tidak bisa langsung menjangkau sekolah di pelosok daerah. Koordinatorat bertanggung jawab dan memperhatikan semua sekolah dan kepada yayasan. Kepada para guru, Bapa Uskup menyatakan sebagai seorang guru, pendidik harus menghasilkan sesuatu (berbuah) bagi orang lain. Buah itu terlihat pada diri anak-anak didik. Pengabdian dan dedikasi, prestasi yang tampak dalam pengakuan dari pemerintah. Buah itu terutama terlihat dari pengembangan bakat dan talenta peserta didik. “Kemurahan Tuhanlah yang membuat para guru terus melayani di tempat ini.” katanya.

Sore harinya, Bapa Uskup merayakan Ekaristi dan meneri­makan sakramen krisma kepada 49 orang di Gereja Paroki St. Petrus dan Paulus Bagansiapi­api secara konselebrasi bersama Pastor Marinus, Pastor Yohanes dan Diakon Benny. Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus Bagansiapiapi adalah gereja pertama di Riau. Gereja ini berdiri pada 29 Juni 1928. Bangunan gereja masih bentuk aslinya, hanya saja bagian dalam mengalami sedikit perubahan dalam pewarnaan.Dalam homilinya, kepada penerima Krisma, Bapa Uskup berpesan agar berani menjadi saksi Kristus, berani tampil ke luar karena memiliki bakat dan dikaruniai Roh Kudus yang sama yang dicurahkan kepada para rasul pada hari Pentakosta. “Krisma menjadi penguatan atas sakramen baptis, minyak krisma di dahi tanda pengurapan, menjadi oorang terpilih dan diutus, tepukan pada pipi berarti siap untuk maju perang dalam pertempuran rohani untuk mempertahankan imannya. Menerima Krisma berarti telah dewasa dan punya tanggung jawab.” katanya.

Usai perayaan iman di gereja, dilanjutkan ramah tamah di Aula SMP Bintang Laut. Maria, perwakilan penerima Krisma menyatakan bahwa saat Bapa Uskup memberikan sakramen Krisma ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Maria meyakini itu kehadiran Roh Kudus. “Saya dan teman-teman yakin, Sakraman Krisma membuat imannya bertambah dan bertumbuh sehingga berani memberikan diri melayani di Gereja sebagai apapun.” katanya.

Ketua Panitia Penyambutan Uskup, Simbolon mengatakan bahwa semangat, kekompakan, umat yang luar biasa dalam bekerja sama. Simbolon menyoroti keberadaan sekolah dan Gereja. “Sekolah dan Gereja seperti dua sisi mata uang. Tanpa Gereja, sekolah tidak ada, tanpa sekolah, Gereja seperti kurang bermakna,” katanya. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *