HARI TUHAN – HARI PEMBEBASAN

Hari Minggu Biasa XXXIII (13 November 2022)
Mal. 4:1-2a; Mzm. 98:5-6, 7-8, 9a;
2 Tes 3:7-12; Luk 21:5 – 19

DALAM KULTUR atau budaya daerah tertentu di wilayah nusantara ini ada etnis masyarakat tertentu memiliki kearifan lokal yang sifatnya untuk melakukan suatu pekerjaan. Dalam masyarakat Jawa mengenal adanya penghitungan “hari baik”. Untuk melakukan suatu pekerjaan besar, misalnya hajatan, tidak boleh pada hari tertentu, misalnya Jumat Kliwon. Penjelasan atau alasannya, kebanyakan faktor mistis. Tidak pernah dijelaskan secara rasional dan ilmiah.

Yang menarik, meskipun ada “hari baik”, namun masyarakat Jawa tidak pernah menyebut adanya “hari buruk”. Di balik semua itu, bisa disimpulkan bahwa semua hari baik (tidak ada yang buruk). Sebutan “hari baik”adalah pilihan yang terbaik di antara yang baik. Lagi-lagi tidak pernah ada penjelasan secara rasional dan ilmiah. Para leluhur masyarakat Jawa umumnya mengatakan dengan singkat dengan kata: “ra ilok” (tidak elok, tidak pantas”. Mengapa tidak pantas atau tidak elok tidak pernah dijelaskan alasannya. Pokoknya anak cucu hanya diminta untuk mengikuti saja.

Hari ini bacaan Kitab Suci mewartakan istilah yang cukup akrab dengan di telinga, yaitu Hari Tuhan. Apa arti Hari Tuhan? Bacaan pertama dari Kitab Maleakhi menyebut Hari Tuhan sebagai hari untuk merasakan terbitnya surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Maleakhi memahami Hari Tuhan sebagai hari yang penuh sukacita karena hari penyelamatan telah datang. Hari Tuhan bukanlah hari yang menakutkan atau mengerikan. Rasul Paulus menjelaskan cara yang harus dilakukan untuk menyongsong kedatangan Hari Tuhan itu, yaitu tetap tenang (dalam) melakukan pekerjaan (masing-masing). Rasul Paulus mengajak setiap orang untuk tetap setia melakukan tanggungjawab dalam aneka tugas dan profesi.

Hari Tuhan juga berarti keselamatan dan pembebasan untuk semua yang mengasihi dan hidup bagi Dia. Di dalam kerajaan-Nya kemuliaan dan kebenaran Allah akan bersinar bagaikan matahari, serta membawa kepada umat-Nya yang setia kebaikan, berkat, keselamatan, dan kesembuhan yang tertinggi. Segala sesuatu akan dibetulkan, umat Allah akan berlompat-lompat karena sukacita bagaikan anak lembu yang lepas kandang.

Surya adalah simbol kebenaran. Pada Hari Tuhan, kebenaran seperti surya menyorotkan sinarnya untuk mendesak keluar setiap cengkeraman kegelapan. Surya kebenaran digambarkan seperti sayapnya. Dengan bentuk seperti sayap, sinar surya yang terbit menunjukkan gambaran dasarnya. Ketika sinar menembus menghalau kegelapan, dosa dan sakit penyakit yang menyertainya akan lenyap.

Manusia yang berdosa digambarkan seperti anak lembu yang diikat pada tali. Demikianlah anak manusia yang dilepaskan dari dosanya, akan seperti anak lembu yang lepas dari tambatan akan bersuka ria dalam kebebasan. Maka orang yang benar, yang tidak lagi menjadi tawanan yang tertindas akan suka cita.

Injil Lukas menjelaskan arti Hari Tuhan bagi umat Kristiani. Karena iman akan Kristus, manusia yang sebelumnya merasa baik-baik saja, mulai berpikir kalau sejatinya berada dalam keadaan yang tidak pantas, merasa kotor dan berdosa. Manusia hidup jauh dari perintah Kristus untuk mengasihi Allah dan sesama. Kesadaran itu mengubah untuk mulai memperjuangkan nilai-nilai Kerajaan Allah di dunia ini. Kenyataannya, perjuangan itu berhadapan dengan aneka tantangan dan kesulitan. Karena memperjuangkan nilai kejujuran, kita disingkirkan. Karena memperjuangan nilai keadilan, dijauhi. Karena memperjuangkan nilai cinta kasih, melawan arus yang umum terjadi, munculah reaksi. Para pejuang nilai itu akan dibenci.

Menghadapi kondisi demikian, Tuhan Yesus meminta pengikut-Nya untuk tetap bertahan dan berjuang dalam melakukan kebaikan dan cinta kasih kepada sesama. Tuhan akan memberikan hikmat yang memberi daya atau kekuatan untuk tetap bertahan dan berjuang. Jangan sampai karena tantangan dan kesulitan yang dihadapi,umat Allah malah menjadi serupa dengan orang-orang yang hidup dalam cara yang tidak benar. Semua orang berharap, pada Hari Tuhan itu didapati layak karena tetap setia pada tanggung jawab untuk memperjuangkan nilai-nilai kehidupan yang baik. “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk 21:19). ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *