Sekarang, kalangan milenial (kaum muda) dituntut punya semangat patriot, cinta bangsa dan tanah air, bersikap toleran. Kaum milenial mesti terbuka dengan aneka latar belakang di negara ini dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kaum milenial diharapkan punya daya juang tinggi, pantang menyerah, selalu berusaha meraih prestasi, belajar giat. Sebagai generasi penerus, janganlah menjadi ‘beban negara’. Jangan mengurung diri, apalagi bermalas-malasan.

Sebaliknya, sebagai orang muda, kita mesti menyalurkan dan mengeluarkan energi positif untuk negeri ini untuk membawa perubahan bagi bangsa. Nilai kepahlawanan yang patut dimiliki orang muda; rela berkorban dan mementingkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Kaum muda dituntut mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila, mempunyai moral dan integritas diri.

Semangat dan nilai-nilai kepahlawanan mestilah menjiwai setiap anak bangsa. Maka, semangat dan nilai kepahlawanan perlu terus ditanamkan. Perjuangan tanpa ‘roh kepahlawanan’ hanya akan melahirkan para pecundang (bukan pejuang)! Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa menjadi landasan untuk berani, tidak takut menghadapi bahaya, karena yakin mendapat pertolongan Tuhan – selama yang diperjuangkan adalah kebenaran. Hal ini penting tertanam dalam sanubari semua warga negara, termasuk kalangan muda, mengingat bertubi-tubinya bencana melanda negara ini. Kita menjadi bangsa yang bisa bersabar, tabah, tetap optimis dalam lindungan dan pertolongan Tuhan.

Hal lain yang patut mendapat perhatian adalah penegakan kebenaran dan keadilan. Dewasa ini, terasa sulit mendapatkan orang yang konsisten berjuang menegakkan nilai keadilan dan kebenaran, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Diibaratkan menegakkan benang basah. Kondisi sosial budaya yang carut-marut tidak berkesudahan bila kebenaran dan keadilan ditegakkan. Esensi perjuangan adalah perjuangan harkat dan martabat manusia, sebagai pribadi dan bangsa, bebas dari segala bentuk eksploitasi serta penindasan. Membela kaum lemah merupakan contoh semangat kepahlawanan yang nyata di masa kini. Keberpihakan pada yang lemah, tertindas, terpinggirkan didasari kesadaran kesamaan harkat dan derajat sebagai manusia. Orang yang lemah secara fisik, sosial (ekonomi, budaya, maupun politik) bukan untuk dikalahkan. Sebaliknya, perlu ditolong agar bisa bangkit dari aneka himpitan persoalan. Kondisi sekarang yang serba materialistik selalu meminta korban dari kaum yang lemah, kerap menjadi ‘kambing hitam’ dari segala keburukan-kesalahan-kegagalan. Orang lemah semacam ini disingkirkan dan dipinggirkan.

Kita sadari kondisi bebas merdeka masa kini tidak luput dari perjuangan para tokoh dan warga masyarakat di waktu lampau, lewat perjuangan bersenjata dan diplomasi. Kaum muda masa kini pun bisa menjadi pahlawan. ‘Senjata’ kaum muda adalah wawasan yang luas, menjadi kebanggaan bangsa dan negara, siap bersaing/berkompetisi lewat karya nyata berbekal bakat dan talenta, punya mental sekuat baja, dan rela berkorban bagi sesama. ***

Aloysius Sailuluni
Pelajar SMA Negeri 2 Sumatera Barat di Kabupaten Solok.
Asal Rogdok, Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai (hrd).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *