Semangat kepahlawaanan bagi saya adalah semangat perjuangan dengan berprinsip pada nilai patriotisme dan nasionalisme demi keutuhan bangsa dan negara. Sebagai kaum muda yang aktif dalam organisasi massa (ormas) Pemuda Katolik (Komisariat Cabang) Padang, nilai-nilai ini yang juga dihidupinya dalam pergerakan. Tindakan konkret yang mencerminkan semangat, nilai, dan jiwa kepahlawanan masa kini berupa dialog lintas agama, edukasi politik (kepada umat terutama kaum muda) dan kegiatan lain sesuai perkembangan kondisi.

Kaum muda perlu didorong aktif dalam dialog-dialog lintas agama. Gunanya, menjadi media komunikasi, saling mengenal dan mengenalkan diri. Semakin banyak perjumpaan semakin mengurangi kecurigaan satu sama lain. Menilik Akar masalah dari konflik adalah ketidaktahuan kelompok lain tentang agama katolik. Ini menjadi wadah pengenalan itu. Kesenjangan pikiran, pertanya­an umum seperti trinitas, kehidupan Yesus, tata cara ibadat, perbedaan Kristen dan protestan. Komunikasi ini adalah investasi ke depan yang harus berlanjutan. Sepengalaman saya, hambatan berkomunikasi dengan pemuda agama lain karena mereka tidak mengenal dan jarang berteman dengan orang Katolik. Ketika mereka bertanya sebenarnya mereka tidak tahu bukan untuk menguji. Tapi persepsi orang Katolik saat ditanya oleh yang beragama lain tentang imannya, kecenderungan merasa terin­timi­dasi, padahal mereka sebenarnya ingin tahu perihal iman Katolik.

Selain itu, di Padang, saya melihat kaum mudanya mempunyai kecenderungan alergi terhadap ormas. Hal ini disebabkan juga karena ada yang suka dan ada juga yang tidak suka dengan dunia politik; karena seringkali ormas diidentikkan dengan politik. Politik itu sesungguhnya adalah kehidupan. Segala kehidupan warga negara diatur dengan politik. Kita harus mengikuti proses politik itu, seburuk apapun politik yang ada, jangan menjadi apatis. Melalui fungsinya ormas merupakan alat yang bisa digunakan untuk menyampaikan masukan dan aspirasi pemerintah. Ketika ada warga yang ingin bersuara perihal kegelisahannya, maka ormas inilah yang menjadi ruang untuk menyuarakan aspirasi itu kepada pemerintah. Sebagai ormas, memang tidak terjun dalam politik praktisnya melainkan menjadi kendaraan untuk menyampaikan aspirasi.

Ormas bisa memberikan edukasi tentang proses politik, misalnya sosialisai pemilu bekerja sama dengan Bawaslu, KPU, calon-calon anggota legislatif. Edukasi kepada umat menyangkut partisipasi umat dalam meng­guna­kan hak suaranya. Almarhum Uskup Martinus pernah menyatakan “sebagai warga Gereja dan negara partisipasi dalam pemilu itu wajib.” Dengan ikut serta dalam pemilu, umat Katolik bisa berharap bangsa lebih baik. Partisipasi dalam pemilu adalah bagian dari harapan terhadap masa depan bangsa. Edukasi kepada pemilih pemula ini sangat strategis. Ada kekhawatiran terhadap kaum muda sebagai pemilih pemula. Ada orang yang mau mencari informasi, dan pula yang tidak mau tahu. Atau malas, alergi dengan politik. Sikap ini merugikan diri sendiri. Proses politik menghasilkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan. Masyarakat, mau tak mau harus menerima orang yang menang dalam proses pemilihan.

PK masuk Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sumbar, sebagai salah satu perwakilan ormas Katolik. Kehadiran PK memberi warna tersendiri, di antara 64 ormas yang ada. Hal ini sebagai tanda eksitensi dan kehadiran ormas Katolik dalam kelompok yang majemuk ini. Kalau kalangan Katolik mampu berkontribusi dengan baik di masya­rakat, akan bernilai positif dan kelompok lain akan segan.

Perlu kehadiran ormas Katolik sebagai bukti keberadaan dan kehadiran komunitas katolik. Dengan kehadiran kita dengan wajah kekatolikan, minimal memengaruhi saat mengambil keputusan dalam forum yang dapat merugikan komunitas Katolik. Ketika tidak ada perwa­kilan Katolik, mereka hanya berpikir untuk kelompoknya sendiri, membuat keputusan atau kebijakan semaunya.

Orang muda yang bergerak menjadi kekuatan tersendiri. Di dalam Gereja, kalau OMK bergerak menjadi kekuatan dan membesarkan Gereja. Potensi besar kaum muda dengan segala kreativitasnya dan sikap adaptifnya (mudah beradaptasi pada ling­kungan baru) membuat kehidupan semakin dinamis. Gejolak kaum muda jauh berbeda dengan kaum tua. Melalui kegiatan-kegiatan yang bervariatif inilah eksistensi kaum muda akan dilihat oleh orang lain.

Tahun 2022, di umur NKRI 77 tahun, konteks semangat kepahlawanan tentu berbeda dengan masa lalu. Semangat kepahlawanan diukur dengan tindakan rela berkorban tanpa pamrih dan tindakan memperjuangkan kepentingan umum. Di tingkat lokal kota Padang, berdasarkan pengamatan dan pengalaman, umat Katolik harus mampu menembus sekat-sekat primordialisme (SARA). Jangan menganggap diri kecil. Jangan berasumsi negatif terhadap orang lain karena SARA. Gereja hidup di masyarakat yang kuat dengan falsafah adatnya “Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah.” Kalau Gereja kuat dan berakar, tidak akan terpengaruh.

Penting ikut berorganisasi dan memasya­rakat, karena banyak pembelajaran dari padanya. Ketika bertemu dengan orang di luar lingkup Katolik, bisa saling mengenal dan berdialog. Masalah di lingkup Katolik, tidak setinggi ketika berhadapan dengan yang pihak-pihak dari luar Katolik. Pengalaman saya, paling enak dan seru ketika berelasi dan berhadapan ormas dari luar lingkup Katolik. ***

San Christopel Siregar
Ketua Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Padang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *