Salam belas kasih,
Saudari dan saudara yang budiman, umat se-keuskupan Padang dan para pembaca GEMA yang dikasihi Tuhan, pada bulan November kita sudah berada di penghujung tahun 2022.
Tanggal 20 November adalah Hari Minggu terakhir dalam Tahun Liturgi. Kita merayakan Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Sudah sejak beberapa tahun lalu Hari Orang Muda Sedunia (HOMS) dirayakan bertepatan dengan puncak tahun liturgi ini. Pesan Paus Fransiskus pada HOMS ke-37 tahun ini mengajak semua kaum muda untuk “bangkit dan bergegas” (bdk. Luk. 1:39), meniru teladan Bunda Maria yang setelah mendengar Kabar Sukacita segera pergi mengunjungi dan membantu Elisabet yang sedang hamil tua. Seruan yang sama dalam ungkapan inggrisnya: “Arise!” itu juga mewarnai tema HOMS tahun 2020 (“Anak muda, Aku berkata kepada­mu, bangkitlah!” (Luk 7:14) dan HOMS tahun 2021 (“Berdiri­lah! Aku menetapkan engkau menjadi saksi tentang sesuatu yang engkau lihat” (bdk. Kis 26:16). Mengapa kaum muda disapa sedemikian rupa oleh Bapa Suci untuk “bangkit” pada penghujung tahun seperti ini?

Bulan Arwah Orang Beriman dan Para Pahlawan

Menutup tahun liturgi Gereja, bacaan-bacaan dan perayaan di bulan November ini mengundang kita untuk merefleksikan saat-saat akhir dan kematian, maka dari itu sering dipandang juga sebagai bulan untuk mendoakan saudara-saudari umat beriman yang sudah mendahului kita berpulang ke Rumah Bapa. Sebagai satu bangsa Indonesia, tanggal 10 November kita rayakan sebagai Hari Pahlawan untuk mengenang mereka yang gugur dalam pertempuran di Surabaya beberapa bulan setelah proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Menarik bila kita perhatikan ke­rangka perayaan-perayaan ini. Per­ingatan semua arwah orang beriman pada tanggal 2 November itu didahului oleh Hari Raya Semua Orang Kudus. Hal ini menunjukkan kesatuan umat beriman yang ber­ziarah dengan yang sudah mulia, termasuk mereka yang masih dalam penantian. Bahkan, arwah para orang beriman itu mau dipandang dari satu perspektif yang optimis dan penuh pengharapan. Mereka juga orang-orang kudus yang telah berjuang selama hidup di dunia dengan segala pahit getirnya untuk bertahan dalam iman dan membuat mereka menjadi teladan pengudusan dalam hidup sehari-hari. Mereka juga adalah pahlawan-pahlawan iman kita.

Kembali kepada kaum muda yang juga diundang untuk memberi makna pada perayaan-perayaan bersama ini. Sejauh mana semangat kepahlawanan itu masih bisa ditemukan gemanya di antara kaum muda kita yang mayoritas berasal dari “gene­rasi z” atau bahkan “generasi alfa” yang tidak pernah mera­sakan atau pun membayang­kan situasi penderitaan karena perang, kecuali apa yang diberitakan akhir-akhir ini terjadi di Rusia dan Ukraina? Barangkali nama-nama para pahlawan nasional itu masih bisa disebut dan dihafal untuk kepentingan ujian, tetapi apakah kiranya yang ada dalam benak anak-anak muda ini sendiri, ketika mereka mendengar atau mengucapkan kata “pahlawan” dan ungkapan “semangat kepahlawan­an.” Apakah masih ada makna “perjuangan” dan “pengorbanan” dalam “kamus” kaum muda kita?

Pahlawan Kaum Muda

Waktu masih muda, saya suka membaca komik wayang. Kepahla­wanan kelima saudara Pandawa dan putera-putera mereka dalam perang di Padang Kurusetra dalam lakon wayang Baratayuda. Barangkali banyak orang yang tidak mengenal tokoh Abimanyu, seorang ksatria muda dengan kemahiran setara ayahnya, Arjuna, berperang sendirian sampai mati melawan keroyokan saudara-saudara Kurawa. Meskipun kisah wayang itu sebenarnya tidak kalah menarik dari tokoh-tokoh komik Marvel yang difilmkan sampai bersaga-saga, anak sekarang mungkin lebih kenal dan bangga pada Kapten Amerika yang karena semangat berani berkorban dalam film The Avengers akhirnya mampu mengangkat “mjolnir,” palu Thor, Sang Dewa Petir. Palu itu sendiri seharusnya hanya punya hubungan dengan orang yang dianggap pantas memilikinya.

Kisah-kisah superhero modern ini yang berhasil diangkat ke layar kaca dengan kecanggihan visualisasinya akibat teknologi Special Effect (SFX) atau CGI. CGI adalah sebuah efek khusus yang berasal dari teknik pencitraan secara 3 Dimensi yang diproses oleh komputer di media tertentu. Akibat penemuan teknologi ini, dunia perfilman menjadi semakin menarik dan membuat orang tahan berjam-jam duduk menyaksikannya. Akan tetapi, apakah nilai-nilai kepahla­wanan itu hanya ada di dalam film?

Memang benar, dalam rangka pendidikan melalui dunia hiburan (edutainment) transfer nilai-nilai itu dalam kehidupan nyata kaum muda kita tetap dapat diharapkan. Namun, kita tahu bahwa tidak cukup menye­dia­kan iklan XXI dan popcorn saja untuk membuat acara “nobar” (nonton bareng) yang bisa memikat banyak kaum muda. Masih perlu kiranya dipupuk dalam diri kita satu komitmen untuk belajar, keberanian untuk bertanya dan mendiskusi­kan­nya.

Patut kita acungi jempol, inisiatif Komisi Kepemudaan Padang dalam hal ini. Beberapa bulan lalu di aula Seminari Maria Nirmala, beberapa kaum muda dari tiga paroki di kota Padang belajar tentang kepahlawan­an melalui Film Sugija (2012), se­orang uskup pribumi pertama Indo­nesia, yang berjuang dalam masa kolonial sampai meninggalkan kepa­da kita warisan ungkapan terkenal “Seratus persen Katolik dan seratus persen Indonesia.” Pada Bulan September, dalam rangka Bulan Kitab Suci Nasional, Komisi Kepe­mu­daan mengajak OMK bersama BIR Paroki St. Paulus, Labuhbaru, nonton bareng film Exodus: Gods and Kings (2014) yang bercerita tentang Nabi Musa. Kemudian pada bulan Oktober yang lalu dalam rangka ulang tahun Paroki OMK Paroki St. Maria a Fatima, Pekan­baru, juga belajar nilai kepahlawanan iman dengan mengadakan nobar film Fatima (2020) tentang penampakan yang dialami oleh ketiga anak gembala Yashinta, Fransisco dan Lusia. Rupanya bahkan inisiatif Komisi Kepemudaan untuk mengisi renungan dalam bulan Oktober lalu, bulan rosario dan misioner itu, dengan riwayat hidup para martir kristiani dapat menjadi bahan pelajaran yang baik tentang nilai-nilai kepahlawanan yang nyata. Kiranya kita tidak lupa akan Beato Carlo Acutis yang dapat menjadi teladan kaum muda dalam men­cintai Ekaristi dan persembahan diri kepada Tuhan.

Kepahlawanan Kaum Muda

Pantaslah jika seruan Bapa Suci, Paus Fransiskus, kepada kaum muda dalam Hari Orang Muda Sedunia yang ke-37 ini menekankan semangat untuk “Bangkit dan Ber­gegas,” sebagaimana sikap Maria sesudah menerima Kabar Sukacita, seperti sikap para pahlawan iman dalam Kitab Suci, para kudus dan para martir dalam sejarah Gereja kita. “Ketergesaan” apa yang menggerakkan kalian, orang-orang muda terkasih? Apa yang mendesak kalian untuk bergerak supaya kalian tidak diam saja? Banyak orang – terkena dampak berbagai kenyataan seperti pandemi, perang, migrasi paksa, kemiskinan, kekerasan dan bencana iklim – bertanya pada diri mereka sendiri: Mengapa hal ini terjadi pada saya? Mengapa hanya pada saya? Mengapa sekarang? Namun pertanyaan penting dalam hidup ini adalah: untuk siapa aku hidup? (bdk. Christus Vivit, 286).”

Pesan Paus ini mengundang Kaum muda untuk keluar dari sikap minimalis dan melawan egoisme, dengan menampik budaya ketidak­pedulian dan menggantikannya dengan kesediaan dan pemberian diri. Sekali lagi, apa yang telah diperbuat oleh banyak kaum muda kita di Keuskupan Padang ini sejak dari zaman dahulu dengan berbagai aktivitasnya mulai dari sifatnya parokial, sampai yang politis dalam organisasi-organisasi kemasyarakat­an, rasa-rasanya menunjukkan bahwa kepahlawanan kaum muda kita sejatinya pantas dibanggakan. Tidak heran, bahwa dalam waktu tiga bulan, komisi kepemudaan bersama banyak kaum muda yang “heroik” berhasil merestaurasi kembali Seminari Maria Nirmala, supaya siap kembali menjadi tempat persemaian panggilan. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita dengan semangat kepahlawanan kaum muda ini. ***

† Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *