SIKAKAP – “Santo Yohanes Paulus II mengatakan Sakramen Krisma menguatkan segala sesuatu yang telah diterima saat dibaptis. Saat dibaptis, kita diubah dari hidup yang lama kepada hidup yang baru. Kita menjadi anak-anak Allah. Saat menerima Sakramen Krisma, kita menjadi ‘orang dewasa’ yang siap diutus dan menerima tanggung jawab, berani berkorban untuk sesamanya. Itulah dinamakan orang Katolik yang dewasa,” ucap Bapa Uskup Vitus Rubianto Solichin, SX dalam homili di gereja pusat Paroki St. Maria Assumpta Sikakap, Minggu (25/9).

Kepada umat yang memadati gereja serta 56 penerima Krisma, Mgrt. Vitus menambahkan bahwa dengan menerima Krisma, tidak lagi menjadi orang yang setengah-setengah lagi. Orang yang beragama menurut keyakinannya, tidak lagi diombang-ambingkan seperti bendera diterpa angin. Tetapi, sungguh orang yang tahu memilih. Sama halnya dengan tahbisan imamat dan uskup, para krismawan-krismawati pun diberi tanda dengan minyak krisma. “Kita yang menerima Krisma ikut ambil bagian menjadi saksi-saksi Kristus dan diutus. Hidup kita bukan diri sendiri semata melainkan memberi kesaksian. Roh Kudus yang diterima membuat kita berani bersaksi.” katanya.

Selain di pusat paroki, Perayaan Ekaristi dan penerimaan Sakramen Krisma juga berlangsung di Stasi Purourougat (26/9) dan Stasi St. Maria Ratu Rosario Matobe’ (27/9). Di Sikakap dan Purourougat, selain dihadiri umat Katolik setempat, juga dihadiri sejumlah jemaat dari denominasi Gereja lain. “Terasa sebagai suatu ‘pesta’ para pengikut Kristus untuk merayakan iman secara bersama-sama. Bahkan, ada yang mengantar anak-anak dan saudaranya yang akan menerima tanda pengurapan Roh Kudus. Di kalangan Kristen, Krisma disebut sidi, menjadi orang yang dewasa dalam iman,” ucap Uskup Vitus lagi.

Usai perayaan ini berlangsung acara ramah tamah dan santap siang di Aula Santa Maria Assumpta Sikakap. Acara diisi dengan hiburan paduan suara dari para penerima Sakramen Krisma, manortor oleh siswa SDK Vincentius Sikakap, dan aneka sambutan.

Mewakili penerima Krisma, Andreas Saogo menyatakan bahwa hari itu merupakan hari bahagia bagi penerima Krisma. “Kami berjanji, pelajaran dan bekal yang didapatkan selama dua bulan persiapan akan menjadi pegangan dan pedoman hidup,” katanya.

Sementara itu, perwakilan orangtua penerima Krisma, Silvi mengatakan, “Sebagai orangtua, kami berharap penerima Krisma dapat menjadi pribadi yang kuat dalam iman, pribadi yang siap berkarya (dalam keluarga, sekolah, Gereja, dan masyarakat). Jadilah pribadi yang baik dan saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Penerima Krisma dinilai telah dewasa. Bukan anak-anak. Semakin kokoh dan kuat; serta wajib terlibat secara penuh di dalam Gereja. Kami akan memantau perubahan mereka.”

Pastor Paroki Sikakap, P. Wilhelmus Wolor, Pr dalam sambutannya mrenyatakan bahwa penerima Sakramen Krisma adalah peristiwa istimewa. Tidak hanya bagi penerima Krisma, melainkan juga bagi umat yang telah menerima sebelumnya. “Yang terjadi hari ini sekaligus “pengingat” atas tugas perutusan yang kita terima dari Tuhan. Semoga bekal yang didapat selama masa persiapan sungguh meresap dalam hati dan dilaksanakan dalam kehidupan. Jadilah orang baik!” tukas P. Wilhelmus.

Selama di Sikakap, Bapa Uskup mengunjungi Stasi Purourougat – Pagai Selatan (26/9) dan di Stasi Matobe’ – Pagai Utara (27/9). Di dua stasi ini, Bapa Uskup Vitus disambut meriah umat dengan atraksi tarian selamat datang bernuansa Mentawai. Di gereja Stasi Purourougat, Bapa Uskup Vitus menerimakan Sakramen Krisma bagi 29 umat. Di Stasi Matobe’ sebanyak 38 umat juga menerima Krisma. Malamnya, atas permintaan umat Matobe’ diisi dengan Doa Rosario dilanjutkan hiburan dan sambutan.

Selama di pusat paroki, Bapa Uskup Vitus merayakan Ekaristi harian bersama penghuni asrama putera dan puteri. Bapa Uskup juga mengadakan pertemuan dengan para guru SDK Vincentius Sikakap (termasuk guru filial Bubuakat dan Mangkaulu), Rabu (28/9). Selain itu, Bapa Uskup mengadakan pertemuan dengan komunitas pastor dan suster, Kamis (29/9). Rencana pertemuan dengan DPP Harian dan Pengurus Stasi Pusat dibatalkan karena kendala transportasi ke Padang.

Sebelum kembali ke Padang (29/9), di Pastoran Sikakap, saat diwawancarai GEMA, Uskup Vitus menyatakan gembira pada kunjungan pastoral perdananya ini; cuaca yang cerah, meski seminggu sebelumnya kurang bagus untuk pelayaran karena badai dan hujan. “Saya terkesan dengan kunjungan ini, apalagi mendapat sambutan yang begitu hangat dari umat, termasuk sambutan dari saudara-saudari dari kalangan Kristen Protestan. Satu hal yang menarik perhatian saya dan kiranya merupakan warisan dari para pendahulu, termasuk dari para misionaris, terutama saat menyambut kedatangan Bapa Uskup. Mereka mencium cincin uskup yang mempunyai makna tersendiri dan mendalam dilakukan dengan penuh khidmat,” ungkap Uskup Vitus.(hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *