Narsis adalah salah satu istilah populer yang sering dilontarkan kalangan anak muda untuk menggambarkan seseorang yang terlalu percaya diri dan bangga pada diri sendiri. Apa pertandanya? Mereka hobi selfie berlebihan dan memamerkan foto koleksi dirinya di berbagai akun sosial media. Istilah narsisme pertama kali dipopulerkan psikolog ternama, Sigmund Freud. Psikolog ini menjelaskan bahwa kepribadian seseorang yang mengejar pengakuan dari orang lain terhadap kekaguman dan kesombongan egoistik pribadinya.

Memiliki rasa percaya diri merupakan suatu hal yang bagus. Namun, keliru dan salah, jika terlalu tinggi hingga selalu ingin dipuji dan melenyapkan rasa empati pada orang lain. Kondisi patologis ini dinamakan gangguan kepribadian narsistik (Narcissistic Personality Disorder/NPD) yang digolongkan sebagai suatu gangguan mental. Pengidapnya merasa dirinya jauh lebih penting, memiliki kebutuhan untuk dipuji atau dibanggakan, tetapi minim empati pada orang lain.

Sebenarnya, pengidap NPD rapuh dan mudah runtuh hanya dengan sedikit kritikan. Biasanya, ciri-ciri NPD mulai terlihat pada masa kanak-kanak atau remaja. Diperparah bila orangtua terlalu memanjakan, pujian berlebihan, pola asuh yang tidak tepat, dan lingkungan sekitar. Mereka biasanya menunjukkan sikap: (a) Menilai diri sendiri terlalu tinggi dibandingkan orang lain secara berlebihan, (b) Menganggap diri dianggap superior tanpa adanya pencapaian yang pantas, (c) Melebih-lebihkan pencapaian dan bakat diri, (d) Meyakini diri sendiri sebagai seseorang yang superior dan meyakini bahwa hanya orang-orang yang sama istimewanya yang akan memahami hal tersebut, (e) Memiliki pikiran penuh fantasi mengenai sukses, kekuasaan, kepandaian, kecantikan atau ketampanan, atau mengenai pasangan yang sempurna.

Selain itu, pengidap NPD memiliki kebutuhan untuk selalu dipuji atau dikagumi, merasa istimewa, menganggap dirinya pantas mendapat perlakuan spesial dan hal itu wajar di mata orang lain, memanfaatkan orang lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Pengidap NPD tidak mampu meraba rasa atau menyadari perasaan atau kebutuhan orang lain, merasa cemburu terhadap orang lain dan merasa orang lain cemburu terhadap diri sendiri, dan memiliki perilaku yang arogan.

Seorang narsis biasanya merasa puas jika orang lain terbuai hal-hal yang dipamerkannya. Untuk menghadapi orang narsis seperti ini, cobalah untuk santai dan humor. Humor membuat suasana lebih cair dan lebih menyenangkan. Hindari respons negatif; misalnya menyindir atau mengritik karena orang narsis sangat peka terhadap dirinya. Selain itu, beberapa car acara/kiat dapat ditempuh: (a) melihat siapa NPD sebenarnya, (b) berhenti fokus pada mereka, (c) bicaralah untuk membela diri, (d) tetapkan batasan yang jelas.

Selain itu, beberapa cara/kiat dapat ditempuh: (a) jangan ambil hati, berlapang dada, dan terima mereka apa adanya, (b) jangan terlalu memikirkan mereka yang bisa merasuk dalam alam pikiran, (c) diam dapat menjadi langkah jitu – namun bila ‘pengidap’ narsistik kekasih atau keluarga dekat maka dapat disampaikan kekesalan Anda walau mungkin bakal diabaikan, (d) tetapkan batasan yang jelas sehingga tidak melampaui batas – karena biasanya pengidap narsistik merasa bebas melakukan berbagai hal; bahkan masuk dalam ranah pribadi.Selain itu, tips lain yang dapat dilakukan untuk menghadapi ‘pengidap’ narsistik adalah (e) teguh dengan pendirian – karena mereka cenderung melawan tatkala ada Batasan. Jika bersikap ‘lembek’, pengidap narsistik akan meremehkan Anda di lain waktu. (f) perbanyak teman baru dan perluas pergaulan yang dipenuhi orang-orang baik. (g) saran agar ‘pengidap’ – terutama orang terdekat – mencari bantuan pada ahli kesehatan mental.(ist)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *