Orang Katolik berusia 13-35 tahun dan belum menikah, dikategorikan Orang Muda Katolik (OMK) dulu Muda-mudi Katolik (Mudika). Apa kaitannya dengan bulan November, ada satu momen nasional Hari Pahlawan? Pada momen ini, OMK diharapkan dapat menyerap sari pati perayaan ini, yakni jiwa kepahlawanan, semangat rela berkorban.

Pada masa lalu, kepahlawan seseorang diukur dengan pengorbanan jiwa atau nyawa. Tetapi di masa kini tidak selalu demikian. Semangat kepahlawanan atau semangat pengorbanan bisa dalam bentuk kesediaan dan kerelaan berkorban waktu, tenaga, perhatian, dan materi. Tidak selalu dan harus nyawa.

Bagaimana dengan OMK Sikakap? Saya fokus seputar Sikakap saja. Menurut saya sejak berdomisili di Sikakap-Pagai Utara, Mentawai (2009), OMK-nya kurang antusias menggereja dan memasyarakat. Saya cermati, pada umumnya, mereka akan ke gereja kalau dalam ‘tekanan’ atau paksaan. Contohnya, murid saya di SMP Negeri 1 kalau diharapkan kesadaran sendiri beribadah ke gereja, tidak bakal hadir/datang. Mesti ada cara “paksa rela” sehingga mereka ke gereja. Saya buatlah aturan, dikaitan nilai agama dengan kehadiran mereka ini.

Setamat SMP dan melanjutkan ke SMA, ataupun tidak melanjutkan sekolah, lebih parah lagi. Tidak tampak batang hidungnya di gereja. Mereka akan ‘muncul’ lagi karena alasan tersendiri ataupun digerakkan orangtua; misalnya saat penerimaan Sakramen Krisma, momen Natal dan Paskah. Ada OMK yang ke gereja, tetapi tidak sampai ke dalam mengikuti ibadat. Mereka ngobrol di parkiran. Jujur, saya kerap jadi sorotan. Seperti satpam mereka. Mengapa? Karena ketika mereka (mantan murid SMP) melihat saya, bakal menghindar, ada yang ‘melarikan diri’. Mereka takut ketahuan tidak ke gereja atau datang, namun tidak mengikuti Perayaan Ekaristi. Sebenarnya, saya tidak menghendaki hal demikian, karena mengutamakan kesadaran yang muncul dari dalam diri sendiri. Apalagi, kalau kita sadari merekalah tiang, tulang punggung, harapan, masa depan Gereja dan masyarakat.

Namun, harapan atau impian saya itu boleh dibilang kosong. Terlebih dua tahun terakhir, akibat pandemi Covid-19, sama sekali tidak ada kegiatan OMK. Sebelumnya, dari 30-an OMK di Sikakap ini, masih ada yang aktif. Dua tahun terakhir vakum aktivitas, sangat sulitlah untuk memulainya lagi. Di antara OMK, ada yang sudah bekerja. Mereka kesulitan meluangkan waktu. Selain itu juga kendala jarak domisili. Merunut masa lalu, mereka yang pernah aktig di kelompok Bina Iman Anak (BIA), Serikat Kerasulan Anak Misioner (Sekami), Bina Iman Remaja (BIR) lebih mudah diajak.

Menurut saya, OMK mau terlibat menggereja karena faktor pembina. Kalau ada figur yang disenangi, pasti mereka mudah digerakkan. Pengalaman saya, mereka (pelajar SMP) aktif di BIR karena kebetulan saya pendampingnya. Ditambah, saya juga Guru Agama Katolik mereka di SMP Negeri 1 Pagai Utara Selatan. Tetapi, selepas SMP, mereka seakan ‘tidak terkontrol’ (loss control). Parahnya orangtuanya tidak peduli, tidak mendorong mereka aktif di Gereja. Saya pun bingung, menghadapi situasi semacam ini.
Di Dewan Pastoral Paroki (DPP) ada Seksi Kepemudaan. Di waktu lalu, personil Seksi Kepemudaan DPP gesit sehingga hasilnya pun luar biasa. Kala itu, OMK Sikakap sangat dinamis. Kini tidak lagi seperti itu. Maka dapat disimpulkan, kalau ada yang menggerakkan, OMK dipastikan bergerak!

Berkaitan dengan semangat kepahlawanan OMK masa kini, tentu tidak sama dengan masa lampau. Sekali lagi, semangat kepahlawanan adalah semangat pengorbanan (waktu, perhatian, tenaga, materi) bagi sesama. Mereka tidak egois, tidak mementingkan diri sendiri semata. Saya senang bila orang muda bersedia bergotong royong di lingkungan gereja maupun masyarakat. Sekali lagi, bila diajak! Soal kesadaran dari diri sendiri, masih tanda tanya. Untuk menggerakkan kembali warga OMK aktif lagi butuh dorongan dan dukungan tim penggerak. Kalau tidak ada penggerak/motivator, seperti sekarang ini – diperparah adanya pandemi. Maka, langkah pertama menghidupkan kembali semangat pengorbanan: hidupkan kembali kegiatan rutin orang muda – bukan hanya karena momen/peristiwa tertentu saja; contohnya agenda rutin mingguan atau bulanan. Jangan biarkan vakum atau kosong berkepanjangan! Jangan lupa, orang muda butuh pihak yang bersedia dan bisa menggerakkan mereka.

Triberti Simaremare, S.Ag.
Anggota Tim Pastoral (Katekese) Paroki St. Maria Assumpta Sikakap.
Ketua Wanita Katolik RI Cabang Sikakap-Mentawai. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *