Peringatan Hari Pahlawan, 10 November menjadi momentum bagi kaum muda untuk “berefleksi”. Kaum muda diajak dan dibawa kembali mengingat dan merenungkan semangat kepahlawanan yang telah dihidupi dan dihidupkannya. Melihat situasi kekinian di Keuskupan Padang, kaum mudanya mulai menunjukkan perkembangan ke arah yang lebih baik. Usai masa pandemi Covid-19 ini, kaum muda mulai bergerak dan bangkit lagi.

Dalam lingkup paroki Dumai, kaum muda bergerak dengan cara membuat kegiatan-kegiatan yang positif yang bisa meningkatkan kapasitas diri. Hanya saja, dalam situasi belum sepenuhnya normal, sulit berbicara kuantitas untuk mengumpulkan orang muda dalam suatu kegiatan. Maka, lebih tepatlah berbicara partisipasi kaum muda dari sisi kualitasnya.

Kunjungan pastoral Mgr. Vitus Rubianto Solichin ke Paroki Dumai di bulan September turut memberikan semangat bagi kaum mudanya. Dalam agenda kunjungan, Bapa Uskup menghadiri pertemuan khusus OMK Paroki. Perkembangan kaum muda tidak pernah lepas dari dukung hirarki. Kaum muda menjadi organ yang sangat penting dalam kehidupan internal maupun eksternal Gereja. Kaum muda adalah generasi penerus yang akan melanjutkan tongkat estafet dari para pendahulunya. Sehingga perlu juga untuk mendampingi dan membekali kaum muda agar siap dengan situasi dan tantangan ke depannya.

Penting untuk menggerakkan orang muda ke dalam internal Gereja sebelum berbicara ke luar gereja. Spiritualitas perjuangan “Pro Ecclesia et Patria” (Demi Gereja dan Tanah Air) menjadi penting. Tak elok rasanya menjadi orang yang berkoar-koar di luar Gereja, namun apatis terhadap persoalan di dalam lingkup umat. Idealnya, empati dari nurani kaum sudah menyentuh dan menyelesaikan persoalan umat, barulah mengambil peran di masyarakat. Pro Bono Publico, untuk kepentingan masyarakat umum.

Dewasa ini, tantangan muncul dari cara pandang orang muda. Kecenderungan kaum muda dengan doktrin lama, yaitu ketika terjadi konflik memilih menghidar meskipun konsekuensinya tertindas. Kesannya, walaupun tertindas daripada ribut mendingan mengalah. Padahal, ini bisa menjadi akar pencetus dari sikap acuh tak acuh (apatis). Misalnya, tentang izin mendirikan bangunan gereja. Ketika gereja ada kendala dalam pengurusan izin tersebut, kaum muda bisa mengambil bagian sampai menghasilkan solusi. Ini peran kaum muda dalam membela kepentingan Gereja.

Tidak zamannya lagi kaum muda berjuang dengan mengangkat senjata. Medan perjuangan kaum muda adalah dinamika kehidupan masyarakat. Ada hal menarik yang menjadi perhatian Pemuda Katolik, yaitu perihal doktrin lama bahwa “Saya tidak mau terlibat politik.” Sikap itu muncul bisa karena ketidaksukaan seseorang dengan dunia politik. Sikap itu akan berlanjut pada sikap “Tidak mau masuk dalam pemerintahan.” Hal ini perlu menjadi perhatian, karena melalui politik bisa memengaruhi kebijakan publik (undang-undang dan peraturan daerah). Oleh sebab keterwakilan umat Katolik di legislatif (DPR & DPRD) dan eksekutif (pemerintahan) menjadi strategis untuk itu. Oleh sebab itu betul rasanya jika “OMK perlu belajar politik.“

Dalam situasi dan tantangan inilah Pemuda Katolik Komcab Dumai berjuang dan ambil bagian. Semangat, nilai, dan jiwa kepahlawanan terus dihidupkan di dalam diri kaum muda. Aneka kegiatan dibuat untuk menjawab tantangan ini, baik bersifat internal dan eksternal. Kegiatan internal ini seperti bazar minyak goreng murah, seminar dan workshop tentang peran wanita dalam dunia bisnis, rekoleksi OMK. Rekoleksi bisa menjadi shelter OMK dalam paroki. Selain itu menghidupkan kembali semangat OMK untuk menggereja.

Semangat kepahlawanan bisa ditumbuhkan di tengah masyarakat melalui aneka kegiatan eksternal Gereja. Pemuda Katolik melakukan pendidikan politik berjasama dengan Komisi Pemiligan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Dumai. Bersama ormas jejaring seperti GP Ansor, Muhamadiyah, GAMKI melaksanakan sosialisasi tentang UU ITE. Sebagai sesama ormas kepemu­daan, ada kepentingan yang sama, yaitu menjaga dan melaksanakan semangat patriotisme diilhami dari semangat Sumpah Pemuda, 28 Oktober. ***

Cassarolly Stefanus Sinaga
Warga Paroki St. Fransiskus Xaverius Dumai, Ketua Pemuda Katolik Komcab Dumai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *