PERSIAPKAN JIWA YANG LAYAK

HARI MINGGU ADVEN I (27 November 2022)
Yes 2: 1-5; Mzm 122:1-2, 4-5, 6-7, 8-9;
Rm. 13:11-14a;
Mat 24:37- 44

ALKISAH, seorang pria sedang melintasi padang gurun. Ia merasa sangat kehausan. Ia mencari tempat penjual air minum, namun tidak ditemukannya. Setelah sekian lama, ia berpapasan dengan seorang pedagang dasi. “Apakah Saudara mempunya air minum untuk dibagi?” katanya.
“Tidak ada. Kalau Anda mau, silakan beli dasi ini hanya Rp 20. 000. Dasi ini sangat penting untukmu,” jawab penjual dasi itu. “Saya tidak butuh dasimu. Saya butuh air minum.” katanya sambil berlalu.

Ia hanya fokus dengan dirinya yang mencari air. Setelah beberapa jam berjalan, ia menemukan restoran semua serba gratis. Saat ia mencoba masuk, penjaga restoran itu tidak mengizin­kannya, karena tidak memakai dasi. Syarat masuk restoran itu harus memakai dasi. Ia pun menyesal karena tidak mendengarkan penjual dasi tadi.

Minggu ini, Gereja memasuki tahun liturgi baru (Minggu Adven I). Memasuki masa Adven seperti orang yang sedang melintasi padang gurun. Umat Allah mencari Yesus – pelepas haus dan dahaga. Akhirnya ada orang yang tidak menemukan-Nya karena sibuk dengan diri sendiri. Sibuk dengan urusan dan perasaan sendiri, tidak mendengarkan dan nasehat orang lain. Karena itulah butuh masa Adven yang akan menolong mempersiapkan diri.

Kata “adven” berasal dari kata “adventus” dari bahasa Latin, artinya kedatangan. Masa Adven ini berkaitan dengan permenungan akan kedatangan Kristus – yang telah datang ke dunia dan akan datang kembali di akhir zaman (parousia) sebagai Hakim.
Perayaan masa Adven meliputi tiga hal: peringatan akan kedatangan Kristus yang pertama di dunia (Natal), kehadiran-Nya di tengah Gereja, dan penantian akan kedatangan-Nya kembali di akhir zaman (parousia). Maka kata “Adven” harus dimaknai dengan arti yang penuh, yaitu: dulu, sekarang dan di waktu yang akan datang.

Masa Adven salah satunya ditandai dengan lingkaran atau corona adven yang terbuat dari daun-daun segar. Empat lilin diletakkan sekeliling lingkaran, tiga lilin berwarna ungu dan yang lain berwarna merah muda. Lilin-lilin itu melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven, yaitu masa persiapan menyambut Natal. Setiap hari, dalam bacaan Liturgi Perjanjian Lama dikisahkan tentang penantian bangsa Yahudi akan datangnya Sang Mesias, sementara dalam Perjanjian Baru mulai diperkenalkan tokoh-tokoh yang berperan dalam Kisah Natal. Pada awal Masa Adven, sebatang lilin dinyalakan, kemudian setiap minggu berikutnya lilin lain mulai dinyalakan. Seiring dengan bertambah terangnya Lingkaran Adven setiap minggu dengan bertambah banyaknya lilin yang dinyalakan, untuk mengingatkan bahwa kelahiran Sang Terang Dunia semakin dekat.

Warna-warni lilin memiliki makna tersendiri. Lilin ungu sebagai lambang pertobatan, masa untuk mempersiapkan jiwa layak menerima Kristus pada Hari Natal. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu “Gaudete”. “Gaudete” bahasa Latin yang berarti “sukacita”, melambangkan sukacita karena Natal hampir tiba.

Warna merah muda campuran warna ungu dengan putih, artinya sukacita pada Hari Natal (dilambangkan warna putih), tidak tertahankan lagi dalam masa pertobatan ini (ungu) dan sedikit meledak dalam Masa Adven. Pada Hari Natal, keempat lilin digantikan dengan lilin putih, artinya masa persiapan telah usai dan masuk dalam sukacita yang besar.

Masa Adven, boleh-boleh saja mempersiapkan hal-hal jasmani (duniawi), namun yang terpenting ialah mempersiapkan hati. “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datan….Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *