Orang muda ini kekuatan terbesar di dalam Gereja. Coba bayangkan, jika dalam satu keluarga itu ada tiga anak, maka OMK dalam keluarga itu lebih banyak dari orang tua. Mereka yang akan menjadi generasi di masa depan. Termasuk dalam Gereja. Kalau orang mudanya tidak kuat, Gereja akan lemah. Orang Muda ini seperti menegakkan karung yang bisa diisi dengan benda apa saja sehingga karung dapat menjadi penopang. Pun dengan Gereja, kalau tidak diisi orang muda yang kuat, gereja tidak akan bisa berdiri kuat. Itulah pentingnya orang muda. Kepada merekalah pemahaman tentang hidup menggereja, visi dan misi gereja, diteruskan dan diberikan sehingga ketika mereka dewasa, pemuda-pemudi ini yang akan memperjuangkan hal-hal yang menjadi perjuangan Gereja dari berbagai macam sisi.

Menghidupi Nilai Kekatolikan dalam Pembinaan Kaum Muda

Pembinaan kaum muda bertujuan agar mereka memiliki spriritualitas kekatolikan. Jika orang muda tidak paham pada hal-hal fundamental perihal “Kenapa saya harus menjadi Katolik?”,“Bagaimana Gereja ini tetap eksis dan kokoh?”. Kalau orang muda tidak dibekali dengan pemahaman nilai-nilai kekatolikan, Gereja di masa depan akan menjadi tidak kuat. Contoh sederhana ketika berkarya di Riau, orang muda yang berada di wilayah pinggiran kota memiliki kecenderungan tidak mau tahu tentang hidup menggereja. Ketika ada pemilihan pengurus Gereja seperti Dewan Pastoral Paroki (DPP), yang dipilih malah orang tua sedangkan orang mudanya tak tampak. Ini menjadi tantangan Gereja. Muncul pertanyaan ke mana orang mudanya, ketika pengurus Gereja diisi oleh orang-orang tua. Situasi ini bisa saja terjadi karena orang mudanya tidak tersentuh oleh kepengurusan Gereja. Idealnya, dalam sebuah kepengurusan Gereja turut menyertakan orang muda di tengah orang-orang yang berpengalaman.

Kita tidak bisa berbicara tentang masa depan Gereja kalau pengurus hanya sekedar berwacana namun tidak mau terjun menyelesaikan persoalan itu sehingga sesuatu yang diinginkan dan diidam-idamkan itu tidak terlaksana. Pembinaan kaum muda ini harus dimulai dari hal-hal yang kecil, seperti cara agar mereka rajin pergi ke gereja, komuni, berdoa, dan lain-lain. Setelah itu baru berlanjut pada suatu topik yang lebih mendalam seperti “Mengapa bangga menjadi Katolik?”

Orang muda yang tidak bangga menjadi Katolik akan gampang meninggalkan agamanya. Ketika orang muda mendapatkan calon pasangan yang berbeda keyakinan, akan gampang pindah ke keyakinan pasangannya. Beda cerita ketika orang muda terbina, pribadinya akan kuat. Justru dia yang akan mengajak pasangannya menjadi Katolik. Prinsip inilah yang harusnya dimiliki OMK. Contoh lain adalah banyak terjadi di kota besar, ketika orangtuanya meninggal dunia, maka dia meninggalkan anak- anak yang telah menikah. Seiring berjalannya waktu, ternyata mereka meninggalkan Katolik. Ketika mereka menikah memang masih Katolik, namun persoalannya pasangan ini bercerai lalu menikah lagi. Pernikahan ini terjadi karena ada persoalan sebelumnya. Orang gampang untuk bercerai karena kehadiran orang ketiga yang mau menerima dia. Persoalan ini tidak dapat diperbaiki di Gereja Katolik karena perkawinannya yang terdahulu. Akhirnya, dia berpindah ke agama lain. Dari pengalaman itu maka mentalitas orang muda seperti inilah yang perlu dibenahi.

Menghidupi Spiritualis Rasa Memiliki

Kaum muda harus memiliki pengaturan waktu yang baik (manajemen waktu). Kalau mengatakan sibuk, tetapi sibuk yang tak karuan, sama dengan tidak bisa mengatur waktu. Memang ada orang sibuk, karena sudah mengatur agenda kegiatannya. Meskipun benar-benar sibuk, orang ini masih ada waktu untuk kegiatan Gereja. Orang bergerak karena rasa memiliki.

Banyak motivasi yang mendorong seseorang aktif menggereja. Ada yang rajin dengan berbagai macam kegiatan gerejawi karena merasa: “Gereja ini adalah milik saya”, “Doa itu milik saya”, “Kegiatan itu menjadi bagian dari diri saya.” Orang itu merasa hidup menggereja itu penting.

Ada juga orang yang tidak menjadi persoalan ketika dirinya tidak ke gereja. Ini artinya belum tumbuh rasa memiliki pada dirinya. Contoh lain, jika bagi mahasiswa kuliah itu penting, walaupun hujan dan kendala apapun, akan pergi kuliah. Tapi kalau dia merasa terbebani dengan kuliahnya, orang itu tidak akan kuliah. Jadi semua tergantung caranya menyusun strategi tentang hidupnya. Kalau merasa memiliki, orang akan melakukan dengan kesadarannya. Seperti orang pacaran, kalau motivasinya pasangannya adalah kepunyaannya; laut akan diseberangi, gunung akan didaki, lembah akan dilewati, berapa pun biaya tidak peduli.

Menghidupi Spiritualis Misericordia Motus

Gerakan spiritualitas itu baru bisa tumbuh ketika “Tergeraklah Hatinya oleh Belaskasihan.” Dalam Matius, Bab 8, Yesus ketika melihat orang banyak datang berbondong-bongong dan hari mulai malam. Lalu tergeraklah hati-Nya oleh orang-orang datang. Yesus ingin murid-muridnya berbuat untuk orang-orang itu. Akan tetapi murid-muridnya tidak bisa berbuat karena tidak memiliki sesuatu untuk diberikan. Yesus ingin menggerakkan murid-murid, kamulah yang memberi mereka makan. Artinya, Yesus mengajak para muridnya supaya mereka terlibat atas persoalan kelaparan meskipun Yesus akhirnya mengadakan mukjizat dengan menggandakan roti. Tapi para murid ini telah diajak untuk tergerak hatinya.

Pemikiran orang kadang sempit. “Saya punya kreativitas apa?” “Peluang apa yang bisa saya lakukan untuk mengatasi persaoalan itu?”. Banyak orang yang memandekkan diri karena merasa dirinya tidak mampu. Tapi kalau orang yang tergerak hatinya, akan mencari akal. Solusi dan berbagai macam ide dan cara akan muncul. Banyak juga cerita tentang orang-orang yang mendapat mukjizat di dalam dirinya, karena tidak punya apa-apa untuk berbuat, tetapi bisa melewati dan menjalaninya. Ada cerita tentang seorang gubernur, dahulu gubernur itu mengeluhkan bagaimana pemerintah bisa melakukan sesuatu untuk membenahi wilayah ini kalau tidak memiliki dana. Ini sering memacetkan kalau tidak punya kreativitas. Banyak yang bisa dilakukan dengan melibatkan masyarakat.

Kita tidak bisa mempersalahkan kaum muda, karena tempat tinggalnya yang berjauhan. Pengalaman saya di Riau ketika Rawil mengumpulkan OMK untuk membuat kegiatan. Untuk sampai ke gereja pun cukup jauh, mereka ada yang bekerja di kebun teh atau kelapa sawit. Mereka berniat datang, tetapi kendalanya sudah malam dan kendaraan tidak ada. Berbeda dengan di kota.

“Mengapa kegiatan OMK tidak jalan?” Ada yang menjawab: Kami tidak difasilitasi. Kami tidak memiliki sarana dan uang. Kami tidak diperhatikan. Orang muda pun bertanya: Mengapa ide kami tidak diterima pengurus Gereja? Sebagai pastor, saya menjelaskan supaya mereka menampilkan idenya dengan konkrit. Mereka mesti punya argumen sehingga idenya bisa dipertang­gung­jawab­kan. Kaum muda mesti meng­ungkapkan rencananya secara konkrit, jangan hanya sekedar angan-angan. Orang muda memiliki daya juang untuk menciptakan UKM. Namun, dari segi hidup menggereja ini menjadi perhatian. Bahkan bukan hanya kaum muda namun juga kaum tua. Pandemi menyebabkan seseorang menjadi terlena dengan teknologi internet seperti perayaan ibadah melalui zoom. Tergantung dari orangnya. Kalau dia malas maka akan malas terus. Gerakan hati untuk terlibat dalam pertemuan OMK masih lemah.

Berbicara Kaum Muda – Berbicara Panggilan

Kaum muda akan menjadi tua, ketika tidak ada pembinaan kaum muda, berarti juga tidak ada panggilan. Ketika berbicara panggilan, perlu partisipasi orang tua untuk membina anak-anaknya. Berbeda hal ketika anak-anak dalam keluarga ingin meraih cita-citanya menjadi dokter, pilot, dan lain-lain. Ini cita-cita yang umum, panggilan hidup berkeluarga dan mencari nafkah hidup ke depannya. Panggilan imam merupakan profesi yang berbeda karena panggilan ini muncul dari gerakkan hati. Kaum muda didorong menjadi imam dan suster, tetapi ketika di rumah orang tua tidak mendukung maka percuma. Maka spiritualitas kekatolikan di dalam rumah tidak dapat lahir karena tidak didukung orangtua.

Ada pembinaan orang tua dan pembinaan orang muda. Dari pembinaan ini diharapkan muncul partisipasi anak terhadap kegiatan menggereja sehingga muncul spiritualitas: “Tergeraklah Hatinya oleh Belaskasihan”. Belas kasih ini muncul ketika seseorang diberikan pemahaman bahwa dirinya bukan hanya sekedar sebagai umat Katolik melainkan umat katolik yang menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat. Dalam keluarga ini juga terlihat tentang keimanan orangtua. Dalam keluarga, orangtua berperan sebagai sosok teladan. Banyak kaum muda yang menjadi imam karena spiritualis kekatolikan orangtuanya. Nilai-nilai kekatolikan itu dihidupi dan dihidupkan di dalam keluarganya. *** 

Pastor Mateus Tatebburuk, Pr.
Pastor Paroki Katedral St. Theresia dari Kanak-kanak YesusKatedral Padang
Moderator PMKRI Cab. Padang “Sanctus Anselmus”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *