PADANG – “Nobar Bersama Uskup”. Kegiatan ini diinisiasi Komisi Kepemudaan (Komkep) Keuskupan Padang dan sebagai pelaksanakan OMK Paroki Katedral Padang, di Puri Dharma Katedral, Senin (31/10). Sebanyak 70-an OMK dari tiga paroki di Kota Padang (Paroki St. Fransiskus Assisi Padangbaru, Paroki Katedral St. Theresia Kanak-Kanak Yesus Padang, Paroki St. Maria Bunda Yesus Tirtonadi) mengikuti kegiatan ini. Bapa Uskup berbaur dengan orang-orang muda ini.

“Nobar” diawali dengan pemutaran film The Unholy. Film ini berkisah tentang Alice –  gadis muda yang sejak kecilnya tunarungu dan tunawicara. Tiba-tiba mendapatkan kesembuhan setelah mengalami pertemuan dengan Perawan Maria. Bukan hanya bisa berbicara, Alice juga mampu melakukan mukjizat-mukjizat. Hal ini membuat banyak orang (terutama yang sakit) datang kepadanya guna mendapatkan kesembuhan. Gereja Katolik mengirimkan Uskup Delgarde guna menyelidiki fenomena itu dan dibantu Uskup Gyles.

Gerry Fenn (Jeffrey Dean Morgan), seorang jurnalis yang pernah melihat Alice dari dekat juga tertarik dan berhasil mewawancarainya secara eksklusif. Saat hendak wawancara, Alice memastikan bahwa hasilnya harus bisa disaksikan lebih banyak orang lagi karena perawan Maria yang menginginkan hal tersebut.  Be careful who you pray to. Begitulah tagline film ini.  Artinya: “Berhati-hatilah kepada siapa kamu berdoa”. Bisa saja sosok di balik penampakan itu bukanlah Perawan Maria melainkan roh jahat.

Beberapa adegan film menampakkan sosok setan yang muncul dari Patung Bunda Maria dan kekuatan jahat yang membakar salib gereja. Dalam wawancaranya, Alice mengatakan bahwa orang percaya karena melihat. Hal itu disampaikan untuk menanggapi orang-orang yang tidak percaya dengan mukjizat yang dilakukannya. Jurnalis tersebut juga mengikuti beberapa mukjizat yang dilakukan Alice. Tak lama setelah itu, semakin banyak orang yang datang meminta kesembuhan dari Alice. Mereka bahkan terlihat seperti menyembah Alice. Sikap skeptis muncul dalam diri Gerry Fenn, dan terus menelusuri setiap fenomena yang terjadi bahkan hingga “menggali” arsip lama Gereja itu. Ditemukan fakta bahwa dulu ada sebuah eksekusi seorang wanita yang dituduh melakukan sihir pada tahun 1845 di Banfield, Massachusetts. Namun sebelum dia meninggal, jiwanya terikat pada tubuh boneka.

Usai menyaksikan film dilanjutkan pendalaman dalam bentuk sharing dan tanya jawab. Perihal iblis bisa masuk ke dalam gereja padahal gereja tempat suci, Mgr Vitus menjelaskan di dalam kitab suci juga diceritakan bahwa di dalam tempat ibadat ada jemaat yang kerasukan (Markus 1:23). Artinya, sejak zaman Yesus roh jahat itu mencari mangsa, termasuk di tempat ibadah. Bukan berarti mengajak untuk tidak ke gereja,  melainkan tempat yang dianggap paling suci pun bisa bertemu dengan “si jahat” misalnya orang yang sombong.

Bapa Uskup menambahkan  pesan dari film ini adalah diperlukan sikap rendah hati untuk melawan si jahat. Di mana Tuhan pergi, di situ juga roh yang jahat mengikuti. Tidak mudah mendeteksi perbuatan roh jahat. Peristiwa-peristiwa yang tampaknya baik,  ternyata karya sijahat,  manusia pun bingung menelaahnya. Kebingungan ini dapat memecah belah, terutama bagi kaum muda yang masih minim pengalaman dan sering keliru menafsirkannya.

Senada dengan Bapa Uskup, Alexander Danny Winata salah satu peserta Nobar menemukan makna,  bahwa hal yang terlihat baik, belum tentu bersumber dari yang baik, tetapi setiap ada perpecahan di sana kuasa iblis sedang bekerja. Menurut Louis, film ini bagus karena alurnya susah ditebak dan mengasah pola pikir manusia tentang imannya. Perlu pendampingan orang yang bijak, jika film ini ditonton kalangan masyarakat luas khususnya yang pengetahuannya minim.  Film ini mengajarkannya bahwa Tuhan memilih orang yang sedang berdoa untuk mewartakan kebenarannya. Kebenaran Tuhan tidak memerlukan bukti,  melainkan keyakinan dan kepercayaan orang tersebut kepada Tuhan. Alexander dan Louis mengapresiasi kegiatan ini karena menjadi salah satu media untuk mengedukasi dan menyatukan OMK.   “Kegiatan seperti ini perlu dilanjutkan. Mungkin bisa dicari film tentang penyembah berhala oleh para awam, tetapi perlu dicerahkan (katekese) oleh imam (katekis),” kata Louis.

Koordinatr acara, Janice Felicia Calista mengaku senang kehadiran peserta dan partisipasi OMK Katedral Padang untuk persama-sama mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan ini. Janice berharap acara ini bisa membangun kebersamaan OMK Kota Padang. “Jarang ada event kumpul-kumpul OMK yang seperti ini. Semoga kita bisa saling mengenal sehingga ketika bertemu di luar lingkup Gereja, OMK tidak asing dan saling bertegur sapa.” katanya.

Sebelumnya, Komkep juga telah membuat acara serupa. Nobar film Soegija di Aula Seminari Maria Nirmala (Agustus 2022)  dan Nobar Film Exodus: Gods and Kings di Gedung Fasilitas Paroki St. Paulus, Pekanbaru (September 2022), Ketua Komkep Romo Alfons SX menyatakan bahwa “Nobar”  ini sebagai sarana berkatekese terutama bagi orang muda. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *