Gambaran secara umum di daerah Siambul, Talang Mamak, Riau. Ada masa pacaran bagi mereka sebelum masuk pernikahan. Hanya saja di stasi saya berbeda pacarannya dengan daerah lain. Harus diakui, di sini banyak kejadian pernikahan secara adat (gawai) terlebih dulu. Pernikahan secara agama untuk pencatatan sipil dilakukan setelah pernikahan secara adat. Mayoritas atau pada umumnya menikah secara adat terlebih dulu ketimbang secara agama.

Sekarang, pada umumnya, kaum muda yang mau menikah berusia di atas 18 tahun. Namun, tidak dipungkiri ada juga pernikahan mereka yang berumur di bawah usia 18 tahun. Mereka pun menjalani pernikahan secara adat terlebih dulu. Untuk mereka yang berumur di bawah 18 tahun, karena kejadian ‘tergawal’, yakni tertangkap basah berpacaran di tempat yang gelap.  Bagi mereka yang bermasalah seperti ini akan menjalani suatu proses dan melalui kajian serta musyawarah dua pihak (lelaki dan perempuan). Selanjutnya, dicarilah kesepakatan untuk dinikahkan, antara lain penentuan waktu pernikahan secara adat diselenggarakan. Hal ini (tergawal) banyak terjadi di kalangan anak muda, remaja tanggung; termasuk di kalangan orang muda Katolik. Kurangnya pengawasan orangtua, perkembangan pesat alat komunikasi modern, dan maraknya pergaulan bebas turut memengaruhi terjadinya tergawal.

Meski pernikahan dilangsungkan secara adat setempat, bukan berarti tidak ada persoalan mengenai perbedaan latar belakang agama yang dianut oleh sepasang anak muda yang ‘tergawal’. Terkadang, perbedaan agama juga menjadi suatu persoalan dan memunculkan perdebatan hangat. Maka, dalam situasi seperti itu, diambil upaya jalan keluarnya. Kalau perempuan dari Siambul tersangkut ‘tergawal’ tersebut, maka laki-lakinya ikut agama perempuan. Namun, kini hal itu tidak berlangsung demikian. Bahkan, pihak perempuan sudah mulai mengalah. Biasanya, pernikahan secara adat – yang dipimpin Pak Batin dan Pak Mangku – berlangsung dua hari. Kalau agak besar-besaran berlangsung tiga hari. Setelah pernikahan secara adat, pasangan tersebut sudah boleh tinggal serumah dan sah menjadi pasangan suami istri.

Sebenarnya, ada ‘pembekalan’ untuk membantu remaja maupun Orang Muda Katolik (OMK) menyiapkan diri pembentukan ruma tangga kelak. Pertemuan tahunan OMK separoki contohnya. Kegiatan tersebut berlangsung sebelum saya menjadi ketua stasi. Sekarang, periode ketiga saya jadi ketua stasi. Selain itu, bentuk pembinaan, pendampingan, dan pembekalan berupa Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) yang terpusat diselenggarakan di pusat paroki. Walaupun jauh jarak dari pusat paroki, namun peserta KPP asal stasi Siambul tetap datang mengikutinya. KPP berlangsung sesuai jadwal paroki. KPP diikuti peserta dari berbagai stasi selama dua hari penuh. Biasanya Sabtu dan Minggu. Di kesempatan tersebut, materi KPP berkaitan dengan berbagai persiapan bagi pasangan hidup yang seiman, perencanaan sebelum membentuk keluarga. Selain itu, mereka juga mendapat pembinaan dari pastor pendamping maupun katekis stasi di luar jadwal KPP. Pendampingan bagi calon keluarga muda lewat KPP di pusat paroki. Baru saja berlangsung (5-6 November 2022).

Sebenarnya, di kepengurusan Stasi Siambul terdapat seksi tersendiri yang menangani pendampingan keluarga (akan menikah dan telah menikah), yakni Seksi Kerasulan Keluarga. Hanya saja, di periode ketiga saya ini, seksi ini tidak beraktivitas karena personilnya tidak memahami perannya. Akibatnya, tidak ada kegiatan sama sekali. Padahal, pada periode sebelumnya saya sebagai ketua stasi ada aktivitas. Di periode pertama dan kedua, sempat dilakukan program/kegiatan penyuluhan pernikahan usia dini di stasi. Seksi Kerasulan Keluarga pada periode ketiga ini sempat mengeluhkan kesulitan mendapatkan nara sumber yang tepat.

Memang ada juga di antara orang muda Katolik yang berniat menikah berkonsultasi dengan saya, sebagai ketua stasi. Bagian dari pastoral juga, selain KPP yang bersifat lebih formil. Saya mengajak mereka berdialog, bercerita mengenai hidup berkeluarga. Memang, sempat terpikir dan kegelisahan saya: manalah cukup pembekalan hidup berumah tangga hanya dalam waktu dua hari KPP! Muncul ide adanya pembekalan pernikahan di usia muda. Saya pernah sampaikan dalam sermon wilayah dan seterusnya disampaikan kepada pastor paroki. Usai KPP, biasanya ada peserta yang segera melangsungkan pernikahan, ada pula setelah sekian lama.

Saya beranggapan pembekalan untuk calon suami-isteri sangat dibutuhkan untuk membentuk mahligai keluarga. Begitupun pendampingan bagi keluarga yang telah dibentuk, semacam pertemuan keluarga muda. Agar tetap harmonis dan terhindar dari pertengkaran. Telah dilaksanakan setahun silam (2021) di Stasi Siambul.  Saya ikut serta kegiatan satu hari tersebut. Saat itu, peserta didampingi Pastor Tri Mendro. Inti acara tersebut pentingnya kesadaran saling pengertian dan memikirkan masa depan anak. Ada kewajiban moral saya selepas kegiatan tersebut. Sebagai ketua stasi, saya dan keluarga harus mampu menjadi contoh bagi keluarga lainnya di stasi.  Saya menikahi Petri (33) dan kini dikaruniai dua anak lelaki.

Samuel Cundang
Ketua Stasi St. Antonius Padua Siambul, Paroki St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus Airmolek-Riau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *