Sambil berjalan-jalan di taman pastoran, Romo Kebet membuka smartphone miliknya. Romo Kebet mendapatkan kiriman kisah bijak dari sahabatnya.  

Alkisah, hiduplah seorang saudagar kaya, memiliki tiga orang putra. Ia memiliki cincin yang dianggapnya bertuah karena sejak menggunakannya keberuntungan & kesuksesan menghampirinya.

Di masa tua, saudagar itu bingung. Kalau cincin itu diwariskan kepada salah satu anaknya, dua anak yang lain akan iri. 

Sebagai solusi, saudagar itu pergi ke tukang cincin. Ia  meminta supaya cincin miliknya dilebur, kemudian dibuat menjadi tiga cincin yang serupa. Lalu saudagar itu memanggil ketiga anaknya. Saudagar itu meletakkan tiga cincin itu di atas nampan.  “Anak-anakku, siapa yang memakainya cincin ini akan beruntung dan sukses”. katanya.

Saudagar itu lalu mempersilakan anak-anaknya mengambil secara bergiliran dari yang sulung.  Ketiga anak saudagar itu pun patuh kepada ayahnya. 

Tak lama berselang, saudagar itu meninggal dunia.  Seiring berjalannya waktu, ketiga anak saudagar itu tahu bahwa hanya satu cincin yang asli, tetapi tidak tahu membedakan dengan yang tiruan.

Mereka lalu pergi ke seorang hakim yang bijaksana untuk mencari tahu mana cincin yang asli & meminta jalan keluar dan pembuktian.

Mereka bersepakat menemui hakim. “Maaf saya tidak dapat menolong kalian. Akan tetapi, saya punya cara untuk memastikan cincin yang asli.” Hakim itu meminta supaya ketiganya mengenakan cincin masing-masing. “Dari antara kalian yang bertindak bijaksana & bekerja dengan baik yang beruntung mendapatkan cincin yang asli”.

Ketiga anak saudagar itu bertekad untuk melaksanakan seperti yang dikatakan hakim itu. Mereka bekerja keras sehingga usahanya suskses. Mereka juga bermurah hati kepada sesama, pegawai dan bawahannya.  Mereka benar-benar berusaha membuktikan bahwa cincin yang asli sehingga membawa keberuntungan dan keberhasilan.

Waktu terus berjalan dan berlalu. Berkat kerja keras dan usaha tidak kenal lelah, sukses demi sukses mereka raih bersama. Akhirnya merekapun sadar & mengerti bahwa bukan cincin yang membuat mereka sukses, melainkan usaha dan kerja keras mereka.  Mereka pun sadar bahwa ayahnya telah bertindak bijaksana.

Romo Kebet membalas kiriman cerita dengan pesan pendek:  “Bukan sesuatu di luar diri yang membuat sukses atau beruntung. Bukan jimat! Keuletan, kerja keras, kerja cerdas, doa dan syukur yang membuat kita merasa beruntung”. (ws)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *