Kami menikah tahun 2016. Sebulan sebelumnya, kami wajib mengikuti Kurus Persiapan Perkawinan (KPP) di paroki. Materi dalam KPP sangat membantu  kami sebagai pasangan muda Katolik untuk mengerti perihal ajaran Gereja Katolik dalam berumah tangga termasuk hukum kanonik. Menurut saya, KPP juga memberikan pendewasaan pada calon pasutri dengan pengetahuan seputar hukum dan dinamika dalam perkawinan (komunikasi, ekonomi rumah tangga, Keluarga Berencana, dan lain-lain).

Saya melihat kelemahan KPP di Paroki St. Fransiskus Xaverius Dumai, tidak sebanding antara waktu dan materi yang diberikan. KPP dilaksanakan Sabtu (sore) hingga Minggu (sore/malam). Durasi waktunya terlalu singkat, seperti mengejar semua materi harus tersampaikan. Saya merasa bisa menangkap materi yang diberikan tersebut. Kesan saya, ada pasangan lain yang terkesan mengikuti KPP sekedar formalitas untuk mendapatkan sertifikat. Kesan banyak peserrta kurang proaktif selama KPP. Salah satu indikasinya, saat fasilitator membuka sesi tanya jawab atau berbagi pengalaman, kebanyak peserta pasif atau diam saja. Bagi saya aneh. Mengapa? Karena semua orang dewasa; disuruh bertanya diam, ditanya juga diam – tidak menjawab.

Menilik materi yang disampaikan dalam amatlah penting untuk bekal berkeluarga. Contohnya  materi tentang menyelaraskan peran penting suami dan istri dalam rumah tangga. Setelah menikah dan menjalani bahtera rumah tangga ternyata berguna bagi saya. Saya tipikal orang yang memiliki kecenderungan kalau melakukan pekerjaan lebih memilih melakukannya sendiri,  karena tidak mau merepotkan orang lain. Dalam KPP diajarkan tentang membangun komunikasi dengan pasangan. Untuk membangun komunikasi, meskipun bisa melakukannya sendiri, bisa meminta bantuan pasangan dengan mengatakan, “Tolong…..” atau “Maukah……?”

Materi lain, yaitu: moral dan hukum perkawinan (Gereja dan Sipil), mengatur keuangan/ekonomi rumah tangga (ERT), komunikasi antarpasangan, dan kepribadian pasangan sangat bagus dan berguna. Dari materi tentang moral dan hokum perkawinan Gereja, baru saya tahu bahwa status hukum pernikahan Katolik sangatlah sakral (suci), sehingga membuat kami berdua berpikir dua kali untuk berbuat sesuatu yang buruk atau menyimpang dari moral atau hokum perkawinan.

Sebagai bagian dari reksa pastoral Gereja, KPP adalah upaya preventif yang dilakukan Gereja, untuk melindungi warga jemaatnya dari resiko buruk dalam berumah tangga. KPP adalah pembekalan bagi calon pasangan supaya memiliki pengetahuan dan pemahaman cukup akan makna dan tujuan perkawinan.  KPP bagian dari proses lanjut masa pengenalan antarpasangan. Salah satu penyebab timbulnya masalah berujung pada perpecehaan rumah tangga  adalah pemahaman yang minim dari pasangan. Pemahaman yang minim pasutri ini akan menjadi tantangan pasutri saat menjalani bahtera rumah tangga, akan cenderung mengambil jalan pintas dalam memutuskan sesuatu.

Usia terlalu muda bisa membuat ego pribadi berapi-api dan belum bijak menyikapinya. Suami atau istri mengutamakan ego diri sendiri tanpa mempedulikan pasangan atau lingkungan yang ada disekitar. Hal ini bisa berimbas saat mengambil keputusan. KPP sebagai cara untuk membekali pasangan, untuk menghindari resiko buruk setelah berumah tangga.

Saya masih pertanyaan pasutri fasilitator:  “Anda sudah mengenal pribadi pasanganmu?” Waktu saya belum bisa menjawab seperti yang diharapkan.  Jawaban saya, karena masa berpacaran hal-hal positif saja yang tampak, sedangkan yang jeleknya tidak disebut. Memang, saat KPP pasangan muda masih “jaim” (jaga image) masing-masing. Idealnya saat pacaran inilah semua kelebihan dan kekurangan pasangan diketahui. Pertanyaannya: “Siapkah menerima kekurangannya?” Di usia enam tahun pernikahan,  saya terus belajar menerima kekurangan pasangan. Begitupun istri,  terus belajar menerima kekurangan saya. Pertengkaran kecil, beda pendapat di antara kami sering terjadi. Saat di antara kami marah, salah satu harus ada yang berkepala dingin (mengalah). Saya termasuk orang yang temperamental. Tetapi setelah marah,  saya langsung introspeksi diri bahwa tindakan itu salah. Introspeksi diri damn minta maaf inilah yang sangat penting dilakukan. Apalagi setelah memiliki anak;  anak takut ketika orangtuanya marah. Oleh sebab itu, meski berdebat siangnya, malamnya kami bisa saling bercanda. Saya mulai mengganggu-ngganggu dan bergurau dengan istri supaya hubungan tetap harmonis dan terjaga. Istri saya sangat memahami, ketika saya sedang marah. Usia istri lima  tahun lebih muda dari saya, tetapi lebih dewasa dalam bersikap. Sebagai pasutri kami saling melengkapi. Menerima kelebihan dan kekurangan.

Roki Marpaung, S. Kom.
Pembina OMK Paroki St. Fransiskus Xaverius Dumai, Narahubung
Jaringan Komunikasi (Jarkom) Komisi Kepemudaan Keuskupan Padang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *