PEKA TERHADAP TANDA

HARI MINGGU ADVEN IV (18 Desember 2022)
Yes 7:10-14; Mzm. 24:1-2, 3-4ab, 5-6;
Rm. 1:1-7; Mat. 1:18 – 24

SAAT mengawali perjalanan, seorang sopir merasakan ada yang kurang dari mobil yang dikemudikannya. Ia merasa, laju roda tidak stabil karena ukuran tekanan angin pada keempat ban rodanya tidak sama. Sopir ini memaksa laju kendaraan, meski ia tahu ada yang tidak beres dari mobilnya. Akibatnya, dalam kecepatan tinggi di tikungan, laju mobil oleng tak terkendali. Kecelakaan menimpa sopir itu. Mobil rusak di beberapa bagian.

Dalam hidup ini akan selalu ada dan melihat tanda untuk mengingatkan kita harus melakukan sesuatu. Jika mengabaikan pertanda tersebut tanpa melakukan apa-apa, kita akan rugi. Seperti dalam kisah di atas, tanda-tandanya begitu jelas, tetapi karena si sopir tidak menghiraukannya, celakalah dia. Karena itu, ketika ada pertanda muncul, kita harus berpikir bagaimana cara meresponnya.

Bacaan dari Kitab Nabi Yesaya hari ini mengisahkan raja Ahas yang rugi karena mengabaikan tanda yang diberikan nabi Yesaya. Tanda itu adalah tanda keselamatan berkaitan dengan keselamatan seluruh negara, tetapi raja Ahas tetap tidak mau menerimanya. Akhirnya Ahas dikalahkan oleh Asyur, negara yang diinginkan menjadi sekutunya. Nabi Yesaya sudah memperingatkan Raja Ahas supaya meminta suatu pertanda dari Tuhan, tetapi raja menolaknya.

Yesaya menyatakan suatu pertanda bahwa ada Imanuel yang akan membuat negaranya bangkit, tapi raja tetap menolak pertanda keselamatan ini. Mengapa Ahas menolak? Karena Raja Ahas mengandalkan kekuatan sendiri untuk menghadapi musuh. Allah pun memakai bangsa Asyur untuk menghukum raja Ahas. Jika raja Ahas mau menerima tanda keselamatan ini, akan dapat menikmati kasih karunia, tetapi karena raja Ahas menolak tanda ini, maka bencana menimpa dirinya.

Puji syukur kepada Tuhan! sekarang kita telah memperoleh Imanuel, Allah Beserta Kita, yakni Yesus Kristus. Tanda yang membawa kepada pengharapan dan keselamatan telah digenapi. Dengan percaya dan menerima Yesus menjadi Juru Selamat akan memberikan pengharapan kekal – kehidupan kekal. Kalau seseorang menerima tanda ini, akan menjadi berkat bagi dirinya; sebaliknya kalau tidak menerimanya, akan menjadi bencana – binasa. Karena itu, kita harus bersyukur kepada Tuhan, karena beroleh kasih karunia bukan hanya untuk menerima-Nya, tetapi juga untuk menikmatinya.

Perayaan Natal tinggal menghitung hari. Bagaimana sikap menghadapi Natal? Kita sebagai kumpulan orang yang beroleh kasih karunia harus merenungkan kembali karya besar keselamatan yang telah Allah genapi di dalam hidup kita. Tanda kasih karunia ini telah digenapi. Hal ini bukan untuk diketahui saja, tetapi bagaimana kita mempercayai kasih karunia ini dan melaksanakannya di dalam hidup.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yusuf yang berani mengambil keputusan dan melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Yusuf menikahi Maria apa pun resikonya. Dalam adat istiadat Yahudi, pertunangan itu diketahui oleh umum dan sudah dikenal sebagai suami-istri, namun belum boleh hidup serumah atau hidup bersama sebagai suami-istri. Yusuf sangat terkejut, ternyata Maria sedang mengandung. Allah menyapa Yusuf melalui malaikat yang datang dalam mimpinya dan menyampaikan bahwa Maria tunangannya itu mengandung dari Roh Kudus. Keterbukaan Yusuf kepada bimbingan Roh Kudus membuatnya berani mengambil resiko menjalankan tugas perutusannya. Yusuf berani mengambil keputusan dan bersedia menanggung segala resiko yang pasti tidak mudah. Keteladanan Yusuf hendak menginspirasi kita untuk mendengarkan, menangkap, dan melaksanakan yang dikehendaki Tuhan dalam hidup masing-masing. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *