Salam belas kasih,
Saudari dan saudara yang budiman, umat se-keuskupan Padang dan para pembaca Gema yang dikasihi Tuhan, Keuskupan Padang pada tahun ini sebagai kelanjutan dari proses bersinode lokal, mau memberi perhatian kepada Keluarga sebagai Gereja Rumah Tangga. Kiranya bulan Desember ini menjadi kesempatan untuk merealisasikan program dan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan pembinaan keluarga-keluarga ini. Keluarga dewasa ini mempunyai segala macam bentuk dan ukuran. Satu hal yang pasti: memelihara keluarga yang kuat membutuhkan banyak waktu, tenaga dan usaha, dan tentu saja segudang doa! Melihat diri kita sendiri melalui mata iman kita, kita menyadari bahwa, meskipun kita tidak selalu menjadi keluarga yang sempurna setiap hari, kita menjadi “lebih suci” dan “lebih baik” dari yang kita pikir. Barangkali kesadaran itu lebih mudah muncul bagi keluarga-keluarga yang sudah menjalani bahtera rumah tangganya cukup lama. Namun, bagi keluarga-keluarga muda, khususnya mereka yang berani memutuskan menikah di tengah masa pandemik yang baru berlalu ini, rasa-rasanya setiap hari adalah satu perjuangan di hadapan ketidakpastian! Ada sepuluh tips yang mungkin dapat menjadi bahan pemikiran bagi pastoral keluarga muda.

Membuat Hari Minggu Menjadi Pusat Kegiatan Keluarga

Dasar kuat hidup keluarga Katolik adalah Kebaktian hari Minggu. Pergi  merayakan Ekaristi bersama tiap hari Minggu setimpal dengan usaha yang dikeluarkan: ketika kita mendekati altar Tuhan untuk mendengarkan Sabda Tuhan dan menyambut Ekaristi, berbagi Tubuh dan Darah Kristus, memperdalam komunio kita dengan-Nya dan dengan Gereja-Nya; ketika kita berdoa bersama dan menyanyi lagu gereja dan belajar bagaimana suara kita bergabung bersama seiring keheningan dan doa, pada hari Minggu itu kita diingatkan bahwa pusat kehidupan keluarga kita adalah Kristus.

Kemampuan untuk Bersyukur

Kunci untuk keluarga bahagia adalah mengambil peran dari apa yang diberikan kepada kita. Penting mengingat juga dalam pendidikan iman anak bahwa semua itu berasal dari Tuhan: harta benda, teman dan keluarga, bakat. “Jika seseorang tidak bersyukur terhadap apa yang ia punyai, ia tidak akan pernah bersyukur terhadap apa yang akan ia dapatkan.” (Frank A. Clark) Keluarga Katolik yang hebat merayakan pemberian, tidak peduli seberapa kecil itu.

Kesediaan untuk Memberi

Wujud dari rasa bersyukur adalah kesediaan memberi. Keluarga Katolik ingat bahwa Tuhan tidak memberi lebih untuk menjadikan kita tamak. Keluarga Katolik yang diberkati dengan berlimpah, dipanggil untuk menggunakan kelimpahannya itu bagi keluarga yang kekurangan. Anak-anak yang melihat orang tuanya memberi, akan mengikuti jejak orang tuanya – walaupun apa yang mereka berikan jauh lebih sedikit dari yang diberikan orang tuanya.

Biarkan Cahaya Mereka Bersinar

Setiap anggota keluarga dipanggil untuk menggunakan karunia mereka: tidak perlu menjadi juara nyanyi atau ahli musik untuk menjadi anggota paduan suara di gereja; dengan berani membaca Alkitab secara hidup pun, kita sudah berbagi karunia. Kaum muda dan dewasa saling membantu melalui program paroki: saling menyemangati anggota keluarga yang lain untuk membagikan karunia mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Bertengkar dengan Adil

Kenyataannya, semua keluarga mempunyai masalah dan kita harus menghadapinya. Tidak menjual saudara sendiri ke perbudakan seperti yang saudara-saudara Yusuf lakukan adalah permulaan yang baik. Bahkan “bertengkar” pun mempunyai aturannya. Keluarga yang “bertengkar dengan baik” mungkin lebih bisa bertahan daripada keluarga yang tidak pernah bertengkar karena semua diam membisu. Keluarga Katolik yang ideal mampu memahami watak masing-masing anggotanya, menghormati kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan selalu ingat bahwa halangan membuat kita menjadi lebih kuat.

Membuat Kesalahan

Sebagai orang Katolik, kita percaya bahwa kita diciptakan sesuai rupa Allah. Namun semakin tua, kita semakin sadar bahwa kita begitu manusiawi. Kita sering saling menjatuhkan, sering gagal dan berdosa. Untuk tumbuh sebagai pribadi dan keluarga, kita belajar bahwa ada batas yang besar antara kesalahan dan pembuat kesalahan. Tuhan tidak pernah berbuat salah. Kita semua punya martabat, dan istimewa di mata Tuhan.

Memaafkan

Memaafkan anggota keluarga dapat sangat sulit untuk dilakukan, karena memaafkan memerlukan aksi iman kepercayaan dan harapan, kemampuan untuk melihat yang positif di tengah hal-hal yang negatif. Ketika orang tua, anak atau saudara meminta maaf, ampunilah mereka karena tidak ada perasaan yang lebih indah selain memaafkan dengan tulus, mencoba dengan hati lebih bersih dan mencoba dari awal lagi.

Mendengarkan saat untuk Tuhan

Seperti pengalaman nabi Elia dalam Kitab Pertama Raja-Raja 19:11-13, demikianlah cara Tuhan berbicara kepada kita pada hari ini di tengah kesibukan keluarga kita. Yang penting adalah berhenti dan menyadari saat bersama Tuhan, mungkin di tempat tidur atau di mobil, ketika kita benar-benar berbagi diri kita dengan yang lain dan menyadari kehadiran yang lain dengan tulus: Meredakan kebisingan kehidupan dan memberikan waktu untuk hadir dalam kedamaian.

Mengingat Ritual

Ritual keluarga atau tradisi membantu kita untuk menemukan siapa kita dan apa yang kita percaya. Berdoa sebelum makan, menyalakan lilin saat Adven, menyanyi lagu ulang tahun secara khusus adalah semua cara istimewa yang menunjukkan ikatan kuat dalam keluarga. Tradisi terbaik dalam keluarga akan diteruskan dari generasi ke generasi.

Cinta yang Tak Berkesudahan

Dalam Perjanjian Baru Yohanes, Yesus memberikan perintah baru kepada murid-muridNya sebagai dasar hidup mereka (Yoh 13:34). Kita dipanggil untuk menjadi model Yesus untuk mencintai – dalam pelayanan satu sama lain. Tidaklah mudah untuk dilakukan, tetapi mencoba mencintai seperi apa yang dilakukan Yesus adalah hati dari pembentukan dan pemeliharaan keluarga Katolik yang hebat.

Akhir kata, sudah lazim bahwa bulan Desember dengan Perayaan Natal sebagai puncaknya senantiasa membawa perhatian kita kepada keluarga. Liburan di tengah keluarga sembari merayakan kelahiran Sang Juru Selamat dan menyambut malam Tahun Baru tentu merupakan suasana yang dirindukan oleh kebanyakan umat Katolik. Selamat Natal dan Tahun Baru untuk kita semua. Tuhan memberkati seluruh keluarga kita.

† Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *